ANIES-GATOT-SOEHARTO-212 MENUJU 2024 | Logika Ade Armando

Kelihatannya kampanye Anies sebagai presiden 2024 semakin serius, semakin sering kita melihatnya dan kubu Anies kelihatannya semakin tidak sabar untuk mengkampanyekan jagoannya ini. Tagar #AniesKeren sudah semakin sering saya lihat, #AniesGubernurIndonesia, #AniesInsyaAllahPresiden2024 sudah semakin sering muncul di media sosial.

Tapi kali ini saya mau menyebut satu video khusus. Video khusus itu berjudul, “Indonesia Butuh Pemimpin Nasionalis” tentang Anies sih, tapi bedanya dengan barang kali produk-produk media sosial yang lain, kali ini yang akan kita bisa identifikasi adalah siapa saja orang-orang yang berada di kubu Anies. Tidak terlalu mengejutkan. Tapi menurut saya penting bahwa video ini menunjukkan siapa orang-orang tersebut.

Nah, video berdurasi tiga menit ini menggambarkan Anies sebagai sosok pemimpin idaman. Dia itu humble, dia itu pintar, lulusan UGM, S1 S2, kemudian dia itu mampu memimpin, berhasil mengatasi corona, berhasil mengatasi banjir, dan juga dia itu anti korupsi. Pokoknya dia itu hebat.

Tapi bukan itu, seperti yang saya katakan penting. Itu pinggirannya saja, yang lebih penting adalah mengenal siapa-siapa saja orang yang tampil di video tersebut. Paling itidak saya bisa menyebut ada tiga pihak yang secara khusus ditonjolkan dalam video tersebut.

Pertama adalah Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI. Kedua adalah Soeharto dan barang kali keluarganya, sebetulnya. Dan ketiga adalah Gerakan Islam 212. Ketiga kubu itulah yang kita lihat bisa diidentifikasi sebagai pendukung Anies for President 2024.

Pertama-tama kita mulai dari Gatot Nurmantyo dulu. Sejak awal memang ditampilkan Gatot sebagai sosok yang menonjol. Gambar di covernya saja adalah Anies bersama Gatot Nurmantyo. Ada kalimat bahkan atau semacam disclaimer di salah satu gambar yang bilang begini, “Jendral Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan, terserah, dua-duanya pantas jadi presiden dan jadi wapres.”

Jadi, kelihatan bahwa ini adalah duet. Tentu saja yang ingin ditonjolkan adalah Anies sebenarnya tapi sebetulnya kalaupun Gatot juga oke. Gatot ditampilkan sebagai hero beneran. Dia misalnya digambarkan, kenapa dia diberhentikan sebagai Panglima TNI, itu karena dia secara berani membongkar penyelundupan senjata ilegal dari Cina. Jadi dikatakan bahwa Gatot itu diberhentikan karena dia berusaha membongkar rencana busuk tersebut.

Kemudian muncul pula ada foto Anies bersama Gatot dengan teks, “Gatot dan Anies berpeluang diminati kelompok Islam.” Ada juga Gatot tampil dengan baju tentaranya dengan pernyataan gagah, “TNI dan POLRI milik rakyat. Jangan melacurkan diri pada pemerintahan yang gagal.” Ya maksudnya pemerintahan Jokowi tentu saja.

Jadi memang kepengen sekali Gatot ini rupanya untuk menaklukkan Jokowi dan ada pula foto tentara-tentara sedang salat. Jadi tentara dan Islam.

Yang kedua adalah Soeharto. Ini tidak banyak sebetulnya. Tapi tiba-tiba saja di tengah video tersebut muncul sebuah foto yang menampilkan Soeharto dan Anies Baswedan. Tidak berdampingan. Tapi Soeharto di atas, Anies Baswedan di bawah. Buat kita yang belajar komunikasi kita akan mengatakan, itu menunjukkan sesuatu mengenai hubungan keduanya.

