Mari Kita Menjadi Bagian Mayoritas Yang Membela Minoritas I Catatan Syafiq Hasyim

Kasus-kasus yang menyebabkan guncangan hubungan antara mayoritas dan minoritas umat beragama nampaknya akan selalu ada dan muncul di negeri kita. Beberapa minggu lalu kasus terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang dipersoalkan, lalu kini isu berpindah lagi, lagu-lagu anak-anak yang diduga sebagai upaya sistematis untuk menjauhkan Islam dari Indonesia. Meskipun untuk kasus terakhir ini Ustadz Zainal sudah meminta maaf atas ketidaktahuannya, namun cara berpikir konspiratif yang menyatakan minoritas akan menghabisi mayoritas akan terus dan selalu muncul.

Logika “perang agama” akan terus dihembuskan, terutama dari sebagian kelompok mayoritas yang merasa tidak yakin akan kekuatan menjadi mayoritas. Di Indonesia, kelompok Kristen akan selalu menjadi sasaran tembaknya, karena kelompok Kristen dianggap sebagai kelompok agama yang menurut mereka memiliki potensi yang membahayakan akan mayoritas. Bukan hanya demikian, Kristen dianggap memiliki dukungan dari dunia Barat yang liberal dan sekuler, yang menyebabkan Kristen menjadi obyek kecurigaan kelompok mayoritas.

Kalau terjadi cara konspiratif dan kecurigaan yang terus-menerus seperti ini, siapa sebenarnya yang harus yang harus bertanggung jawab atas hal ini semua? Menurut saya, tanggung jawab berada di tangan kelompok mayoritas, utamanya. Namun mayoritas yang saya maksud di sini adalah mayoritas yang sehat.

Siapa mayoritas yang sehat ini? Mayoritas yang sehat adalah mayoritas yang mampu bersikap jernih dan adil, serta bisa menjelaskan kepada kelompok mayoritas yang lain bahwa cara berpikir konspiratif dan penuh curiga sebenarnya tidak akan membuat baik negara maupun agama mayoritas ini. Justru cara berpikir yang demikian ini akan menyebabkan negara dan agama menjadi panutan kelompok mayoritas akan set back, karena ketidakmampuan mereka dalam mendayagunakan diversitas dan pluralitas sebagai kekayaan.

Penjelasan-penjelasan seperti ini harus dilakukan oleh kelompok mayoritas yang sehat ini, karena dalam konteks kita, penjelasan apapun dari kelompok minoritas akan dianggap sebagai pembelaan dan kemungkinan tidak akan diterima oleh kelompok mayoritas. Banyak hal yang menyebabkan ini semua terjadi.

Karenanya, di sinilah sebenarnya letak pentingnya mengapa kelompok mayoritas yang sehat ini perlu memberikan penjelasan kepada sesama kelompok mayoritas mereka sendiri, yang masih dikuasai oleh cara berpikir sempit, konspiratif dan penuh kecurigaan. Jika kelompok mayoritas yang sehat ini tidak memberikan penjelasan kepada sesama mereka, maka kecurigaan dan persangkaan akan jalan terus, berjalan kepada kelompok minoritas di atas.

Alasan lain yang menyebabkan kelompok mayoritas yang sehat ini harus ikut bertanggung jawab untuk mengurangi prasangka buruk dan cara pandang konspiratif di atas, adalah prasangka dan cara pandang konspiratif itu biasanya berasal dari kelompok mayoritas, bukan berasal dari kelompok minoritas.

Sebagai mayoritas, kita harus memperkenalkan narasi-narasi kedekatan antara Islam dan kelompok minoritas. Ada tiga hal yang mungkin berguna untuk memberikan contoh betapa kedekatan antara Islam dan kelompok minoritas atau agama minoritas di Indonesia.

Pertama, melalui jalan sejarah, di mana kita menjelaskan bahwa secara historis, antara Islam dan agama minoritas di Indonesia adalah sangat dekat. Kristen misalnya adalah bagian dari tradisi Abrahamik sebagaimana Islam juga. Penuturan sejarah yang baik akan bisa banyak membantu kita semua menjaga hubungan yang baik antara Islam dan agama-agama minoritas yang hidup di Indonesia.

Kedua, melalui jalan teologis. Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam dan masyarakatnya sesungguhnya banyak mengajarkan hal yang baik, tentang bagaimana kita harus memperlakukan umat-umat agama lain sebagai manusia.

Manusia harus dihargai dan dihormati sebagaimana mestinya. Demikian juga agama lain memiliki hal yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Islam dan yang dipikirkan oleh umat Islam, bahwa agama lain adalah agama yang harus dihormati.

Dalam sebuah buku yang berjudul al-turath al-masihy al-Islami, karangan Layla Tukla, seorang professor berkebangsaan Mesir dan beragama Kristen Koptik, di sana dikatakan jika banyak tradisi kekristenan yang memiliki kedekatan dan bahkan akar yang sama dengan Islam. Tradisi itu meliputi konsep-konsep tentang ketuhanan, kenabian, tentang kebaikan dan banyak hal lainnya. Karenanya, buku yang dia tulis diberi judul di atas yang artinya, Tradisi Kekristenan yang Islami.

Ketiga, melalui jalan menghadapi masalah dan membagi pengalaman bersama. Sebagai kelompok mayoritas, kita, umat Islam di Indonesia, harus mengajak sesama mayoritas yang lainnya untuk bersama-sama dengan kelompok minoritas agama di sini, dalam menghadapi masalah yang bisa dihadapi secara bersama-sama. Misalnya, masalah kemiskinan, masalah pandemi dan banyak hal lain lagi.

Masalah-masalah yang demikian di atas sebenarnya bukan masalah kelompok mayoritas saja, namun juga masalah bagi kelompok minoritas. Dari sini lalu kita bisa membagi dan mencarikan jalan keluar bersama-sama atas masalah-masalah yang kita hadapi bersama pula.

Lalu apa makna membagi pengalaman bersama? Membagi pengalaman bersama adalah berbagi cerita antar sesama kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, atas pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi bersama, sebagai umat beragama dan sebagai umat manusia. Pengalaman-pengalaman yang saling dibagikan di antara kelompok umat beragama ini tidak hanya pengalaman yang baik saja, namun juga mungkin pengalaman yang buruk. Hal ini perlu agar terjadi silang pembicaraan keagamaan yang berdasar pada realitas hidup yang dihadapi bersama.

Sebagai catatan, tiga jalan yang saya usulkan di atas, akan bisa menjadi salah satu strategi untuk mengatasi hal-hal yang terjadi selama ini, namun saya berpendapat bahwa kuncinya tetap terletak pada kelompok mayoritas yang sehat untuk menjadi pelopor. Akhirnya saya ingin katakan, mari kita menjadi bagian kelompok mayoritas yang sehat, yang menjaga dan melindungi kelompok minoritas kita.

Komentar