Denny Siregar: DEMOKRAT SOK-SOKAN USIR DIRUT INALUM, RUPANYA GAK PAHAM PASAR MODAL

Saya lucu lihat anggota DPR bernama M Nasir saat dengar pendapat dengan Direktur Utama Inalum.

M Nasir ini anggota DPR dari partai Demokrat. Dia ada di komisi VII yang membidangi sektor energi, sumber daya mineral, riset dan teknologi juga lingkungan hidup. Seharusnya anggota DPR yang ada disini itu yang pintar-pintar, paham bagaimana mengawasi pengelolaan negara termasuk perusahaan di sektor yang bersangkutan.

Tapi ternyata nggak. Video saat M Nasir berantem dengan Orias Petrus Murdak, Direktur utama Inalum, bikin saya ketawa ngakak. Apa pasalnya ? Ya, kualitas berpikir DPR kita ternyata jauh lebih rendah bahkan dari saya yang rakyat biasa.

Coba bayangkan, bagaimana bisa seorang anggota DPR membandingkan hutang perusahaan besar seperti Inalum dengan dia hutang usaha di Bank ? Jelas beda. Ini bisa diartikan si M Nasir itu gak paham dunia ekonomi bahkan pada tingkat pelajaran yang paling dasar.

Memang, bagi orang biasa, atau pengusaha biasa, mungkin seperti M Nasir, mereka biasanya hutang di Bank untuk mendapatkan kredit usaha. Dan hutang di Bank harus mengikuti prosedur Bank, seperti menjaminkan sertifikat rumah atau barang berharga. Bagaimana kalau tiba-tiba si M Nasir gak bisa bayar hutang ? Ya, sertifikatnya pasti disita Bank, karena sudah dijaminkan sebagai pelunasan hutang.

Tapi beda dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Inalum yang punya aset 162 triliun rupiah itu. Inalum udah gak mungkin hutang ke Bank seperti si M Nasir biasa hutang. Bahkan dengan aset sebesar itu, Inalum bisa aja beli Banknya..

Perusahaan sebesar Inalum itu selalu berhutang ke pasar modal, pasar yang jauh lebih luas dan besar daripada sebuah Bank. Di pasar modal banyak sekali perusahaan Capital atau bahkan perseorangan yang mencoba memutarkan dananya melalui skema investasi. Banyak pilihan investasi di pasar Modal, mulai dari yang moderat sampai yang resikonya tinggi tapi hasilnya juga tinggi.

Nah, Inalum dengan modal aset 162 triliun itu dan pekerjaan yang sedang dan akan dikerjakan mereka dengan nilai yang juga berniali ratusan triliun rupiah itu, mencari hutang ke Pasar Modal.

Untuk apa hutang itu ? Pertama, untuk membayar hutang lama yang jatuh tempo yang terbit saat dulu sebelum masa pemerintahan Jokowi sudah salah kelola.

Yang kedua, untuk memperbesar aset dengan mengambil alih atau mengakuisisi perusahaan besar lainnya, seperti Freeport. Ya, hutang memang jadi lebih besar dengan proses akuisisi itu, tapi juga potensi pendapatan menjadi berlipat-lipat.

Nah, untuk mendapatkan uang dari Pasar Modal itu, Inalum menerbitkan surat hutang yang dikenal namanya dengan Bond. Ngeluarin surat hutang itu juga gak main-main, karena melibatkan perusahaan-perusahaan internasional sebagai underwriter, atau penjamin. Tugas perusahaan yang menjadi underwriter itu adalah melakukan evaluasi terhadal Inalum, apakah dia punya kemungkinan bayar hutang atau tidak.

Sebagai contoh, waktu Inalum mengakuisisi Freeport sebesar 55 triliun rupiah, perusahaan underwriternya mulai dari Citibank, BNP Paribas, CIMB Malaysia sampai Standar Chartered. Nama-nama Internasional semua, bukan kaleng kaleng.

Kalau gitu, apa jaminan dari Inalum kepada para pemberi pinjaman yang pegang surat hutang atau bond mereka ?? Ya, kepercayaan. Para pemberi pinjaman percaya kepada Inalum berdasarkan bukti-bukti nilai aset dan pekerjaan mereka yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan internasional. Nilau kepercayaan ini sangat besar dibantu dengan bukti-bukti kemampuan bayar. Nama Inalum dan nama perusahaan-perusahaan penjamin dengan brand internasional itu sebagai jaminan.

Lalu bagaimana kalau misalnya Inalum tiba-tiba tidak mampu bayar lagi ? Apakah asetnya disita ?

Haha ya tentu tidak. Karena surat hutang itu jaminannya bukan aset, tetapi kepercayaan, jadi tidak ada yang akan disita. Palingan nama Inalum dan perusahaan underwriter itu akan jatuh dan ini berbahaya karena berpengaruh pada nilai saham. Para pemberi pinjaman tentu juga tidak ingin Inalum jatuh, maka mereka akan kembali memberikan hutangan. Jaminannya apa ? Ya, kepercayaan lagi.

Begitulah hukum di dunia pasar modal. Si peminjam mendapatkan uang untuk bekerja, dan si pemberi pinjaman mendapatkan keuntungan dari hasil kerja si peminjam. Jaminannya ya surat hutang atau Bond itu. Dan itu biasa aja, sudah berlaku puluhan tahun lamanya..

Lalu kenapa si M Nasir ngamuk ngamuk ??

Karena dia gak paham, gak pernah mau belajar, tapi sudah duduk di Komisi yang sangat penting di DPR RI. Saya yakin, itu Direktur utama Inalum dan banyak pemain pasar modal lainnya, pada ketawa ngakak ngeliat si M Nasir dari Demokrat itu ngamuk dan membuka ketidak tahuannya dengan telanjang.

Sebagai tambahan informasi, M Nasir ini kakak kandung M Nazarudin, mantan bendahara Demokrat yang pernah dipenjara karena korupsi Wisma Atlet. Gak penting juga sih, cuman supaya kita tahu aja.. 😄

Pesan moralnya, untuk para partai terutama Partai Demokrat, tolong lah, cari anggota DPR yang mumpuni untuk duduk di bidang yang bergengsi seperti Komisi VII itu. Jangan orang gak tau apa-apa, malah didudukkan disana. Akhirnya ya gitu, pake emosi untuk menutupi ketidak tahuannya selama ini. Ketika akal tidak bekerja, maka otot yang bicara 😄

Gua juga gak pintar pintar amat masalah obligasi ini, tapi gua mau belajar supaya ngerti. Bukan kemudian udah goblok, tapi sok tahu dan tuding sana tuding sini. Jadinya bukan kelihatan pintar, tapi makin memperlihatkan kebodohan yang hakiki…

Seruput dulu kopinya..

Markijar. Mari kita belajar..

Komentar