Denny Siregar: ANNISA POHAN BAPER, DEMOKRAT CAPER

Saya sempat kaget juga sih, waktu dikirimi teman potongan twitnya Annisa Pohan, istri Agus Harimurti, anak Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Presiden.

Annisa marah dan mengadu ke Jokowi, karena merasa anaknya saya bully. Saya ingat-ingat lagi, dimana saya pernah bully anak mereka ya? Oh, ternyata itu berkaitan dengan twit saya yang menyoroti berita surat terbuka putri Agus Harimurti, yang meminta Jokowi untuk lockdown.

Saya jelas ketawa lah, padahal di situ saya tidak sedang membully seorang anak. Meskipun saya juga heran, kok bisa ya anak usia 12 tahun paham tentang konsep lockdown.

Yang saya paham, sejak awal Demokrat adalah partai yang mendukung lockdown, di saat Jokowi sedang mencari cara bagaimana agar masalah wabah juga tidak mengganggu perekonomian negara. Dan itu disampaikan langsung oleh Agus Harimurti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru.

Bahkan sebelumnya, SBY yang mantan Presiden dan pendiri Partai Demokrat, sudah sibuk dengan narasi supaya Indonesia lockdown mengikuti jejak banyak negara yang sudah melakukan hal yang sama seperti Singapura dan India.

Meski akhirnya suara SBY pun berusaha lebih lembut, dengan mendukung kebijakan Jokowi tidak melakukan lockdown di negeri ini. Biasalah SBY, dia bisa aja main di dua kaki. Tapi sikap Partai Demokrat masih jelas tetap menyuarakan lockdown.

Ingat pada waktu awal heboh virus di Indonesia, Walikota Tegal, memberlakukan lockdown kota sepihak tanpa berkoordinasi dengan pusat. Dia menutup jalan-jalan di kota Tegal dengan beton untuk menghalangi kendaraan keluar masuk. Tentu saja ini membuat kerjaan pusat menjadi lebih rumit dalam penanganan wabah, karena ada pemerintah daerah yang berjalan sendiri-sendiri.

Dan siapa pengusung Walikota Tegal pada waktu Pilkada lalu? Partai Demokrat. Walikota Tegal juga pernah menjadi Ketua DPC Partai Demokrat di Brebes.

Di Malang juga sempat sama, ada seruan lockdown dari Walikota Malang. Meski akhirnya diralat, karena menurut Walikota Malang, “Lockdown adalah urusan Presiden.”

Dan di partai mana Walikota Malang berada? Demokrat lagi.

Begitu juga seruan awal Gubernur Papua, yang Ketua Demokrat. Awalnya sibuk menyerukan lockdown, meski akhirnya belakangan hari diralat.

Jadi kita akhirnya bisa menyimpulkan, kalau narasi lockdown itu tidak bekerja secara acak, tetapi dibangun lewat kendaraan partai dan dieksekusi oleh pemerintah daerah yang berada dalam satu kendaraan.

Tapi saya harus maklum sih, karena Demokrat butuh suara. Suara Demokrat terus jatuh berkeping-keping dari masa kejayaannya di tahun 2009 lalu.

Dulu Demokrat sempat punya suara nasional 20 persen. Kemudian tahun 2014 turun jadi 10 persen. Dan tahun 2019 kemarin, mereka cuma dapat 7 persen suara. Demokrat yang dulu jaya, sekarang hanya menempati posisi ke 7 dari 8 partai yang lolos ke Senayan.

Sedikit di atas PAN yang hampir gagal, tapi di bawah PKS yang dulu jadi mitra terdekat mereka.

Dan untuk menaikkan suara, Demokrat butuh momentum supaya orang bisa melirik kembali kepada mereka. Saat wabah inilah, Demokrat lalu memainkan strategi lockdown untuk meraih simpati supaya partainya tidak hilang saat Pemilu 2024 nanti. Wusss..

Sudah dapat gambaran besarnya?

Yang lucu, Demokrat ini sebenarnya juga tidak begitu percaya dengan konsep lockdown. Buktinya, saat wabah mereka malah menggelar kongres dan mengumpulkan banyak orang di satu tempat. Dan hasilnya, Bupati Karawang, kader Demokrat yang ikut kongres itu, tertular virus.

Jadi Demokrat itu bisa dibilang partai yang lain di bibir, lain di hati.

Berdasarkan gambar besar itulah saya membuat twit yang poinnya, Bapak – yaitu SBY – sudah bilang lockdown, anak – yaitu AHY – juga sudah teriak lockdown. Karena kurang didengar dan tidak berhasil, maka cucu pun menulis lockdown. Bahkan kalau ada cicit, cicitnya pun mendadak jago bicara lockdown.

Ini sebenarnya penggambaran bahwa narasi lockdown untuk meraih suara supaya Demokrat mendapat simpati publik, memang terus dikeluarkan. Supaya Demokrat tampak sebagai partai yang peduli terhadap kesehatan warga.

Jadi tidak fokus pada anaknya saja, meski terus terang saya masih kurang percaya anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.. eh, maksudnya, anak sekecil itu bisa dengan jelas paham dengan konsep lockdown. Pasti ada yang bisikin.

Cuma Annisa Pohan, sebagai ibu kandung, baper. Merasa si anak kesayangan diserang. Annisa memang tidak paham politik, jadi wajar dia bereaksi sesuai naluri. Meski saya juga bingung, ngapain ya ngadu ke Jokowi?

Annisa Pohan, mending jangan main twitter deh kalau masih baper. Twitter itu ganas, apalagi keluargamu keluarga politik. Sindiran, ejekan, bullyan biasa di situ. Di sana tarung bebas, bukan media sosial khusus masak memasak.

Lebih baik fokus jadi ibu rumah tangga saja. Jauhi media sosial, apalagi bawa anak ke dalam pusaran politik

Percayalah, kamu gak akan kuat. Biar itu urusan keluarga Jokowi saja. Mental keluarga mereka, mental baja. Jangankan disindir atau dibully, mereka dihina PKI saja, masih bisa ketawa-ketawa.

Markiper, Mari kita baper.

Komentar