DAKWAH YANG MENODAI CITRA ISLAM I Catatan Syafiq Hasyim

Kenapa ada kecenderungan selama ini bahwa orang yang dulunya, katakanlah hidupnya berperilaku bertentangan dengan agama atau tidak tahu agama sama sekali, ketika kembali lagi ke agama mereka langsung buru-buru ingin menjadikan diri mereka sebagai pendakwah agama, pemberi pengetahuan dan kebijakan pada diri orang lain, padahal mereka baru saja tahu soal agama.

Para muallaf, mantan anak jalanan, preman, atau apa sajalah, begitu masuk dan tahu sedikit tentang Islam langsung ingin menggurui pihak lain. Tidak hanya menggurui, namun juga menyalah-nyalahkan pihak lain.

Mengapa mereka tidak mau “menggendapkan” diri dulu, belajar yang lebih dalam, mempersiapkan dasar-dasar keilmuan Islam, melafalkan al-Quran dan hadis Nabi dengan pelafalan yang benar berdasarkan tajwid, dan lain sebagainya, baru berdakwah. Kenapa mereka selalu ingin terburu-buru, ingin tampil, ingin dipanggil ustadz, akibatnya apa yang disampaikan seringkali jauh dari apa yang seharusnya diberikan oleh seorang pendakwah yang sejati.

Apakah mereka ini malah tidak memperburuk kualitas dan citra Islam itu sendiri? Apakah mereka tidak takut mendapat penilaian jika kualitas para pendakwah Islam hanya begitu saja, membaca dan melafalkan al-Quran saja tidak fasih dan tidak lancar?

Fenomena seperti inilah yang saya sebut dengan istilah ketidaksesuaian antara gairah keislaman dan kemampuan yang harus dipunyai oleh seorang muballigh atau seorang pendakwah. Kemampuan tenaga mereka tidak diimbangi dengan kemampuan akal mereka. Apakah hal ini tidak membahayakan bagi Islam? Jelas, saya berpendapat fenomena para pendakwah yang model beginian lebih mengakibatkan dampak negatif daripada dampak positifnya terhadap citra Islam itu sendiri.

Di dalam al-Quran berdakwah itu dilakukan sebagian di antara kita saja. Umat Islam secara menyeluruh tidak diwajibkan untuk melakukan dakwah. Dalam al-Quran sudah dijelaskan, misalnya, “Dan di antara kalian, hendaklah ada umat–komunitas Islam—yang menyerukan kepada kebaikan, memerintahkan hal yang ma’ruf dan mencegah keburukan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Al-Imran: 104).

Ada beberapa hal penting yang perlu ditekankan di dalam ayat ini.

Pertama, dakwah itu tidak merupakan kewajiban semua orang, karena tidak kewajiban semua orang, maka ada hal-hal yang perlu dimiliki oleh seorang pendakwah.

Kedua, pendakwah itu menyerukan hal-hal baik, al-khair. Definisi al-khair ini luas sekali. Sebagian jenis kebaikan dituturkan di dalam al-Quran dan hadis Nabi dan sebagian besar kebaikan lainnya tidak dituturkan di dalam al-Quran dan hadis Nabi. Jadi, jika ada muballigh sedikit-sedikit menilai kebaikan yang dilakukan oleh seseorang itu sebagai bidah karena tidak ada di dalam al-Quran dan Sunnah Nabi, maka muballigh yang demikian ini biasanya memang demikian halnya. Ilmunya hanya sampai di situ saja.

Ketiga, pendakwah harus memerintahkan kepada hal yang “ma’ruf.” Istilah ma’ruf ini satu akar kata dengan “urfun” (kebiasaan). Namun, biasanya orang menafsirkan kata ma’ruf sebagai kebalikan dari kata munkar. Al-Ma’ruf itu lebih tepat diterjemahkan sebagai kebaikan yang dikenal oleh banyak orang. Seorang muballigh harus memiliki kecakapan untuk menyampaikan hal ini.

Keempat, pendakwah harus memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya hal yang munkar, sesuatu yang dianggap keluar dari jalur agama. Atau kebalikan dari al-ma’ruf tadi. Hal yang perlu diingat, melarang hal yang munkar jangan dengan cara yang munkar pula. Misalnya, tidak menyertai dakwah dengan intimidasi lisan maupun tindakan, kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.

Masih banyak hal lain yang harus dimiliki kualifikasinya oleh seorang pendakwah. Namun, seringkali pendakwah kita tidak membutuhkan untuk memiliki kualifikasi-kualifikasi di atas. Anehnya, para audien mereka juga memaklumi saja, terutama kalau si pendakwah tadi menyebutkan mantan agama ini, mantan profesi itu, dlsb.

Kalau yang demikian terjadi, audien mereka bukan audien yang sehat dan bertanggung jawab, karena audien tidak boleh membiarkan kekonyolan-kekonyolan keagamaan yang mereka buat dengan mengatasnamakan dakwah. Siapapun yang berdakwah, baik itu muallaf, mantan preman, atau mantan apa saja, mereka tetap harus mengindahkan kapasitas mereka untuk berdakwah. Terutama kapasitas ilmu.

Ada yang mengatakan, masak mau dakwah saja dilarang? Jika ada yang mengingatkan tentang kandungan dakwah mereka, maka itu bukanlah larangan. Aktivitas dakwah sama sekali tidak dilarang, namun jika konten dakwah itu tidak sesuai dengan keilmuan, maka konten yang tidak berlandaskan keilmuan itu jangan didakwahkan.

Jangan menggunakan dakwah sebagai alasan untuk menyebarkan gagasan-gagasan dan bahan-bahan keagamaan yang tidak memiliki landasan pada disiplin ilmu tertentu di dalam Islam. Kalau memang si pendakwah belum sampai pada level ini, maka sebaiknya mereka menjadi obyek dakwah saja, menjadi mustami’ (pendengar), menjadi pembelajar, menjadi pemerhati saja. Kalau maqamnya masih pendengar (mustami’), ya jalani saja sebagai mustami’ sembari belajar lebih dalam.

Dalam dunia dakwah yang kita pikirkan, bukan hanya soal meningkatkan popularitas diri kita, namun juga harus memikirkan tentang peningkatan kecerdasan masyarakat yang membutuhkan dakwah dari kita. Jika ada dakwah yang tidak mencerdaskan, namun malah membodohkan, maka dakwah tersebut termasuk dalam kategori sesat-menyesatkan (dhallu fa adhallu). Sayangnya fenomena yang demikian masih saja terjadi di tengah-tengah kita.

Karena betapa pentingnya dakwah di dalam kehidupan umat Islam, maka saya mendukung adanya lembaga yang melakukan pendidikan dan penilaian para pendakwah. Jika umat Islam ingin mengalami kemajuan, maka salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mendapatkan materi dakwah yang mendukung pada kemajuan, bukan menanamkan hal-hal yang malah menyebabkan kita mengalami degradasi.

Kita butuh lembaga yang menyeleksi bahwa tidak semua orang boleh berdakwah. Jangan karena artis lalu kita permisif memberi jalan mereka berdakwah, namun kandungan dakwahnya sangat ngawur. Seorang artis boleh berdakwah, jika si artis tersebut memang memiliki kapasitas untuk berdakwah, ilmu berdakwah.

Sebagai catatan, jika kita terus membiarkan fenomena dakwah asal-asalan sebagaimana yang sering kita lihat di TV, Youtube dan lain sebagainya, maka kita tidak akan bisa mendapat kepada kemajuan bagi umat Islam.

Komentar