MENTERI LELET, RESHUFFLE AJA! I Channel Eko Kuntadhi

Beberapa kali Presiden Jokowi berbicara agak keras ketika rapat kabinet. Sepertinya ia agak kecewa dengan kinerja menteri-menterinya. Salah satu kekecewaan karena serapan anggaran yang rendah banget. Misalnya anggaran penanganan Covid-19 dari Rp695 triliun, yang baru terserap cuma 19 koma sekian persen doang.

Gua sih, memahami kegundahan Presiden. Saat kondisi sedang babak belur begini, belanja Pemerintah itu memang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi. Budget yang cair ke masyarakat berfungsi seperti bahan bakar yang akan menggerakkan mesin.

Kekecewaan Jokowi itu beralasan, sekarang aja katanya 40% anggaran bahkan belum ada daftar isian proyeknya. Lo bayangin, DIPA saja belum ada, gimana mau realisasi?

Pada kesempatan lain, juga di acara rapat kabinet, Presiden Jokowi komplainnya lain lagi. Ia protes, sepertinya para menteri itu gak peka keadaan. Kondisi kita ini sedang menjelang krisis, tetapi cara kerja para menteri dan pembantunya masih menggunakan pola-pola yang lama. Disentilnya gini, work from home malah kesannya kayak cuti, itu kata Presiden.

Kita tahu, bukan hanya Indonesia yang didera kondisi seperti ini. Seluruh dunia juga mengalami problem yang sama, menjelang krisis ekonomi. Jika Pemerintah tidak mengambil langkah yang tepat, kita akan terlilit masalah di kemudian hari. Ini benar-benar lampu kuning buat Indonesia.

Kondisi saat ini ibarat menjelang badai, tapi para kelasinya, para anak buah kapal masih santai-santai aja di geladak. Nanti kalau badainya keburu menerjang, baru mereka kelabakan. Biasanya sih sudah telat.

Gue rasa sih kekecewaan Presiden sudah gak cukup lagi disinyalkan dengan marah-marah di sidang kabinet. Perlu ada langkah konkret. Kalau memang harus reshuffle ya lakukan. Menteri-menteri yang gak perform ya dicopot saja. Mungkin tepatnya bukan gak perform, tetapi cara kerjanya yang gak cocok menghadapi krisis.

Tapi reshuffle tuh memang bukan perkara mudah. Reshuffle dalam sistem politik Indonesia saat ini, seperti hajatan besar. Kondisi ini akan menarik banyak pemain ikut cawe-cawe memanfaatkan peluang. Apalagi ini kan masa jabatan keduanya Jokowi.

Kita tahu dong karena konstitusi kita hanya mengizinkan seorang Presiden menjabat dua periode, jadi risikonya pada periode kedua, powernya itu makin menurun. Wajar sih, karena kan gak menjabat lagi nanti. Kan peluangnya udah gak ada.

Lo tau kan di AS, Presidennya juga maksimal dua periode, nah biasanya pada saat presiden menjabat pada periode kedua, dikenal dengan istilah kutukan periode kedua. Biasanya tuh dukungan politik berkurang. Partai-partai yang tadinya mendukung malah pasang kuda-kuda sendiri untuk mencari patron baru.

Kita juga pernah merasakan terjadi di era periode kedua Presiden SBY. Saat periode itu, serangan pada Presiden SBY bukan hanya dari oposisi. Juga dari tubuh koalisinya sendiri. Ingat dong kasus Century meledak pada periode kedua SBY.

Sekali lagi sebab pada periode kedua, grafik power Presiden itu menurun. Terus menurun sampai masa jabatannya berakhir. Sementara power parpol malah meningkat. Sebab nanti ketika ada pemilihan presiden kan semua kandidat membutuhkan rekomendasi partai.

Jadi balik lagi ke reshuffle, meski dibutuhkan, tapi memang bukan perkara gampang. Presiden harus memberi sinyal dulu ke publik dengan marah-marah di depan sidang kabinet. Ia harus mengkondisikan suasana dulu bahwa timnya yang sekarang ada penting untuk dirombak, sekaligus untuk menjawab menghadapi krisis.

Sampai saat ini sih, manuver politik dari parpol ya belum terlalu keliatan. Mereka pasti pasang kuda-kuda juga sih. Tapi relatif gerakannya ya masih kelihatan lebih softlah.

Yang justru kentara adalah manuver dari orang-orang di pinggir lapangan. Lo inget dong kemarin itu Din Syamdudin, Rocky Gerung, Said Didu bikin aliansi, ya, gue sih membacanya ini dalam rangka merespon kondisi kita saat ini.

Mereka tahu, dunia sedang krisis. Mereka tahu juga, mau tidak mau Indonesia juga akan terkena imbasnya. Mereka tahu, Presiden butuh mengganti kabinetnya. Mereka juga pasti tahu, itu artinya ada sedikit keriuhan politik. Jadi mereka mau menunggangi keriuhan itu. Nah, di keriuhan itulah mereka mau berselancar. Maklum, isinya kan kebanyakan para bekas pejabat pecatan. Kalau gak beraksi sekarang, kapan lagi. Mereka mungkin gak akan dapat apa-apa lagi ke depan.

Tapi, gue sih berharap Presiden Jokowi gak usah mikirin ulah para pecatan itu deh. Biarkan saja mereka ngamen sendiri. Bersuara sendiri. Kalau ada recehan, ya kasih. Kalau gak ada duit receh ya cukup lambaikan tangan. Maaf aja ya… kan gampang.

Kalau kita kembali pada isu reshuffle, secara obyektif, isi kabinet sekarang memang perlu dirombak. Kita obyektif aja, bukan untuk rekomposisi bagi-bagi kursi ke partai. Tetapi karena kita sedang menghadapi tantangan besar. Kita sedang memasuki turbulensi yang luar biasa. Indonesia butuh orang-orang yang luar biasa agar bisa menghadapi krisis.

Jadi, Pak Jokowi yakin saja. Kami masih percaya, anda bisa membawa bangsa ini menghadapi krisis yang membayang di depan mata. Jika diperlukan mengganti para menteri, ganti. Lakukan reshuffle. Maju terus dan yakinlah.

Di saat seperti ini, kami hanya ingin meyakinkan, bahwa dukungan kami gak akan berkurang. Sama seperti saat kami mendukungmu di periode pertama dulu.

Ayo Pak Jokowi. Lakukan sesuatu. Ambil keputusan. Saat ini kami membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tegas, karena kami menghadapi gelombang yang dahsyat. Pimpin kami mengarungi badai krisis ini. Yakin saja rakyat Indonesia masih tetap di belakang Pak Jokowi. Kita juga berdiri di belakang Pak Jokowi.

Gua sih cuma ngajak kita semua berpikir, kesimpulannya ya terserah lo.

 

Komentar