Denny Siregar: SAYA PERNAH MELIHAT JOKOWI MURKA

Saya harus mengaku, saya pernah ketemu Jokowi sekali dalam pertemuan kecil dengan beberapa pegiat media sosial yang juga tidak suka muncul di publik dan foto-foto saat bersama Presiden. Itu juga kami dipaksa untuk ketemu Presiden, untuk menyamakan visi dan supaya lebih mengenal karakter Presiden lebih dekat.

Kalau tidak salah waktu itu tahun 2016, sesudah demo 212 saat mereka menguasai Monas. Disitulah saya melihat karakter Jokowi yang sangat berbeda dari apa yang saya lihat di media. Ketika bercerita tentang demo itu, wajah Jokowi mengeras, tulang rahangnya terlihat menguat dan matanya memerah berair seperti menahan kegeraman yang amat sangat. Dia berbicara dengan nada yang penuh tekanan.

Begini kira2 pernyataan Jokowi kepada kami. “Kalian tahu, berapa uang negara yang keluar untuk pengamanan setiap kali ada demo seperti itu ? Kalian tahu ?” Tanyanya kepada kami. Tentu kami tidak tahu, tetapi sangat ingin tahu. Dan Jokowi menjawab dengan nada geram, “Setiap kali mereka demo, negara harus keluarkan uang untuk pengamanan sebesar Rp. 100 miliar. Bayangkan, Rp. 100 miliar…” Dia lalu berhenti sejenak mengambil napas, sama seperti kami yang menunggu kata-kata selanjutnya dari seorang Presiden.

Dan Jokowi melanjutkan, “Saya baru pulang dari Papua. Disana, ada desa yang bahkan warganya untuk ke puskesmas saja harus berjalan 4 hari lamanya. Pernah kalian bayangkan 4 hari untuk ke Puskesmas ? Dan disini, di Jakarta, saya harus membuang uang untuk pengamanan sebesar Rp 100 miliar untuk demo yang sia-sia. Coba pikirkan, berapa belas puskesmas yang bisa saya bangun di Papua dengan uang sebesar itu ??”

Dan saat itupun suasana hening. Kami mulai merenung perkataan Presiden. Menghitung setiap sen yang harus keluar untuk menahan supaya negeri tidak rusuh karena ulah sekelompok orang, sedangkan di Papua sana banyak warga yang butuh kesehatan.

Diluar itu, disanalah saya mengenal sisi lain seorang Jokowi. Saya melihat kegeraman Presiden bukan kepada demonya, tetapi betapa uang yang seharusnya untuk rakyat yang membutuhkan harus terbuang sia-sia. Pikiran Jokowi benar-benar kepada rakyatnya.

Dan siang ini, saya melihat pidato Jokowi di rapat Paripurna tanggal 18 Juni, yang baru menyebar sekarang di media-media. Disana saya melihat Jokowi yang saya kenal ketika berbicara tentang demo dan Papua. Jokowi yang geram kepada para Menteri-Menterinya, dan itu ia lampiaskan dengan nada penuh tekanan.

Saya paham, kenapa Presiden sangat geram. Ia melihat kelambanan kerja Menteri-Menterinya, membuat rakyat menjadi korban. Jokowi sudah menganggarkan sekian ribu triliun rupiah untuk disebarkan kepada rakyat yang membutuhkan, tetapi para Menterinya terlalu takut untuk menjalankan amanat.

Apa yang Menterinya takuti ? Tentu masalah birokrasi dan administrasi. Para Menteri, terutama yang bukan dari latar belakang birokrat seperti misalnya Menteri Kesehatan Terawan, seperti takut ada kesalahan administrasi dalam mengucurkan uang lebih dari 70 triliun rupiah yang seharusnya ia edarkan. Kita harus paham, masalah kesalahan administrasi bisa berujung penjara ketika KPK akhirnya turun tangan. Dahlan Iskan sebagai orang luar pernah merasakan kejamnya kesalahan administrasi dan proses birokrasi, sehingga ia malah dituduh korupsi.

Hanya, para Menteri Jokowi belum paham, bahwa bossnya sekarang berbeda dengan yang dulu. Boss sekarang adalah Jokowi, seorang pengusaha yang cara kerjanya berbeda dengan birokrat pada umumnya. Dan Jokowi berani mengambil langkah untuk melindungi para Menterinya jika memang mereka bekerja untuk rakyat. Jokowi bahkan bersedia mengeluarkan Peraturan Presiden jika diperlukan supaya tidak ada serangan yang mengorbankan Menteri-Menterinya.

Itulah Jokowi. Dia terbiasa bekerja dengan model yang sesuai dengan situasi. Jika ini situasi krisis, Menterinya harus berani mengambil tindakan luar biasa. Kalau perlu melawan arah dan tidak populer. Asal semua demi rakyat. Semua demi rakyat.

Raut wajah Jokowi ketika rapat Paripurna itu, persis seperti wajah Jokowi ketika berbicara tentang Papua dan demo yang sia-sia. Saya akhirnya menilai, apapun yang membuat rakyat dikorbankan, maka disanalah dia mengeluarkan kemarahan.

Lepas dari siapa Menteri yang bersalah dan – kata banyak orang – membuat kemungkinan besar ada reshuffle, kita akhirnya sama-sama mengenal Jokowi. Bagaimana dia bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tetapi buat orang kecil dan miskin, dimana dia pernah menjadi bagian dari mereka. Dan ketika Jokowi berkuasa dan berusaha menolong mereka dimasa sulit, dia tidak menemukan para Menterinya mempunyai perasaan seperti dirinya. Mungkin karena para Menteri itu sejak kecil terlahir sebagai orang berkecukupan, bukan seperti dirinya yang pernah bahkan untuk makan saja susah..

Pak Presiden, izinkan saya memberikan hormat untuk anda. Tidak sia-sia saya mengawal anda selama ini. Secangkit kopi mungkin bisa saya berikan sebagai simbol rasa hormat saya atas kepribadian anda yang luar biasa..

Seruput..

Markibong

Komentar