JANGAN SEMBARANGAN HARAMKAN VAKSIN I Catatan Syafiq Hasyim

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa kembali dengan Catatan Syafiq Hasyim.

Setelah ada kabar kemungkinan vaksin Covid-19 ditemukan, maka kabar penolakan vaksin itu juga mulai terdengar. Tanda-tanda itu sudah mulai ada di kalangan masyarakat kita dan permasalahan utamanya berada di sekitar, apakah umat Islam dibolehkan menggunakan produk vaksin tersebut?

Pertanyaan ini muncul terutama karena mereka menduga bahwa vaksin Covid-19 disangkakan menggunakan bahan “pembantu” yang berasal dari barang non-halal. Bahan pembantu ini biasanya dibuat atau diambil dari gelatin dan gelatin ini dikembangkan dari enzim non-halal.

Beberapa waktu lalu ketika virus Rubella mengancam kita, banyak dari kalangan kita yang menolak karena alasan ini. Demikian juga dengan vaksin Meningitis, mereka juga menolak dengan alasan yang sama. Jika masyarakat kita dijejali informasi yang kurang dalam tentang halal-haram, maka mereka dengan mudah memakannya.

Bukan hanya persoalan asal-usul barang vaksin, para penolak vaksin juga memiliki pemikiran yang konspiratif, bahwa vaksin itu dianggap sebagai jalan dan strategi lawan untuk melumpuhkan umat Islam. Cina, Amerika, Eropa, dlsb, memproduksi vaksin itu untuk menguasai umat Islam, bukan untuk menyelamatkan manusia. Dengan vaksin itu, tubuh orang Islam dimasuki bahan agar mereka lemah dan tunduk pada mereka. Cina, dengan bakal vaksin Covid-19 yang diujikan di Indonesia banyak diserang dengan alasan ini, salah satu alat serangnya adalah alasan yang saya kemukakan di atas.

Gabungan antara pikiran menolak vaksin atas nama agama dan pemikiran konspirasi adalah hal yang selalu muncul di tengah-tengah kita. Kalangan yang memiliki pandangan keagamaan tertutup dan taklid kepada murabbi-murabbi mereka, biasanya sensitif menolak vaksin karena alasan yang demikian di atas. Mereka tidak berusaha untuk memikirkan masalah pentingnya penemuan vaksin untuk menyelamatkan kehidupan manusia (hifz al-hayat) yang menjadi salah satu tujuan utama syariah. Tapi mereka sibuk dengan pemikiran yang konspiratif tadi.

Untuk para penolak vaksin karena diduga ada unsur non-halal di dalamnya, maka saya katakan bahwa persoalan halal dan haram itu tidak persoalan hitam-putih dalam teori dan praktiknya. Ada dua madzhab penting dalam penentuan penggunaan barang yang tadinya haram untuk menjadi bahan bantu pembuat vaksin. Pertama adalah madzhab Imam Syafii yang dikenal sangat ketat dengan masalah halal dan haram. Menurut pendapat madzhab Syafii apapun produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, dlsb, yang memanfaatkan barang haram, maka hukumnya tidak diperbolehkan dikonsumsi.

Umat Islam Indonesia adalah penganut madzhab Syafii. Namun untuk masalah yang jika itu penting dan darurat, menyangkut penyelamatan nyawa manusia, maka madzhab Syafii pun memiliki jalan keluarnya. Untuk kepentingan darurat vaksin yang kemungkinan ada unsur non-halal di dalamnya tetap dibolehkan untuk digunakan.

Syaratnya adalah memang belum ada vaksin halal dan juga ada upaya untuk membuat vaksin halal di atas. MUI menganut paham ini dan untuk beberapa kasus yang genting seperti soal vaksin Rubella itu jelas terlihat.

Meskipun demikian, masih ada sebagian kelompok yang tetap tidak mau memakai vaksin di atas, apapun penjelasan yang sudah diberikan. Mereka tetap memakai logika “pokoknya”, pokoknya kalau vaksin itu tidak diproduksi oleh ahli Islam mereka tetap akan menolaknya.

