Denny Siregar: MAU JATUHKAN JOKOWI, TUNGGU 2024 AJA…

Sesudah beberapa lama TimeLine istirahat, sekarang kita mulai ketemu lagi. Minal Aidin Wal Faidzin ya sobat, mohon maaf lahir dan batin.

Oke, kita masuk tema pertama. Tanpa banyak publik yang sadar, sebenarnya sejak beberapa waktu lalu ada gerakan-gerakan kecil untuk mencoba membangun persepsi menurunkan Presiden. Gak tau kenapa, mereka sepertinya gak sabar banget Jokowi memimpin sampai 2024. Mungkin karena terlalu lama, dan mereka udah karatan nunggunya.

Ini bukan paranoid, tapi kita bisa melihat keping-keping petunjuk supaya bisa membayangkan gambar besarnya.

Keping pertama adalah saat kontroversi lockdown dan kontra lockdown, waktu awal Covid 19. Ada beberapa pihak, bahkan partai yang dengan sistematis membangun wacana supaya Indonesia lockdown. Bahkan beberapa kepala daerah yang berada dalam satu partai, sudah melakukan lockdown duluan tanpa koordinasi dengan pusat. Ini jelas memainkan persepsi supaya pusat dianggap lemah dan tidak berwibawa.

Tapi pemerintah pusat mengambil jalan lain, yaitu lewat PSBB. Dengan PSBB maka urusan penanganan Covid 19 banyak diserahkan ke daerah, dengan begitu serangan ke pusat jauh berkurang. Dan berhasil, orang kemudian fokus pada daerahnya masing-masing dan memunculkan panggung-panggung baru yang diisi oleh beberapa kepala daerah.

Sesudah fase PSBB dilakukan, sekarang masuk ke fase new normal untuk memulihkan ekonomi negeri. Karena sesudah gempa besar Covid 19, maka tsunami resesi ekonomi sedang datang kesini. Dan itu sudah disuarakan banyak pengusaha besar, kalau mereka hanya bisa bertahan sampai Juni. Kalau tidak, maka bulan Agustus diprediksi akan terjadi PHK besar-besaran.

Dan perhatikan, siapa mereka yang menolak new normal ? Ya, mereka lagi mereka lagi. Partai dan orang-orang yang kemarin menyerukan lockdown. Narasi mereka bahkan lebih sadis, “Kalau new normal dilakukan, maka akan terjadi pembunuhan massal”. Ngeriiiihh..

Memangnya kenapa mereka tidak ingin new normal ? Supaya nanti PHK besar-besaran terjadi di negeri ini. Pengangguran meluas. Dan orang lapar akan mudah diprovokasi untuk membuat kerusuhan. Lihat saja kalau itu terjadi, siapa yang akan bertugas ngompor-ngompori ? Ya, mereka itu lagi, partai-partai itu lagi, yang pengen lockdown, yang juga menolak new normal dan kelak mereka yang akan berteriak, “Jokowi gagal, turunkan segera !”

Mereka membuat perangkap untuk menjebak tikus. Sayang, mereka lupa. Yang dihadapi macan, perangkapnya kekecilan…

Keping kedua, adalah isu lama dan basi, yaitu isu PKI. Cuman kali ini isu itu dibungkus lebih rapih, yaitu dengan memunculkan isu Islam versus PKI supaya gaungnya lebih besar. Islam yang mereka bangun, diwakilkan dengan para habib.

Ketika Bahar keluar dari penjara, maka niat mereka akan menggiring perlawanan terhadap PKI. Dengan begitu, mereka berharap akan mendapat simpati karena membawa agama sebagai jualannya. Dan siapa PKI nya ? Haha, kita sudah tahu bahwa sejak lama mereka selalu menuduh Jokowi dan pemerintah yang berkuasa sekarang ini banyak diisi oleh anggota PKI.

Sayang, mereka gagal maning gagal maning. Rakyat sudah cerdas, bukannya dapat simpati, mereka malah jadi bahan tertawaan dimana-mana. Malah sekarang mereka coba mengerucutkan isu PKI itu ke Direktur TVRI yang baru dipilih, Iman Brotoseno. Gak bisa lawan Jokowi, ya lawan Dirut TVRI lumayanlah daripada gak ada…

Nah, keping ketiga, sesudah partai bermain, ormas bermain, sekarang giliran kalangan akademisi. Kalangan akademisi ini tugasnya membangun wacana bahwa menurunkan Presiden di masa pandemi ini sah adanya. Dan itu mereka lakukan lewat meeting seminar virtual yang mereka publikasikan kemana-mana.

Yang kalangan akademisi sok pintar ini tidak sadari adalah bahwa rakyat sudah banyak yang pintar sekarang dan tidak gampang dibodoh-bodohi. Bukannya dapat simpati, malah mereka dapat protes keras dari masyarakat sendiri. Malah bukan dari pemerintah.

Dan akhirnya seminar itu batal-batal sendiri. Mereka sendiri yang membatalkan. Tapi, ciri khas kelompok ini, mereka selalu mencoba mengambil sisi dizolimi. Ada yang bilang, pemerintah menghalangi kebebasan berpendapat lah. Bahkan ada yang mengaku-aku diancam dibunuh lah. Pokoknya, pemerintah harus salah. Mereka gak sadar, mereka berhadapan dengan rakyat yang waras sekarang. Pemerintah malah gak ikut campur tangan, karena rakyat bergerak sendiri menolak pembodohan yang mereka lakukan.

Orang juga sudah tahu, siapa tokoh-tokoh dibelakang seminar-seminar itu. Ya, para barisan sakit hati yang tidak mau terima kenyataan bahwa Jokowi adalah Presiden yang sah karena dipilih sebagian besar rakyat saat Pilpres kemarin.

Pertanyaanya, kenapa kelompok kelompok ini terus mencoba supaya Jokowi turun sebelum waktunya ?

Pertama, mereka sebenarnya sudah sesak napas. Sepuluh tahun Jokowi memimpin, bukan waktu yang sebentar. Dulu mereka pikir cuma satu periode saja, tapi ternyata lama. Pundi-pundi mereka sudah menipis, gerakan mereka sekarang lebih mudah dipetakan dan mereka sudah sulit mengambil ancang-ancang.

Yang kedua, di tangan Jokowi ini peta ekonomi lebih jelas arahnya. Investasi berlomba-lomba masuk, bahkan Amerika sendiri sudah mulai kesengsem sama Indonesia dan berencana memindahkan banyak pabriknya dari China ke Indonesia.

Kalau negeri ini sibuk dengan ekonomi, perutnya kenyang, pendidikannya bagus, lalu kelak mereka harus membodohi siapa ? Orang-orang bodoh untuk dikapitalisasi makin lama makin berkurang. Semua sibuk kerja nanti dan peserta demo nasi bungkus kelak akan menghilang. Lalu siapa yang mau beli jualan agama mereka, jualan propaganda mereka, dan jualan kemiskinan mereka ?

Bisa-bisa mereka yang miskin nantinya, karena jualan yang selama ini jadi unggulan mereka, sudah tidak laku. Dan mau tidak mau seperti ayah Naen, sudah harus melepas dasternya dan kembali main organ di pesta-pesta perkawinan…

Markibong

Komentar