TENGKU ZUL KAPAN DIADILI MUI? I Catatan Syafiq Hasyim

Di dunia Medsos, terutama Twitter, nama Tengku Zulkarnaen mestinya sudah sangat populer sekali. Setiap tweetnya selalu dishare dengan semangat, baik oleh kawan maupun lawannya. Kini, dalam ceramah terbarunya, dia dihujat banyak kalangan karena dinilai telah melakukan ujaran yang berbau rasisme. Dia membanding-bandingkan gaya ustad Sumatera dan gaya ustad Jawa. Perbandingan ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai upaya Tengku Zul untuk merendahkan ras Jawa dibandingkan ras Sumatera. Bahkan ada yang mengatakan jika perbandingan seperti di atas berpotensi memecah-belah umat.

Sebenarnya, selain ceramah Tengku Zul di atas yang patut disesalkan, namun secara pribadi, saya melihat hal-hal lain seperti tweet-tweetnya yang terdahulu yang lebih kontroversial yang mungkin lebih menarik untuk diperhatikan. Banyak tweet-tweet Tengku Zul yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar, yang cenderung mendisinformasi masyarakat.

Sederet kontroversi Tengku Zulkarnaen menjadikannya layak untuk dipanggil oleh induk organisasinya, yaitu MUI. Tapi mungkinkah hal itu terjadi? Ada tiga alasan bagi saya, mengapa Tengku Zulkarnaen atau Ayah Naen pantas dipanggil oleh MUI? Pertama, secara formal, Ayah Naen adalah tetap Wakil Sekjen MUI. Ke mana-mana, status sebagai Wasekjen MUI tetap melekat pada dirinya. Media-media mainstream juga masih menyematkan jabatan itu pada diri Tengku Zul. Kenyataan lain, banyak kalangan yang merasa percaya kepada ceramah-ceramah Tengku Zul justru karena menyematkan diri sebagai Wasekjen MUI Pusat pada dirinya.

Kedua, apabila dilihat dari segi pernyataan-pernyataan Ayah Naen di Medsos maupun di ceramah-ceramahnya yang diunggah melalui Youtube, MUI memang merasa layak untuk membuat semacam klarifikasi atas beberapa hal kontroversi yang dia hasilkan. Idealnya, sebagai Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnaen seharusnya menghadirkan pernyataan-pernyataan yang mencerminkan posisi MUI.

Kita tahu bahwa posisi MUI yang selama ini MUI selalu katakan di banyak kesempatan adalah sebagai tenda umat Islam. Fungsi sebagai tenda umat Islam ini harusnya tercermin pada seluruh pengurus MUI, tak terkecuali pada diri Tengku Zulkarnaen. Apakah MUI rela salah satu pengurus terasnya justru memerankan peran yang berbeda dengan peran sebagai tenda? Saya kira MUI sebagai lembaga ulama yang kredibel semestintya tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi.

Ketiga, sebagai organisasi keagamaan yang dihormati oleh banyak kalangan, termasuk oleh pemerintah sendiri, MUI perlu menjaga reputasi organisasi dengan cara memantau pernyataan-pernyataan pengurusnya, yang berkaitan dengan visi dan misi MUI. Jika seseorang bersedia menjadi pengurus MUI, maka sudah wajar apabila seseorang itu menjaga visi dan misi MUI.

Visi dan misi dakwah MUI adalah menyatukan, mengayomi dan menyampaikan tausyiah-tausyiah keagamaan yang bersifat moderat. Karena MUI secara resmi dalam taglinenya menyatakan diri sebagai organisasi yang memperjuangkan Islam Wasatiyyah? Islam Wasatiyyah adalah Islam jalan tengah, Islam moderat, dan Islam yang tidak menyulut permusuhan, apalagi mendorong rasisme.

