KEBOHONGAN DEMI KEBOHONGAN DALAM KAMPANYE KHILAFAH | Logika Ade Armando

Kampanye Khilafah di Indonesia ini memang memalukan. Mereka rela berbohong, bahkan mencatut nama ilmuwan asing terkemuka, Profesor Peter Carey, sejarawan terkemuka di Universitas Oxford, Inggris.

Mereka membelokkan fakta sehingga seolah-olah Carey membenarkan pandangan bahwa Islam di wilayah Nusantara sejak dulu adalah bagian khilafah Islam

Carey sangat terkenal sebagai ahli sejarah Jawa. Jadi kata-katanya akan dianggap valid.
Kalau Carey bilang bahwa Islam di Indonesia sejak berabad yang lalu memang adalah bagian dari Khilafah, banyak ilmuwan akan menganggap itu sebagai kebenaran.

Dan plintiran itulah yang sekarang dilakukan para pengusung Khilafah di Indonesia. Sayangnya kebohongan semacam itu dengan mudah terbongkar.

Beberapa hari yang lalu, melalui asisten penelitinya, Carey menyatakan namanya dicatut dalam acara launching film berjudul Jejak Khalifah.

Ada dua hal yang dia protes. Pertama dalam poster acara launching yang diselenggarakan dalam fotmat talkshow itu tertulis bahwa Carey menjadi tamu khusus dalam acara peluncuran Jejak Khalifah. Itu bohong.

Dalam talkshow itu memang ada penayangan cuplikan video yang menampilkan Carey sedang bicara tentang sejarah Jawa. Tapi dia sendiri tidak hadir dalam acara itu.

Carey menyatakan ia memang pernah diwawancara oleh pembuat film jejak Khilafah. Tapi itu dilakukannya dalam rangka menjelaskan sejarah pangeran Diponegoro, bukan dalam rangka pembuatan film tentang Khilafah.

Kebohongan kedua adalah pernyataan Carey dalam video tersebut telah diedit sedemikian rupa sehingga ia seolah-olah setuju dengan gagasan yang hendak disampaikan film tersebut, yakni Islam Nusantara adalah bagian dari Khilafah.

Carey justru punya pandangan sepenuhnya berbeda. Menurut Carey, Islam di Nusantara tidak pernah menjadi bagian dari Khilafah. Bahkan Khalifah Turki Utsmani tidak tahu dan tidak peduli dengan Jawa.

Ini ironis. Para pejuang Khilafah katanya sedang memperjuangkan sistem politik yang melandaskan diri pada niai-nilai Islam. Kok sekarang mereka malah mencatut nama orang? Kok berbohong?

Tapi mungkin memang begitulah para pejuang khilafah.

Bagi mereka, tujuan menghalalkan cara. Tapi supaya tidak bingung, mari kita mulai dengan membahas film Jejak Khilafah itu sendiri. Ini adalah sebuah film yang diproduksi sebuah channel Youtube bernama Khilafah Channel.

Film Jejak Khalifah ini berseri. Tiga episode. Episode pertamanya baru akan diluncurkan pada 20 Agustus. Sekarang baru ada trailernya. Tapi kita sudah bisa menduga arahnya ke mana kalau kita melihat siapa pembuatnya.

Anda bisa membuka kanal Khilafah Channel di Youtube. Kesan saya, pembuatnya adalah orang-orang HTI. Di kanal itu ada sejumlah video yang menampilkan Sekjen HTI, ismail Yusanto. Juga aktivis HTI yang populer karena antara lain kemualafan dan ketionghoaannya, Felix Siauw. Jadi pasti HTI banget.

Dalam talkshow launching yang dipandu Felix Siauw, isi film dibicarakan dengan cukup mendalam. Film ini berusaha mengarahkan kesimpulan penonton bahwa kerajaan-kerajaan islam di Nusantara di abad-abad lampau sebenarnya sudah memiliki hubungan erat dengan dan bahkan menjadi bagian dari Khilafah yang berpusat di Timur Tengah dan Turki.

Film ini hendak membuat umat islam percaya bahwa konsep Khilafah bukanlah sesuatu yang asing di wilayah Nusantara.

Seperti diketahui, pemimpin Islam pasca meninggalnya Nabi Muhammad yang wafat pada abad ke awal abad 8, dianggap sebagai Khalifah. Setelah era empat sahabat – Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali – dunia islam dipimpin oleh tiga dinasti khalifah yang wilayah kekuasaannya meluas melampaui Arab: Muawiyah, Abbasiyah dan Usmaniyah.

