Denny Siregar: JIWASRAYA SENGAJA DIBUAT BANGKRUT?

Kali ini kita bahas Jiwasraya, ya. Kasusnya soalnya semakin menarik.

Kalau mau merunut dari awal, kasus hilangnya uang nasabah sebesar Rp13 triliun di Jiwasraya itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi dampak panjang dari masalah lama.

Jiwasraya ternyata sudah lama rugi, tercatat sejak 1998, pada waktu krisis, di mana nilai rupiah kita anjlok ke titik paling bawah. Jiwasraya pada waktu itu sempat terbitkan produk untuk menarik mata uang dollar, tetapi dia investasikan dalam bentuk rupiah. Dan ketika harga dollar meroket yang berarti dia harus bayar ke nasabah juga dalam bentuk dollar, maka ambruklah mereka.

Pada waktu itu, semua utang bank ditalangi oleh pemerintah, tetapi asuransi tidak. Jiwasraya harus berdiri sendiri dengan kerugian yang sangat besar. Sakit, tapi gak ada yang mau ngobatin.

Dan di tahun 2008, Jiwasraya sempat minta bantuan obat kepada pemerintah. “Tolong dong, kami sakit nih..” Utang Jiwasraya tercatat pada waktu itu sudah sebesar Rp5,7 triliun. Sudah parah sebenarnya. Sempat, Menteri Keuangan waktu itu, yaitu Bu Sri Mulyani, mau menolong Jiwasraya, tapi keburu ada kasus Bank Century. Dan si Century ini ternyata lebih parah, harus ditolong segera karena dampaknya yang sistemik. Jiwasraya pun tidak ditolong lagi. Kasian sih, sebenarnya.

Pesan pemerintah waktu itu, Jiwasraya harus bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Gimana caranya, ya mikirlah. Pemerintah juga lagi susah.

Jiwasraya pun mikir, utak atik skema bagaimana caranya supaya tidak gagal bayar ke nasabah. Poinnya sebenarnya di situ, TIDAK GAGAL BAYAR. Selama Jiwasraya masih bisa membayar klaim ke nasabah, kepercayaan nasabah masih terjaga. Karena nasabah tidak penting Jiwasraya lagi sakit atau tidak, yang penting setiap mereka klaim, Jiwasraya mereka anggap sehat.

Di dalam bisnis asuransi, pendapatan mereka cuma 2, yaitu premi dan investasi. Mereka menarik premi dari nasabah setiap bulan, dan uang premi itu mereka investasikan. Ada yang ke obligasi, ada yang ke properti, dan ada juga yang ke saham. Semua model perusahaan asuransi ya begitu, mereka dapat hasil dari keuntungan investasi yang duit investasinya didapatkan dari nasabah yang membayar premi.

Karena sedang sakit akibat rugi Rp5,7 triliun dan sama sekali tidak dibantu pemerintah, Jiwasraya pun putar otak. Gimana ya caranya supaya terus bisa bayar klaim ke nasabah?

Dan akhirnya, pilihan jatuh ke permainan saham. Kenapa harus saham? Itu pertanyaannya. Karena hasil investasi dari obligasi dan properti, pendapatannya kecil, sedangkan yang mereka harus bayar ke nasabah setiap bulan besar. Jadi, yang memungkinkan untuk mendapatkan pendapatan besar ya main saham. Tetapi main saham pun ada levelnya, ada yang pedas sampai yang super pedas. Yang pedas biasa, dengan main saham blue chip, pendapatannya sama saja kecil, tidak bisa menutup kerugian.

Nah, yang lebih memungkinkan adalah main saham goreng dadakan. Itu model saham yang high return but high risk. Cuannya gede, tapi risikonya juga gede.

Oke, sudah dapat solusinya, yaitu main saham gorengan. Tapi dari mana duit buat beli saham itu? Di sinilah kemudian terbit produk baru bernama JS Saving Plan, yaitu produk asuransi tapi khusus untuk investasi. Beda dengan asuransi konvensional, JS Saving Plan khusus untuk mereka yang ingin dapat keuntungan dari investasi.

Jiwasraya harus menarik uang banyak dari masyarakat supaya mereka bisa investasi. Dan mereka juga harus bersaing dengan perusahaan asuransi lain, yang juga menerbitkan model investasi yang sama. Dan gimana caranya supaya produk JS Saving Plan menarik minat orang supaya mau beli? Ya, Jiwasraya harus menjanjikan return atau pengembalian nilai investasi yang lebih tinggi kepada nasabah. Istilahnya, nasabah harus diiming-imingi supaya mau investasi di Jiwasraya.

“Iming-iming” Jiwasraya adalah mereka menjanjikan keuntungan dua kali lipat daripada nasabah investasi obligasi di bank. Jiwasraya menjanjikan keuntungan sampai 10 persen kepada nasabah, kalau mereka mau beli produk JS Saving Plan.