Dari ketiga alasan di atas, saya menganggap bahwa Tengku Zulkarnaen sekali lagi, patut dipanggil dan dijadikan sebagai obyek dakwah dari MUI itu sendiri. Masalahnya, kapan Tengku Zul itu akan dipanggil oleh organisasi induknya sendiri, sebagaimana jika ada muballigh atau penceramah yang kontroversial dan banyak memberikan informasi yang salah tentang Islam maupun hal-hal lainnya dipanggil oleh MUI.

Jika MUI membiarkan apa yang selama ini dilakukan oleh Tengku Zul, dengan tidak mengklarifikasi atau melakukan tabayun padanya dan tidak berupaya memperbaiki atau meng-islah diri Tengku Zul, maka jangan disalahkan jika ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa MUI berbuat tidak adil, karena ada pengurusnya yang terus-menerus melakukan dakwah yang dianggap memecah-belah umat, yang selama ini menjadi hal yang dijadikan sebagai tujuan dari MUI, yaitu mempersatukan umat.

Mungkin saja MUI sudah memanggilnya, namun kenapa Tengku Zul tidak berubah-ubah, tetap Tengku Zul yang seperti kita lihat dan baca dalam berselancar di dunia kontroversi, di dalam lapangan Medsos.

Memang terkadang Tengku Zul meminta maaf atas pernyataannya. Namun permintaan maafnya tidak sebanding dengan jumlah kontroversi yang diproduksinya. Apakah hal yang seperti di atas tidak disadari oleh MUI sebagai organisasi yang membawahinya, itu akan menggerogoti kewibawaan. Saya tahu bahwa memang harus dibedakan antara Tengku Zul sebagai pengurus MUI dan Tengku Zul sebagai pribadi yang berhak bebas. Kalau demikian halnya, maka kendali seharusnya berada pada pihak MUI itu sendiri. Tadi, apakah MUI rela memiliki pengurus pentingnya yang terus-menerus berkontroversi, atau harus bagaimana?

Saya membayangkan hubungan yang ideal antara perilaku individu yang bebas dan perilaku individu yang menjadi pengurus MUI. Jika seseorang individu masuk secara sadar ke dalam sebuah organisasi, maka sesungguhnya separuh badannya tidak bisa dilepaskan dari visi dan misi organisasi yang dimasukinya. Kebebasan masih ada, namun tidak sepenuhnya bebas, karena ada komitmen keorganisasian. Di sini mestinya diletakkan pada prinsip-prinsip utama yang dikembangkan dan dianut oleh MUI. Hal demikian mestinya berlaku pada semua pengurus MUI tanpa terkecuali.

Jika Tengku Zul menyadari bahwa perilaku dirinya itu sebagian besar dianggap mencerminkan perilaku MUI, maka dia harus bisa menjaga kebebasan dirinya untuk berekspresi, untuk disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang harusnya dipegang sebagai pengurus MUI. Kecuali MUI memang sudah melepaskan begitu saja apa yang dilakukan oleh Tengku Zul.

Saya mengemukakan pendapat yang seperti di atas, karena komplain yang muncul di kalangan masyarakat, yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataan dan tindakan-tindakan Ayah Naen di dunia Medsos, yang selalu dikaitkan dengan MUI. Salahkah masyarakat menilai seperti demikian? Menurut saya tidak salah.

Pertama, karena pada dasarnya status sebagai Wasekjen memang masih melekat pada diri Tengku Zul. Yang kedua, belum terlihat oleh masyarakat secara langsung akan tindakan peringatan MUI pada Ayah Naen. Jika MUI menganggap bahwa mereka sudah melakukan peringatan pada Ayah Naen atau Tengku Zul dan masyarakat tidak perlu tahu akan hal itu. Maka, sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa masyarakat tetap boleh dan berhak menganggap bahwa MUI membiarkan Tengku Zulkarnaen seperti hal yang kita saksikan bersama, karena pada dasarnya memang mereka masyarakat belum pernah tahu ada tindakan peringatan terhadap Tengku Zul.

 

 

 

Komentar