APA KABAR RIZIEQ, AMIEN, DAN SUMANTO? I Channel 17 Plus

Jumpa lagi Kisanak,

Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh beragam foto aksi demonstrasi yang dilakukan oleh komunitas Jaga Indonesia di depan gedung MPR/DPR kemarin. Massa meneriakkan protes atas perilaku Rizieq selama ini. Dalam aksi protes tersebut, massa membawa poster Rizieq, lalu dirusak oleh massa. Hal ini terlihat dari tayangan video yang beredar di media sosial baru-baru ini.

Kisanak, demo ini sebetulnya biasa saja. Hukum di Indonesia memberikan kebebasan setiap warga negara untuk menyatakan pendapatnya. Tetapi Kisanak, membawa poster Rizieq dalam sebuah demonstrasi tentang Indonesia, rasanya memang terlalu berlebihan. Memangnya Rizieq itu siapa, sampai harus didemo segala?

Betul kan, Kak Ema?

Kisanak, akibat demo itu pula, nama orang yang tadinya kabur ke Saudi itu kini digoreng lagi. Padahal tadinya namanya sudah nyaris tak terdengar.

Langkah membawa poster Rizieq untuk menyatakan pendapat soal pentingnya menjaga Indonesia, sama saja seperti orang yang demonstrasi menuntut sertifikasi makanan halal. Tetapi yang dibawa sebagai lambang protes adalah posternya Sumanto.

Iya Kisanak, Sumanto memang doyan makan mayat. Sesuatu yang tidak halal. Tetapi, demonstran gak perlu membesar-besarkan peran Sumanto, seolah dia punya peran penting dalam konstelasi permakanan di Indonesia.

Perlu diingat Kisanak, Sumanto sampai saat ini tetap di Indonesia, ia gak kabur ke mana-mana.

Kisanak yang budiman,

Jika kita telusuri soal Sumanto, ia memang bukan imam besar. Wajahnya sangat sederhana. Kumis dan jenggotnya dibiarkan terurai menutupi senyumnya yang misterius. Ke mana-mana Sumanto biasa berjalan kaki, tidak pernah naik Rubicon.

Kisanak, selama hidup Sumanto tidak pernah berceramah apalagi memaki-maki Pemerintah. Pakaiannya biasa, bukan gamis putih dengan ubel-ubel di kepalanya. Sumanto juga tidak pernah mengeluarkan kata kasar dan mengkafir-kafirkan orang lain. Dengan kata lain Kisanak, Sumanto hanya lelaki biasa yang doyan makan daging orang. Itu saja.

Kisanak, menurut seorang ahli, membawa poster Sumanto atau poster Rizieq dalam sebuah demonstrasi bukanlah tergolong dosa besar. Mereka akan berdosa jika poster-poster itu didapat dari nyolong atau biaya print digitalnya belum dibayarkan.

Sebuah pepatah mengatakan, sejatinya semua bawang itu adalah bawang putih. Sedangkan bawang merah, sesungguhnya hanya bawang putih yang dicupang.

Kisanak, kita tinggalkan poster Sumanto dengan senyum khasnya. Kini kita ikuti berita kedua.

Bupati Ogan Komering Ilir Iyas Panji Alam, belum lama ini mengundang beberapa wartawan ke rumahnya. Para wartawan yang diundang merasa mendapat kehormatan. Mereka membayangkan akan ada berita menarik sambil diajak makan-makan di rumah Bupati.

Para wartawan itu berkumpul dengan perasaan sumringah. Tuan rumah menyambutnya dengan ramah. Mempersilakan para wartawan duduk di tempat yang sudah disiapkan. Tidak lama kemudian Kisanak, konferensi pers dimulai.

Bupati duduk di kursinya. Isi konferensi pers, ternyata pengumuman bahwa Bupati Iyas Panji Alam positif terkena Covid-19.

Kontan saja, wartawan cengok. Mereka diundang ke rumah Bupati, yang mengumumkan sendiri kabar dirinya tertular wabah berbahaya.

Sayangnya Kisanak, tidak diberitakan apakah setelah pulang liputan dari rumah bupati tersebut, semua wartawan yang hadir terpaksa menjalani karantina mandiri di rumahnya masing-masing.

Kita sebagai warga negara yang baik hanya bisa mengucapkan lekas sembuh kepada para wartawan dan Bupati Komering Ilir. Jangan sampai karena peristiwa ini hubungan bupati dan wartawan menjadi, lu-gue end…

Kisanak yang budiman, kita ikuti berita ketiga.

Nasib Amien Rais kini sangat menyedihkan. Setelah kubunya kalah dalam Kongres PAN baru-baru ini, Amien dikabarkan keluar dari partai yang didirikannya. Berita bermula dengan tidak adanya nama Amien Rais di jajaran kepengurusan yang baru.

PAN saat ini boleh dibilang tidak ada bau-bau Amiennya sama sekali. Terbersit juga kabar bahwa Amien akan mendirikan partai baru. Tapi rupanya Kisanak, kabar itu hanya isapan lollipop belaka. Tidak jelas.

Kisanak, kini Amien tidak bisa berbuat banyak di partai tersebut. Namanya sudah tidak ada dalam jajaran petinggi partai. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya kalah dalam kongres. Berbeda dengan Gubernur Jakarta yang memenangi pertarungan Pilkada, tetapi juga tidak melakukan apa-apa karena memang hobinya.

Setelah beberapa tahun menjabat, sepertinya Gubernur tidak melakukan apa-apa dengan amat serius. Keseriusannya bahkan mengalahkan orang yang bekerja keras setiap harinya menghadapi kondisi Covid-19 ini.

Kisanak, nasib Amien yang didepak dari partainya sendiri, mirip seperti nasib seseorang yang makan di rumah makan Bundo Kanduang. Sehabis makan malah dimintakan bayaran, padahal makannya di Bundo Kandung. Mungkin, kisanak, karena dia dianggap anak pungut.

Pepatah mengatakan, tidak ada makan siang yang gratis. Apalagi kalau makannya pakai rendang, gulai tunjang, sayur daun singkong dan sambel ijo, plus ayam pop.

Nambo cie, Uda…

Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya

Lemesin aja, Mbah Mien…

Komentar