Selama ini, umumnya para sejarawan ketika bicara tentang Khalifah-khalifah besar itu, tidak menyebut daerah Asia tenggara sebagai bagian dari kekuasaan Khalifah tersebut.
Yang disebut wilayah khilafah islam itu adalah Timur Tengah, sebagian Eropa, Afrika, Asia Tengah dan Asia Timur.

Daerah Asia Tenggara lazimnya tidak disebut. Ini bukan berarti misi islam tidak mencapai nusantara. Ini juga tidak berarti muslim yang berkembang di wilayah Nusantara tidak memiliki kontak dengan para penguasa islam di dunia. Tapi kerajaan-kerajaan islam di wilayah nusantara tidak berada di bawah kekuasaan Khalifah-khalifah besar itu.

Nah sejarah ini yang berusaha ditulis ulang oleh film jejak Khilafah. Dalam talkshow tersebut secara jelas dikatakan bahwa selama ini terjadi pengaburan dan penguburan sejarah.

Para pembicara menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan islam di Aceh. Demak, Ternate, Jawa sejak lama mengakui keberadaan khilafah Islam dan berkomunikasi dengan para penguasa di Timur Tengah itu.

Pengusiran Portugis dari Nusantara juga dimungkinkan karena kehadiran tentara-tantara yang dikirim Khalifah islam. Jadi orang-orang HTI ini percaya bahwa ada upaya sengaja menghilangkan fakta bahwa dari dulu pun Nusantara – atau Indonesia – adalah bagian dari Khilafah.

Juga dikatakan bahwa konsep khilafah sama sekali tidak bertentangan dengan nasionalisme di Indonesia. Bahkan, dalam talkshow itu muncul Tengku Zulkarnain, yang menyatakan bahwa saat ini ada penyesatan pikir bahwa Khilafah akan memberangus NKRI.
Singkat kata, film ini dibuat untuk membangun kepercayaan bahwa Khilafah memiliki jejak sejarah yang panjang di Indonesia dan khilafah tidak bertentangan dengan konsep bangsa dalam NKRI.

Dapatkah sejarah versi HTI itu diterima?

Buat saya, pertama-tama, kebohongan tentang Carey yang saya sebut diawal sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan bahwa para pembuat film ini bersedia bohong. Jadi kalau untuk hal sederhana seperti pengunaan narasumber dalam talkshow saja mereka bisa bohong, ya apalagi soal kebenaran sejarah.

Kedua, kualitas keilmuan sejarah para pembuat film ini harus diuji dulu. Saya sendiri bukan sejarawan. Saya hanya pembaca sejarah. Tapi rasanya sih, gambaran tentang kerajaan-kerajaan islam di Nusantara sebagai bagian dari Khalifah Islam hampir-hampir tidak pernah saya dengar dan baca.

Islam di nusantara tumbuh bukan melalui jalur politik, melainkan jalur kebudayaan. Tapi, yang terpenting, kalaupun barangkali – sekali lagi, barangkali – ketika itu kerajaan islam di Nusantara sudah menjadi bagian dari Khilafah, itu sama sekali bukan alasan yang bisa membantah bahwa penegakan Khilafah saat ini adalah bertentangan dengan NKRI.

Khilafah itu bertentangan dengan gagasan NKRI dan Pancasila. Yang paling utama adalah dalam sistem politik Khilafah, muslim dan nonmuslim diperlakukan berbeda. Seorang nonmuslim tidak boleh dipilih sebagai pemimpin. Seorang nonmuslim tidak punya hak untuk memilih pemimpin.

Dalam konsep Khilafah HTI, seorang Khalifah memiliki kekuasaan absolut.
Tidak ada DPR. Khalifah tidak bisa dikontrol. Khalifah membuat hukum berdasarkan hukum Tuhan, Syariah. Dalam Khilafah tidak ada pembatasan masa jabatan Khalifah. Begitu Khalifah terpilih dia akan menjabat sampai dia meninggal. Jadi omong kosong kalau dikatakan Khilafah tidak bertentangan dengan NKRI dan Pancasila.

Tapi tentu saja hal-hal semacam itu tidak akan diungkapkan oleh HTI. Mereka memang dengan sengaja berbohong serta mengaburkan dan menguburkan kebenaran, untuk mencapai tujuan mereka: menegakkan Khilafah di Indonesia.

Karenanya, mari kita terus gunakan akal sehat untuk menghadapi kebohongan mereka.
Hanya dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar