MENGHAFAL PENTING, MEMAHAMI ISI AL-QURAN JAUH LEBIH PENTING I Catatan Syafiq Hasyim

Saya sering mendapat pertanyaan dari banyak kalangan, “Mengapa menghafal al-Quran begitu marak di negeri kita dan apa yang menyebabkan fenomena semacam ini terjadi?”

Dalam bulan Nuzul Quran kali ini saya akan mengupas tentang latar belakang dan mengapa menghafal al-Quran lebih populer di kalangan masyarakat di Indonesia, dibandingkan dengan memahami al-Quran di atas.

Jujur harus saya katakan di sini bahwa fenomena menghafal al-Quran di Indonesia begitu dahsyat terjadi, paling tidak dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini. Pesantren hafalan al-Quran dibuka di mana-mana, tidak hanya dibuka, namun juga diminati oleh banyak kalangan di Indonesia. Dulu mereka yang mengirimkan anak mereka menghafal al-Quran adalah kalangan kelas menengah ke bawah dan rata-rata dari masyarakat pedesaan. Namun kini orang-orang kaya di kota berbondong-bondong juga mengirimkan anak mereka untuk menghafalkan al-Quran di pondok-pondok pesantren penghafal al-Quran.

Sudah barang tentu banyaknya jumlah penghafal al-Quran itu merupakan hal yang menggembirakan bagi kita semua, namun lebih menggembirakan lagi apabila banyak juga yang memahami isi al-Quran. Mengkaji, memaknai, mencari rahasia hidup dan pengetahuan dan menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup yang tidak akan lekang. Tanpa kemampuan memaknai al-Quran, maka sesungguhnya kita memiliki hidup yang kurang sempurna.

Kita tampaknya banyak sekali penghafal al-Quran, namun sedikit sekali pengkaji al-Quran. Sayangnya, banyak penghafal al-Quran yang tidak mengerti isi dan makna al-Quran itu sendiri.

Mari kita melihat sejarah pewahyuan al-Quran. Al-Quran diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dengan membawa dua hal penting. Pertama, al-Quran diwahyukan untuk membuka hati (fath al-qulub) dan kedua, al-Quran diwahyukan untuk membuka akal (fath al-‘aql) orang-orang Mekkah dan Medinah pada saat itu. Mereka yang hati dan akalnya terbuka, berhasil bisa menerima dan menjadikan al-Quran sebagai cara mereka berakhlak, menjalani hidup dan sekaligus benteng perlindungan bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Mengapa banyak orang menghafal al-Quran? Mari kita lihat pengertian dan definisi al-Quran yang diberikan oleh para ahli di dalam kitab-kitab mereka. Al-Quran mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, yang dengan membacanya kita sudah mendapatkan pahala (al-muta’abbad bi tilawatihi).

Karena dengan membacanya saja sudah mendapatkan pahala, maka bisa dimaklumi, apabila banyak umat Islam yang antusias membaca al-Quran. Membaca di sini juga termasuk menghafal karena menghafal adalah bagian dari membaca al-Quran–dalam pengertian luas—yaitu membaca al-Quran melalui hafalan.

Tradisi menghafal al-Quran yang begitu meriah ini mestinya dibarengi juga dengan kegairahan untuk memahami isi al-Quran. Kecintaan kepada al-Quran itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk menghafal, namun juga diwujudkan dalam bentuk mengkaji al-Quran. Memaknai kandungan al-Quran, mencari rahasia hidup dan pengetahuan dan menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Tanpa kemampuan memaknai al-Quran, maka sesungguhnya hidup kita masih jauh dari sempurna.

Negara seluas Indonesia dan tempat tinggal umat Islam terbesar di dunia, seharusnya menjadi tempat yang subur tidak hanya bagi tradisi tilawah dan penghafalan al-Quran, namun juga menjadi tempat pengkajian al-Quran. Selama ini keadaan di Indonesia timpang, kita memiliki banyak sekali penghafal al-Quran, namun kita memiliki tidak banyak para penafsir al-Quran. Keadaan yang timpang inilah yang menyebabkan sedikit sekali kita memberi sumbangan pada pengembangan ilmu tafsir di tingkat global.

Selain itu, karena kurangnya para pengkaji al-Quran sehingga marak pemahaman-pemahaman atas al-Quran yang tidak didasarkan pada ilmu itu menjadi marak. Tidak hanya paham, namun juga marak gerakan-gerakan ekstrem yang didasarkan pada cara penafsiran al-Quran yang pendek dan tak berdasar.

Rasulullah sendiri pernah menyatakan dalam sebuah hadisnya:

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian semua adalah seseorang yang membaca al-Quran, hingga terlihat kebesaran al-Quran pada dirinya. Dia senantiasa membela Islam. Kemudian ia mengubahnya, lantas ia terlepas darinya. Ia mencampakkan al-Quran dan pergi menemui tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya syirik. Saya (Sahabat Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak atas kesyirikannya, yang dituduh ataukah yang menuduh?” Rasulullah menjawab: “yang menuduh”. [HR. Bazzar].

Idealnya, seorang penghafal al-Quran juga merupakan penafsir al-Quran. Dia mengerti dan memahami makna setiap kata yang dia hafalkan. Namun pada kenyataannya tidak demikian adanya. Pesantren-pesantren hafalan al-Quran biasanya hanya menfokuskan diri pada hafalannya. Para santri tidak terlalu banyak dibebani untuk belajar alat menafsirkan al-Quran. Karenanya, banyak kita jumpai penghafal al-Quran yang tidak paham dengan makna dan kandungan al-Quran. Mereka melakukan hafalan ini semata-mata untuk keperluan ibadah (ta’abbudi), bukan untuk keperluan tafakur atas wahyu Allah. Ta’abbudi bisa dicapai dengan hafalan, namun tafakur hanya bisa dicapai dengan belajar untuk memahami kandungan al-Quran.

Di pusat-pusat hafalan al-Quran pesantren-pesantren tradisional, setelah menamatkan hafalan al-Quran, mereka melanjutkan belajar ilmu-ilmu keislaman seperti Nahwu, Sharaf, Fiqih, Ilmu Tafsir, Usul Fiqih dan lain sebagainya. Untuk meningkatkan pada pemahaman al-Quran. Semua dipelajari agar mereka bisa memaknai, menafsiri dan memahami secara benar kandungan al-Quran.

Karenanya, keadaan yang sangat ideal bagi kita semua adalah apabila para penghafal al-Quran juga mengetahui dan memahami isi al-Quran. Keadaan ini yang bisa membawa kita, umat Islam Indonesia, umat Islam terbesar, memberikan sumbangan pada pengembangan kajian al-Quran. Bukankah memahami al-Quran adalah kunci kemajuan Islam?

Komentar