Kedua, madzhab Imam Hanafi, di mana yang dilihat lebih utama adalah bukan pada asal-usul barang yang diambil manfaatnya untuk mengembangkan sebuah vaksin, namun dilihat hasil akhirnya. Apakah pada hasil akhirnya suatu barang itu masih dideteksi unsur non-halalnya atau tidak hilang sama sekali. Jika di awal proses, katakanlah, menggunakan unsur non-halal untuk membuat obat, vaksin atau barang konsumsi yang lainnya, namun jika di ujung hasilnya tidak ada indikasi haramnya (‘ainiyyah) melalui proses laboratorium atau proses yang lainnya, investigasi, maka hasil akhirnyalah yang dihukumi tersebut.

Kalau hasil akhir halal ya menjadi halal, kalau hasil akhir haram ya menjadi haram. Sebagaimana yang saya katakan di atas, bahwa para penolak vaksin menolak seluruh jenis vaksin karena masih dominannya di dalam vaksin yang diproduksi di dunia ini yang menggunakan gelatin yang diekstrak dari non-halal. Namun, banyak dari kita yang tidak tahu bahwa hasil akhir dari produk yang memakai gelatin ini sudah tidak terdeteksi adanya unsur non-halal di dalamnya.

Kita masih ingat kan perdebatan Gus Dur dan MUI pada tahun 2000-an tentang Ajonimoto. Gus Dur melihat Ajinomoto sebagai produk yang halal adanya, sementara MUI melihat bahwa Ajinomoto tetap barang yang haram. Perdebatan Gus Dur dan MUI adalah mewakili perdebatan antara madzhab Syafii dan madzhab Hanafi. Bagi awam yang tidak suka berpikir dalam dan detail, maka mereka senangnya langsung jatuh pada klaim ini dan itu, terutama pada posisi Gus Dur, tanpa mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di dalam perspektif hukum Islam.

Perdebatan halal-haram akan datang lagi pada saat vaksin Covid-19 sudah resmi ditemukan. Sikap kita terhadap perdebatan ini sebaiknya adalah mengutamakan kepentingan nyawa manusia, karena hal inilah yang dianjurkan oleh syariah dan agama kita.

Mempertahankan kehidupan adalah hal yang sangat urgen dan paling penting dalam kehidupan kita. Karenanya, jika memang vaksin Covid-19 ini ditemukan, maka sikap kita sebaiknya adalah menerima vaksin tersebut. Secara hukum agama, ada dua jalan yang tersedia untuk tetap dibolehkannya menggunakan vaksin di atas. Pertama adalah jalan darurat, di mana menurut jalan ini siapa saja yang dihadapkan pada keadaan darurat antara mati tidak menggunakan vaksin atau hidup karena menggunakan vaksin, maka pilihan mereka adalah menggunakan vaksin di atas.

Banyak dalil yang bisa dijadikan sebagai patokan di sini. Kedua, jalan Gusdur, jalan yang pernah ditempuh oleh Gus Dur bahwa jika vaksin Covid-19 masih memakai, misalnya gelatin yang dikeluarkan dari unsur hewani non-halal, maka lihatlah pada hasil akhirnya. Jika pada hasil akhirnya, karena proses kimiawi yang terjadi misalnya, memang bersih dari unsur non-halal, maka memakai vaksin tersebut sangat dibolehkan. Perubahan dari non-halal ke halal karena terjadinya proses tertentu disebut dengan istilah “istihalah” dalam bidang ilmu fikih.

Sebagai catatan, banyak orang dari kita yang bicara soal halal-haram, namun bicara sesuai dengan pikiran mereka. Mereka tidak tahu jika penentuan halal dan haram itu bukan persoalan hitam-putih, namun banyak hal yang harus kita ketahui kenapa akhirnya sesuatu itu disebut halal dan sesuatu itu disebut haram.

Demikian dari saya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar