REKLAMANIES DAN AKSI KADRUN I CHANNEL 17+

Reklamasi

Kami warga Jakarta dengan ini menyatakan telah tertipu untuk ke sekian kalinya. Hal-hal yang mengenai bagi-bagi kavling dan lain-lain, akan mereka selenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bangke, gak tuh.

Jakarta, 17 Juli 2020

Atas nama warga Jakarta

Abu Kumkum

 

Jumpa lagi, Kisanak

Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta didatangi sejumlah demonstran. Mereka menuntut agar RUU HIP tidak dibahas di DPR. Padahal Kisanak, sudah sejak lama Pemerintah melalui Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan, RUU inisiatif DPR itu ditolak pembahasannya.

Tetapi karena mereka sudah kebelet demo, Kisanak, masih saja aksi massa digelar di tengah pendemi dengan melibatkan anak, kemenakan, ibu, bapak, paman, tante, kakek, nenek dan tetangga. Mirip iklan mobil jaman dulu.

Dalam suasana pendemi seperti ini, setiap berkumpulnya massa berisiko terjadi penularan. Ini bisa mengakibatkan Jakarta jadi pusat pendemi nasional.

Kisanak, bisa anda bayangkan betapa sengsaranya warga Jakarta. Sudah Gubernurnya Anies Baswedan, eh, kotanya jadi pusat pandemi. Kasian deh, lo.

Menurut agen penyelenggara demo, mereka sudah menginstruksikan demonstrasi untuk memakai masker. Tetapi Kisanak, yang datang malah banyak memakai daster. Yang penting ada ‘er’nya.

Kisanak yang budiman.

Dengan digelarnya demonstrasi tersebut, Pemerintah harus mengeluarkan dana tidak sedikit untuk biaya pengamanan. Belum lagi jika ada peserta demonstran yang tertular Covid-19. Perlu diketahui, biaya pengobatan rata-rata pasien sekitar Rp50 juta per orang.

Hobi demo kali ini memang terkenal hobi yang mahal. Lebih mahal dari harga sepeda Brompton. Tapi yang namanya hobi, apapun makanannya, kegiatannya tetap demo. Sebab demonstrasi adalah jalan ninja mereka.

Kisanak yang budiman.

Dalam kitab suci dijelaskan, bahwa sesungguhnya manusia terbuat dari tanah. Barangkali orang-orang yang hobi membuat kekacauan ini dengan demonstrasi, dulunya terbuat dari tanah sengketa. Atau paling tidak Kisanak, mereka terbuat dari tanah galian kabel.

Pada waktu yang lain, banyak orangtua murid di Jakarta yang demo juga atas kebijakan Kepala Pendidikan DKI Jakarta yang menyebabkan banyak siswa terlantar sekolahnya. Anak-anak cerdas, karena usianya masih muda, tidak bisa masuk sekolah negeri, karena sistem masuk yang amburadul. Sebab kursi mereka ditempati anak lain, yang usianya lebih tua.

Kisanak, mungkin anak-anak Jakarta sekarang mulai berpikir, buat apa belajar susah-susah. Mending ikut demo saja sampai tua. Nanti toh, akan masuk sekolah favorit juga.

Kisanak yang budiman.

Entah berapa biaya per orang setiap peserta demonstrasi. Namun yang pasti tarifnya tidak akan lebih mahal dari HH, yang tertangkap kemarin di sebuah hotel di Medan. Menurut informasi, tarif HH ini sekitar Rp20 juta saja.

Bayangkan Kisanak, jika uang itu didistribusikan kepada para pendemo. Mungkin akan lebih bermanfaat untuk masa depan anak-anak para pendemo.

Kisanak yang budiman.

Seorang pakar pernah mengajukan pertanyaan, apakah bedanya demo dengan aksi?

Ternyata Kisanak, demo rodanya hanya tiga. Kalau aksi rodanya empat.

Demikian berita kali ini.

Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya.

Lemesin aja, mblo…

Terima kasih.

 

Komentar