APAKAH KHILAFAH SOLUSI COVID-19? I Catatan Syafiq Hasyim

Dalam era wabah pandemi COVID-19 seperti ini, promosi lamat-lamat tentang khilafah di negeri ini masih saja terjadi. Seperti biasa, mereka mengklaim jika sistem khilafah adalah sistem politik yang bisa mengatasi segala macam masalah di dunia, apalagi kalau hanya soal yang terkait dengan COVID-19.

Menurut klaim mereka, sistem khilafah bisa mengatur tata-kelola kesehatan modern yang kini cenderung sudah menjadi business-oriented, rumah sakit yang tidak siap, dan hal-hal lain, misalnya soal obat dan lain sebagainya. Kata penganut sistem khilafah, khilafah itu solusi untuk apa saja, atau dalam bahasa lain disebut dengan istilah Islam kaffah.

Keadaan pandemi seperti yang kita alami ini membuat promosi sistem politik apapun akan marak terjadi, termasuk sistem politik berbasis khilafah ini. Sistem politik yang telah dibekukan di hampir seluruh negara Islam di dunia dan termasuk yang agak terakhir adalah di Indonesia –sejak 2017—tapi mereka sepertinya tidak lelahnya untuk menawarkan ideologi mereka dalam banyak cara dan strategi di negeri kita.

Bisa dikatakan bahwa dalam setiap peristiwa nasional yang genting dan krisis, maka hadirlah promosi sistem khilafah ini.

Sudah barang tentu sebagai sebuah diskursus keagamaan, kita tidak bisa mencegahnya untuk muncul di ruang publik. Bahkan, kita pun sendiri juga tidak akan mampu memberikan penyadaran apapun pada mereka yang sudah memiliki keyakinan yang begitu mendalam atas sistem khilafah di atas.

Jika demikian halnya, biarlah mereka seperti yang terjadi pada saat ini. Dalam hal ini, kita hanya perlu membentengi orang-orang awam yang tidak mendalami masalah sejarah dan politik Islam, agar mereka tidak terjebak dalam promosi ini.

Saya kira klaim bahwa, sistem khilafah bisa menyelesaikan masalah Covid-19 itu tidak begitu berdasar. Ada beberapa hal yang membuat saya menyatakan demikian halnya.

Pertama, wabah di dunia ini tidak hanya terjadi pada masa saat ini saja. Sejak zaman peradaban Islam mulai muncul, sampai kekuasaan Islam modern, wabah selalu terjadi di sana. Pada masa dinasti Ummayah dan Abbasiyah misalnya, pernah terjadi beberapa kali wabah besar.

Pada masa kejayaan kerajaan atau kekhalifahan Utsmani juga pernah terjadi wabah. Di mana wabah yang terkenal dengan sebutan black death ternyata juga mempengaruhi kekuasaan baru Dinasti Utsmani yang baru muncul pada saat itu. Dari semua sistem politik yang beragam di atas di dalam dunia Islam, tidak ada yang benar-benar kebal dari wabah karena sistem politiknya yang mereka anut.

Kedua, sistem politik apapun, jika mereka tidak mampu memproduksi obat atau vaksin atau disiplin sosial yang bisa menghalau wabah dan juga sistem kesehatan yang baik, maka tetap saja sistem politik di atas dianggap tidak mampu memberikan solusi atas wabah yang terjadi.

Pendek kata, COVID-19 ini bukanlah masalah agama atau sistem politik tertentu. Baik memakai haluan syariah atau tidak, baik berdasarkan Islam atau tidak, COVID-19 pada kenyataannya adalah virus yang sangat mematikan.

COVID-19 tidak memilih agama dan sistem politik korbannya. Baik pengikut khilafah atau bukan pengikut khilafah semua bisa terkena, jika dia tidak mentaati protokol kesehatan yang dianjurkan untuk mencegah terinfeksinya Covid-19.

Jika ada yang menyatakan mau COVID-19 khilafahlah solusinya, maka hal ini tidak benar. COVID-19 adalah persoalan nyata, empiris, dan terkait dengan ilmu pengetahuan. Jika masalahnya empiris dan medis, maka jawabnya bukan sistem politik, tapi sistem kesehatan dan medis yang canggih, yang bisa tumbuh dalam sistem politik apapun di dunia ini.

Kita sudah diberi contoh oleh para ulama-ulama terdahulu bahwa semenjak abad 3 Hijriyah sampai zaman sekarang, mereka para sarjana Islam dalam sistem politik yang beda-beda berusaha untuk menemukan apa yang bisa mengatasi masalah wabah ini. Sistem politik bisa mendukung, namun yang terpenting adalah dukungan ilmu pengetahuan dan juga dukungan riset-riset yang ada untuk wabah yang sedang terjadi.

Ketiga, khilafah adalah sistem politik biasa, yang bisa mengalami kemajuan dan juga bisa mengalami kemunduran. Khilafah bukan sistem yang sempurna.

Dalam sebuah kitab berbahasa Arab yang berjudul al-Khilafah al-Islamiyyah, karangan Muhammad Said al-Asymawy seorang sarjana terkemuka dari Mesir, dikatakan, “Al-khilafah al-Islamiyyah –idzan—laisat ruknan min al-iman wa la hukman min al-syari’ah lakinnaha juz’un min tarikh al-Islam,” jadi khilafah Islamiyah itu bukan bagian dari rukun iman dan bukan pula bagian dari hukum Syari’ah, namun khilafah adalah bagian dari sejarah Islam.

Masih menurut al-Asymawy ini, mencampur-adukkan antara Islam dan sejarah (khilafah) adalah kesalahan fatal (khat’un fadihun).

Keempat, dalam sejarahnya, sistem khilafah sebagai sistem politik lebih banyak memproduksi pertentangan daripada perdamaian. Khilafah tidak bisa menjadi pemersatu negeri-negeri muslim. Sejarah telah memberi tahu kita bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan, ada tiga sistem khilafah yang berkuasa pada saat itu, yang pertama adalah Khilafah Abbasiyah di Baghdad, Khilafah Umayyah di Andalusia dan Khilafah Bani Fatimah di Mesir. Ini adalah contoh dalam sejarah kita.

Kelima, hal yang paling penting ternyata adalah sistem khilafah itu tidak berjalan secara seragam, namun berbeda-beda dari waktu ke waktu. Sejarah juga telah membuktikan kepada kita bahwa khilafah itu tumbuh, berkembang, lalu gagal atau mati.

Sebagai catatan di sini, sekali lagi saya ingin katakan bahwa COVID-19 itu bukan lagi soal mencari sistem politik, namun bagaimana mencari obat dan virus atau segala macam cara yang bisa menghentikannya, untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

 

 

 

 

 

Drrhgzdrh

Komentar