Dan, taktik mereka pun berhasil. Mata nasabah pun banyak yang hijau. Wah, asyik nih dapat keuntungan 10 persen, daripada duit gua taruh di bank? Apalagi Jiwasraya adalah perusahaan plat merah, masa sih tidak percaya sama pemerintah? Dan, OJK pun setuju. Jadi, tidak ada masalah.

Nasabah pun kemudian ramai-ramai beli produk JS Saving Plan, dan Jiwasraya selamat, bisa membayar klaim nasabah sekaligus berinvestasi di saham gorengan supaya dapat cuan besar untuk menutup kerugian dari kasus lama. Jiwasraya lalu menghubungi Benny Tjokro dan kawan-kawannya yang biasa main saham gorengan.

Tapi, yang namanya main saham, kadang naik kadang turun, kadang untung kadang rugi. Kalau Jiwasraya harus bayar 10 persen terus ke nasabah, mereka bisa ambruk lagi.

Akhirnya, Jiwasraya pelan-pelan menurunkan keuntungan yang dibagi ke nasabah. Dari 10 persen, turun 9 persen, sampai 6,5 persen. Dan yang menarik, bahkan dengan keuntungan 6,5 persen saja, nasabah masih mau beli produk JS Saving Plan. Kenapa? Karena kepercayaan. Sekali lagi, unsurnya adalah kepercayaan. Jiwasraya tidak pernah gagal bayar kepada nasabah dan nasabah menganggap Jiwasraya sehat-sehat saja.

Bahkan Dahlan Iskan, yang waktu itu menjadi Menteri BUMN, di tahun 2014 sempat memuji Jiwasraya. “Hebat, kalian. Gak perlu bantuan dana dari pemerintah, kalian bisa sehat sendiri.” Dan semua berjalan lancar. Pemerintah senang, nasabah riang, dan Jiwasraya pun bisa melenggang.

Mendadak tahun 2018, Direktur Utama Jiwasraya diganti. Masuklah Hexana Tri Sasongko sebagai Direktur Utama baru.

Hexana ini sebenarnya tidak punya pengalaman di asuransi. Rekam jejaknya dia selama ini kerja di bank. Dan sialnya, model bank dan asuransi itu sangat beda. Kalau bank, tidak boleh bermain saham sedangkan asuransi boleh. Dan pengalaman Hexana di saham sangat minim. Di sini muncul pertanyaan, kenapa Rini Soemarno yang waktu itu menjabat Menteri BUMN, malah menjadikan Hexana sebagai Direktur Utama meski dia minim pengalaman investasi di asuransi? Apakah ada maksud tertentu, supaya Jiwasraya bangkrut? Entahlah, biar waktu saja yang menjawabnya..

Yang pasti, sesudah Hexana jadi Direktur Utama Jiwasraya, dia langsung mengumumkan bahwa Jiwasraya gagal bayar keuntungan investasi kepada nasabah.

Nasabah pun kaget. Kepercayaan kepada Jiwasraya hancur. Mereka ramai-ramai menarik investasinya di Jiwasraya. Terjadi rush besar-besaran. Jiwasraya yang biasanya hanya menanggung – anggap saja – 1 juta pertahun kepada nasabah, mendadak harus membayar Rp1 triliun saat itu juga. Jiwasraya yang masih miskin, tambah bangkrut lebih parah.

Saham yang mereka tanam, hasilnya belum maksimal karena krisis di tahun 2018. Masih rugi. Kalau ditarik sekarang, ya sudah pasti rugi besar. Coba ditunggu beberapa saat lagi, bisa jadi untung. Tapi tidak mungkin menunggu, karena terjadi penarikan besar-besaran dari nasabah yang tidak bisa menunggu.

Itulah kenapa Jiwasraya diumumkan rugi Rp13 triliun. Rugi sebenarnya karena keputusan yang salah mengumumkan gagal bayar sehingga terjadi rush. Seandainya si Direktur Utama diam saja dan dengan tenang menghadap Menteri BUMN untuk menalangi Jiwasraya, tentu tidak akan seperti sekarang.

Tapi mungkin saja, ini hanya permainan politik. Kalau kementerian yang harus nalangi, pasti masyarakat ribut gak karuan. Akhirnya, diumumkan gagal bayar saja, dan timpakan semua masalah kepada Benny Tjokro dan kawan-kawan. Biar mereka yang menanggung semua kerugian.

Benny Tjokro yang biasa main gorengan saham, kali ini dia yang digoreng habis-habisan.

Wow, gile. Permainan tingkat tinggi, saudara-saudara. Apalah kita yang cuman remahan rengginang? Kita cukup seruput kopi saja sambil terus memantau.

Markibong.

Komentar