Denny Siregar: BANYAK PERUSAHAAN RONTOK, PHK BESAR-BESARAN?

Di Inggris sekarang terjadi perdebatan sengit antara mereka yang pro kesehatan versus pro ekonomi. Yang pro kesehatan masih tetap pada sikap semula, kalau Inggris masih harus lockdown. Dan mereka membeberkan data kalau kematian di Inggris akibat Corona masih terus meningkat.

Sedangkan yang pro ekonomi menganggap kalau lockdown sudah terlalu lama, dan sudah saatnya memulihkan kembali ekonomi negara. Perang data statistik antara korban meninggal karena Corona dan korban PHK juga terjadi. Masing-masing bertahan pada pendapatnya.

Kalau di Indonesia masih sibuk dengan bansos, negara seperti Inggris sudah sibuk dengan bail out, atau menyelamatkan keuangan perusahaan-perusahaan supaya mereka tidak mem-PHK karyawannya. Inggris sendiri dikabarkan sudah menyiapkan dana hampir 2 ribu triliun rupiah sebagai stimulus ekonomi.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang sempat terkena Corona, akhirnya lebih memilih ekonomi. Dia mulai meminta warga negaranya untuk mulai kembali kerja, meski tetap menjaga jarak dan memakai masker.

Tidak ada pilihan lain memang, karena sampai sekarang belum diketahui sampai kapan masalah Corona ini selesai. Gak mungkin nunggu setahun lagi, bisa bangkrut semua orang, termasuk gua.

Dan situasi yang sama sebenarnya yang sedang negara kita alami. Pandemi Corona ini benar-benar menekan ekonomi. Produksi berhenti, tidak ada pembelian, ekspor tertahan, dan kita harus siap-siap akan ada PHK besar-besaran. Mulai April saja, sudah ada 2 juta pekerja yang kena PHK. Dan ini berarti pengangguran di negeri ini semakin bertambah.

Dan untuk menahan dampak ekonomi akibat virus, Menteri Keuangan sudah merinci akan berhutang sebesar hampir 1.500 triliun rupiah. Dana ini bukan saja untuk bantuan sosial bagi warga yang terdampak, tapi juga membantu perusahaan supaya tidak hancur lebur.

Sekarang saja, maskapai Garuda dan pabrik baja Krakatau Steel akan disuntik dana sebesar 11,5 triliun rupiah supaya tetap bisa beroperasi dan menggaji karyawan-karyawannya. Bukan itu saja, beberapa BUMN juga harus diselamatkan. Untuk menyelamatkan beberapa perusahaannya, negara akan menyuntik dana 152 triliun rupiah.

Pusing kan dengar kata-kata triliun-triliun itu? Tapi itulah yang harus dilakukan oleh negara, kalau tidak bayangkan berapa juta korban PHK nantinya? Itu lebih berbahaya lagi.

Situasi yang mirip seperti di Inggris inilah yang membuat di Indonesia ada benturan kepentingan antara kementerian yang mengurus kesehatan dan kementerian yang mengurus ekonomi. Kementerian yang mengurus kesehatan tentu tetap tidak ingin PSBB dilonggarkan, karena takut penyebaran wabah akan lebih meluas. Apalagi jumlah data mereka yang positif Corona terus bertambah, meski jumlah yang sembuh juga banyak.

Tapi gak begitu dengan menteri yang mengurus perekonomian. Mereka harus menjaga bagaimana ekonomi negara kita tidak ambruk. Apalagi para pengusaha sudah deklarasi kalau mereka hanya bisa bertahan sampai bulan Juni. Selebihnya, mereka akan kibarkan bendera putih. Karena itulah kementerian yang mengurus perekonomian mengusulkan supaya PSBB dilonggarkan, dan warga kembali beraktivitas supaya ekonomi kembali bergerak. Kantor-kantor harus kembali buka dan aktivitas usaha harus kembali normal, meski pengawasan tetap dilakukan.

Dan Menteri Perhubungan juga sudah memulai dengan membuka kembali jalur transportasi publik seperti pesawat terbang, bus antarkota, dan kereta api, supaya orang terpancing untuk gerak lagi.

Bahkan dari BNPB sudah ada pengumuman kalau warga yang berusia di bawah 45 tahun, diperbolehkan bekerja kembali. Warga usia di bawah 45 tahun adalah warga yang lebih tahan dari dampak Corona dan mereka juga adalah tulang punggung ekonomi.

Jadi, gak usah bingung kenapa kok pernyataan pemerintah seperti berubah-ubah. Tadi katanya PSBB, besoknya jalur transportasi tiba-tiba dibuka. Pandemi Corona ini memang seperti makan buah simalakama, dimakan bapak mati, gak dimakan ibu mati.

Inggris aja bingung mana yang harus didahulukan, ekonomi apa kesehatan? Dan bukan hanya Inggris, banyak negara juga begitu, seperti Amerika dan Perancis. Itulah ciri negara demokrasi. Kalau di China, mau berdebat atau menentang program pemerintah, besoknya langsung dijemput dan hilang mendadak.

Yang harus kita lakukan sekarang adalah percaya sajalah pada pemerintah. Gak perlu bingung dengan segala teori konspirasi global atau apalah. Gak penting juga. Emang terus kalo tahu, kita mau apa? Mau perangi elit global itu dengan rebahan aja?

Juga tidak perlu sok pintar, pemerintah itu banyak ahli-ahlinya. Mereka pasti sudah berfikir dari banyak arah sebelum memutuskan sesuatu, dan itu semua pasti demi kebaikan kita bersama.

Meski begitu, saya dengar bulan Juni kemungkinan besar situasi akan coba dinormalkan kembali. Ekonomi akan digerakkan lagi, mall-mall boleh beroperasi, dan aktivitas sekolah berjalan lagi. Cuma ya itu, pengawasan akan diperketat dan kita disuruh menjaga jarak dan harus pakai masker kemana-mana.

Gapapalah, capek juga dua bulan rebahan di rumah aja. Sudah saatnya kita tarung lagi. Keluarga di rumah butuh makan dan kita juga butuh eksistensi.

Markirak, mari kita gerak.

Komentar