PEMBAKAR BENDERA PDIP, MUALAF PANCASILA PADAHAL KHILAFAH I Channel Eko Kuntadhi

Demo pembakaran bendera PDIP kayaknya berbuntut panjang. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, juga Ketua Umum PDIP Bu Mega, sampai membuat seruan agar kader-kadernya menahan diri dan para pengurus teras ini mendorong masalah ini dibawa ke jalur hukum.

Kalau kita lihat gerombolan pendemo kayaknya ngeles. Mereka bilang, yang membakar bendera PDIP adalah penyusup. Kalau gue sih gak percaya ama omongan gitu.

Lo lihat aja, pembakaran bendera itu dilakukan di tengah-tengah demonstran. Kalau mau dibakar kan berarti benderanya udah disiapin dari awal.

Saat dibakar gak ada satu orang pun yang mencegahnya. Bahkan dalam video yang beredar, orator di atas panggung ikut memanasi, saat berlangsungnya pembakaran bendera tersebut.

Terus pertanyaanya, kenapa sih mereka membakar bendera PDIP? Gini, kita kan tahu nih, PDIP itu partai pemenang Pemilu. Pendukungnya banyak banget.

Nah, gerombolan yang bakar bendera itu udah menghitung jika ada simbol-simbol partai yang dinistakan, pasti reaksi dari kader-kader PDIP akan sangat keras.

Pembakaran bendera ini adalah langkah untuk memercik emosi, targetnya apa? Ya biar terjadi konflik sosial. Tujuannya mengadu kaum nasionalis yang memang banyak di Indonesia dengan kaum agama. Nah ini yang paling repot.

Kalau kita perhatikan mereka ini memang selalu berusaha membenturkan Islam dengan nasionalisme. Gerombolan palsu pembela Pancasila ini tujuannya semata-mata kekuasaan. Mereka mau menegakkan khilafah di Indonesia atau menegakkan negara berdasarkan agama tertentu.

Tapi masalahnya gerombolan ini gak akan pernah dapat peluang kalau demokrasi di Indonesia jalannya mulus, pergantian kekuasaan berlangsung konstitusional, lewat pemilu misalnya.

Kalau di ibaratkan di Indonesia, mereka itu kayak sililit yang nempel di sela-sela gigi gitu. Bentuknya kecil, cuma secuil, tapi bikin ribet. Gak enak. Lo mesti congkel-congkel gitu.

Nah, bagaimana mereka mau berkuasa? Caranya dengan membuat konflik besar, dengan membikin masyarakat chaos. Nah itulah satu-satunya peluang mereka merebut kekuasaan.

Makanya yang diciptakan selalu konflik. Mengadu antar kekuatan masyarakat agar terjadi benturan.

Coba lo perhatikan ulah para pengasong khilafah ini. Justru di wilayah-wilayah yang komposisi penduduk muslim dan non-muslimnya berimbang, mereka selalu berusaha mencetuskan gesekan-gesekan. Sebab konflik besar hanya bisa terjadi kalau ada dua kekuatan seimbang. Misalnya kekuatan muslim di satu masyarakat, muslim dan kristennya berimbang, nah itu peluang konfliknya tinggi. Tapi kalau misalnya masyarakat muslimnya mayoritas, yang kristennya sedikit atau hindunya sedikit gak jadi konflik, yang ada cuma penindasan.

Lo ingat gak, saat kampanye presiden yang dihadiri Capres Prabowo Subianto kemarin. Waktu itu di Manado, justru ketika di Manado dikibarkan bendera HTI. Lo bayangin Manado, lo tahu dong komposisi masyarakatnya kayak apa.

Belum lama ini ada suami-istri ditangkap di NTT, karena menyebarkan brosur khilafah. Lo ngerti dong NTT itu komposisi masyarakatnya kayak apa?

Bahkan menurut datanya, perkembangan HTI itu paling pesat di Papua. Dan kita juga udah ngerti, Papua masyarakatnya kayak apa komposisinya.

Demikian juga mereka bangun basis di Poso yang pernah konflik berdasarkan agama di sana. Mereka selalu berusaha membuat gesekan yang ujungnya tercetus konflik. Kita udah punya pengalaman, Ambon, Poso dan beberapa di tempat yang lain. Di tengah konflik itulah mereka jualan khilafah. Seolah-olah khilafah jalan keluar dari konflik. Seolah-olah khilafah yang menjadi penjawab masalah.

Demikian juga dengan isu Pancasila kayak ini. Mereka seolah berdiri paling depan membela Pancasila. Padahal boro-boro mengakui Pancasila. Yang paling simpel gak usah HTI, FPI aja misalnya, gak ada satu pun kata Pancasila tercantum dalam AD/ART-nya. Gak ada.

Sebetulnya menurut gue sih ya, debat ideologi di zaman kayak gini, itu kayak kita ngeributin pepesan kosong. Mestinya udah selesai. Kita sudah sepakat membangun Indonesia berdasarkan Pancasila, ideologi kita. Jadi gak perlu lagilah ada debat-debat yang ideologikal kayak gitu. Sudah final. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 45 itu sebagai dasar negara kita.

