Denny Siregar: AMERIKA, SINI BELAJAR SAMA POLISI INDONESIA

Pada waktu demo besar di Indonesia bulan November tahun 2016 lalu, saya sempat ngeri melihat situasi Indonesia.

Bukan ngeri lihat pendemonya yang jumlahnya dibesar-besarkan, tetapi ngeri ketika negara salah menangani situasinya. Belajar dari negara-negara Timur Tengah waktu rame-ramenya Arab Spring, disana aparat melakukan kekerasan dalam menghadapi pendemo.

Kekerasan oleh aparat memang dinantikan pendemo yang punya strategi hit and run itu. Mereka sengaja menciptakan korban jiwa untuk membesarkan skala kerusuhannya. Ketika ada korban jiwa, maka mereka menggunakannya sebagai simbol perlawanan untuk menarik simpati lebih besar lagi. Itu seperti mengguyur bensin di pusat api.

Bahkan para pendemo memainkan strategi “playing victim”. Ketika ada korban luka karena kekerasan aparat, mereka memfotonya dan menyebarkan dengan caption yang menyentuh dan membuat geram. Kalau kurang seram, mereka bisa ambil foto-foto kekejaman dari negara lain dan mempostingnya seolah-olah itu terjadi di dalam negeri. Ruang media sosial memang memungkinkan untuk itu, beda dengan saat arus informasi hanya dikuasai oleh rezim yang berkuasa, seperti dulu masa Soeharto yang mengontrol semua media.

Dan kita lihat akhirnya. Beberapa negara jatuh, mulai Tunisia sampai Mesir. Hanya Suriah yang selamat dan bertahan, karena Presidennya didukung oleh rakyatnya yang mulai sadar bahwa perang mereka bukan saja dengan ISIS, tetapi juga melawan hoax yang merajalela.

Tetapi saat 4 November 2016 lalu, aparat kita bukan lagi aparat yang menangani kerusuhan tahun 98 dulu. Dipimpin oleh mantan Kapolri Tito Karnavian, yang sangat pengalaman dalam menghadapi terorisme, negeri ini selamat dari kerusuhan besar karena kepolisian menerapkan konsep persuasif.

Saya kaget juga melihat pada waktu itu, aparat kita tiba2 memakai peci, sorban dan bershalawat bersama para pendemo. Buat saya, ini strategi jenius sekali. Ibarat ketika berada di tengah serigala, kita jangan berlaku seperti kambing karena pasti dimangsa. Berlakulah seperti serigala juga dan membaurlah ditengah mereka.

Ketika sudah berada ditengah pendemo dan membaur, tanpa disadari kelompok itu, aparat meredam semua gerakan mereka dari dalam, memecah mereka menjadi beberapa barisan, dan menggiring mereka keluar perlahan-lahan. Saya menamakan strategi ini dulu sebagai strategi keran air. Ketika saluran mampat, keran harus dibuka pelan-pelan dan alirkan ke tempat yang lebih aman. Kalau saluran itu tidak dibuka, meledaklah dan air akan meluber kemana-mana.

Saya harus angkat topi buat pak Tito dan jajaran keamanan pada waktu itu yang disiplin menjaga barisan dan strateginya. Dan saya tahu, pak Tito menjaga perintah pak Jokowi untuk mengamankan situasi, tanpa menimbulkan keributan. 1-0 untuk Polri melawan pendemo.

Begitu juga pada waktu aksi 212, aparat kembali membuat gol cantik dengan menjadikan demo itu demo damai. Gimana gak damai ? Pagi2 pentolan-pentolan pembuat ribut dijemput di rumah mereka masing-masing. Tidak ditahan, tapi dengkul mereka langsung pada gemetar dan pada waktu aksi sudah gak berani koar-koar.

Dan gol penutup yang cantik Polri adalah saat demo pasca Pilpres di bulan Mei 2019. Berbekal laporan intelijen yang kuat, bahwa demo itu sengaja dibuat untuk membakar Indonesia dan akan ada beberapa korban jiwa yang dikorbankan oleh mereka supaya polisi terkena fitnah, kepolisian pun bergerak lebih cerdik lagi.

Polisi bahkan dihadap-hadapkan dengan pelajar, supaya jika ada pelajar itu yang mati, maka teriakan HAM dari seluruh dunia akan menyalahkan aparat dan pendemo akan mendapat simpati dari masyarakat, lalu kerusuhan akan meluas. Tetapi yang dihadapi pendemo bukan besi, aparat mengubah dirinya menjadi spons, meredam gelombang demo yang seperti air bah sehingga mereka frustasi dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan kecewa.

3-0 buat aparat keamanan, gabungan TNI dan polisi. Kemenangan ini menghantarkan rasa simpati dan hormat masyarakat kepada aparat, sehingga kondisi berbalik. Kalau di tahun 98, masyarakat benci kepada aparat, di tahun 2019, pendemo itulah yang dibenci rakyat dan aparat mendapat tepuk tangan panjang dan ciuman mesra dari penduduk Indonesia. Foto-foto dan video humanis bagaimana kerja keras aparat menghadang mereka adalah gambaran dari dukungan masyarakat luas kepada polisi dan TNI di lapangan.

Dan banyak dari kita yang masih belum mendapat pencerahan betapa hebatnya aparat kita dalam menangani demo-demo anarkis, sampai mereka melihat sendiri betapa brutal polisi di Amerika dalam menangani demo anarkis di negaranya. Kita melihat ada pendemo yang diinjak, di keroyok bahkan ada yang ditabrak pakai mobil segala. Bayangkan, kalau polisi kita kemarin berlaku seperti polisi di Amerika, sudah selesai negeri kita dan belum tentu kita bisa ngopi di rumah dengan nikmat seperti sekarang ini.

Tidak berlebihan misalnya kalau kira harus memberi penghargaan kepada pihak keamanan seperti polisi, TNI, pihak intelijen di lapangan dan pihak-pihak yang ingin negeri ini tetap tenang. Terimakasih juga kepada bapak Tito Karnavian, mantan Kapolri yang sudah menetapkan standar paling tinggi dalam karirnya. Juga bapak Jokowi, Presiden Republik Indonesia yang sudah memerintahkan supaya tidak menghadapi pendemo dengan senjata ditangan, tapi dengan komunikasi yang matang.

Saya tidak tahan untuk menghadiahkan secangkir kopi untuk aparat kita yang semakin profesional dalam tugasnya.

Seruput dulu, pak.

Markibong.

Komentar