Justru yang dibutuhkan sekarang ini adalah menerjemahkan nilai-nilai filosofis itu ke dalam kubangan zaman, ke dalam bentuk kegiatan masyarakat. Agar ideologi yang kita yakini sebagai pemersatu bangsa bisa terus relevan dengan kemajuan. Menurut gua ideologi itu harus punya daya gerak yang menghela perjalanan Indonesia menjawab kebutuhan zamannya.

Ini yang dibutuhkan Indonesia sekarang. Jadi bukan soal debat yang ngawang-awang terus. Ini membentur-benturkan antara nasionalisme dengan Islam. Membenturkan antara Pancasila sesuai dengan Islam apa enggak, itu udah gak laku.

Pengasong khilafah emang selalu gak pernah naik kelas debatnya. Muter-muter di situ aja. yang komunismelah, PKI-lah, liberallah, yang negara toghutlah, yang hormat bendera haramlah, tawaran hijrah, melulu di situ-situ aja.

Sekalinya debat yang agak praktis, paling pelatihan poligami. Gak ada tuh yang lebih praktis yang lain, yang secara relevan bermanfaat buat kehidupan.

Bagi kita Pancasila sebagai ideologi itu memang perlu penerjemahan konsep operasionalnya. Perlu diadaptasi dengan perkembangan zaman. Itu yang mestinya penting sekarang. Gua misalnya suka sama gerakan yang diinisiasi Mas Budiman Sudjatmiko.

Misalnya dia mendorong konsep keadilan sosial, sebagai poin penting dari Pancasila, dengan usahanya memperjuangkan UU Desa. Menurut gua itu sangat menarik. Terus dia juga mencoba mengoperasionalkan ideologi bangsa dengan sebuah konsep besar. Misalnya dia mendorong kelompok innovator 4.0, sebuah proyek kesetaraan digital yang menurut gua keren.

Informasi dan pengetahuan dari putra-putra Indonesia dengan berbagai keahlian dari seluruh dunia dikumpulkan lalu didistribusikan kepada seluruh segmen masyarakat, gunanya untuk menstimuli lahirnya gagasan-gagasan baru yang lebih operasional. Bukan debat ngawang-ngawang gak jelas seperti gerombolan HTI itu.

Atau ada lagi, kita juga mengenal Azmi Abubakar. Dia seorang putra Aceh atau berdarah Aceh, yang kita kenal selalu mengingatkan kita terhadap peran sejarah kaum Tionghoa yang tidak sedikit jasanya bagi Indonesia. Politisi PSI ini menggagas museum peranakan Tionghoa.

Bagi Azmi, keberadaan suku Tionghoa di Indonesia sama pentingnya dengan suku lainnya. Pun sumbangsihnya juga sama pentingnya dengan suku-suku lainnya. Menurut gua Azmi terus bergelut untuk mengoperasionalkan makna Bhineka Tunggal Ika dalam kegiatan hari-harinya.

Yang lain misalnya di masa pendemi ini, kita kenal Dr. dr. Theresia Monica. Perempuan ini gigih mengkampanyekan langkah terapi plasma konvalesen untuk penyembuhan pasien Covid-19. Bersama beberapa rekannya dia menyusun buku panduan untuk terapi murah meriah, yang hasilnya sangat positif dan membantu pasien Covid-19.

Gue ingin bilang begini, sebagai indeologi, Pancasila sudah final. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah usaha menerjemahkan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan kebutuhan zaman.

Agar idologi kita ini gak menjadi barang kaku yang cuma ada di rak buku. Ideologi perlu kaki untuk berjalan, bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat. Bergelut dengan segala kepentingan kehidupan.

Sementara debat-debat soal langit atau konsep-konsep langit, seperti apakah Pancasila sudah sesuai dengan agama, kayaknya sudah selesai. Para pendiri bangsa kita dari awal sudah berdebat itu dan sudah punya solusi. Kita tinggal terusin, ngapain bolak-balik kesana lagi.

Sekarang ini cuma gerombolan khilafah yang selalu mempersoalkan atau mendebatkan problem-problem langit itu, yang sebetulnya perdebatannya sudah kelewatan beberapa puluh tahun yang lalu. Gua cuma mau bilang begini, bahwa kita gak perlu lagi masuk ke dalam perdebatan bahwa, ini Pancasila sesuai syariat apa enggak? Agama dibenturkan sama negara, agama dibenturkan sama nasionalisme, itu sudah selesai. Yang dibutuhkan adalah sekarang penterjemahan ide-ide besar itu ke dalam kerja yang konkret seperti yang tadi gua contohkan beberapa orang, yang menurut gua punya sumbangsih luar biasa bagi penterjemahan Pancasila.

Gua cuma ngajak lo berpikir, kesimpulannya ya terserah lo. Thank you.

Komentar