Jadi, dua adalah Soeharto.

Ketiga adalah 212. Kalau ini sangat kentara. Sejak awal memang Anies digambarkan sebagai orang yang dekat sama kelompok Islam. Misalnya saja, salah satu gambar pertama yang ditonjolkan di sana adalah Anies bersama, tidak lain dan tidak bukan, Abdul Somad.

Kemudian ada foto Anies bersama sejumlah pria berpakaian sorban, entah siapa, barang kali 212. Ada pula, tiba-tiba muncul meme, Imam Syafi’i, imam besar dalam Islam, yang kalimatnya begini, “Carilah ulama yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan munafik dan jadikanlah ia sebagai ulama yang membimbingmu.” Jelas maksudnya adalah ulama yang dibenci oleh kafir dan munafik itu adalah Anies Baswedan.

Jadi, Anies itu adalah ulama yang dipercaya untuk membimbing umat Islam menghadapi kaum kafir dan munafik.

Jadi buat saya, yang terpenting adalah itu tadi, video ini menjelaskan siapa koalisi yang akan mendukung Anies Baswedan buat Presiden 2024. Karena begini, selama ini orang sering menyangsikan, okay Anies mau maju sebagai Presiden 2024, tapi siapa yang akan membiayai dia?

Karena membiayai pencalonan presiden itu akan sangat mahal. Sekarang saja untuk menyerang Jokowi dan mengangkat Anies di tahun-tahun ini saja, itu sudah memakan biaya yang mahal. Bayangkan Anda harus membuat meme, buat video, produk-produk media sosial lainnya untuk menyerang Jokowi setiap hari. Belum lagi harus bayar influencer, bayar buzzer, itu kan mahal. Begitu juga untuk mendanai kampanye untuk Anies Baswedan. Semua itu juga harus dilakukan.

Bayar materi-materi, bayar orang, pakai media, dan seterusnya-seterusnya.

Itu bukan sesuatu yang murah.

Nah, kalau tahun 2017 dulu memang ada Prabowo yang membiayai, tapi apakah Prabowo masih akan membiayai sampai 2024? Itu patut diragukan. Apalagi karena Prabowo sekarang sudah mendekat ke kubunya Jokowi.

Kemudian ada skenario lain. Barang kali Anies Baswedan akan menggunakan dana yang dia kumpulkan dari dana yang dia sedot dari Rencana Anggaran Belanja Pemda DKI Jakarta.

Dan itulah yang menyebabkan kenapa dia punya TGUPP besar, dia punya proyek-proyek tidak penting dibuat. Itu semua dalam rangka menyedot dana. Mencari dana untuk keperluan Presiden 2024.

Tapi jumlahnya berapa sih, kalaupun dikumpulkan? Lagipula kan ada banyak orang-orang Anies yang juga tidak terima kalau uang yang harusnya mengalir ke dia dipakai untuk kampanyenya Aneis.

Jadi, rada meragukan kalau datang dananya cuma dari mengumpulkan duit selama dia jadi gubernur walaupun barang kali dia sudah bisa menggalang dukungan dari ormas-ormas Islam, melalui hibah-hibah yang dia keluarkan selama dia menjadi gubernur. Tapi, seberapa besar sih dukungan semacam itu?

Karena itulah kemudian harus ada cukong yang lebih besar, bohir yang lebih besar. Sekarang kita mungkin mulai menemukan bahwa orang-orang itu adalah yang tadi itu. Pertama adalah Gatot Nurmantyo. Gatot Nurmantyo tentu saja orang penting, dia punya modal politik dan dia punya modal uang. Modal politiknya karena dia adalah orang yang sangat dipandang di jajaran militer dan dia juga sangat dipuja oleh kelompok-kelompok Islam.

Nah, kalau soal dana bagaimana?

Gatot itu kaya raya tapi tidak sekaya sampai bisa mendanai misalnya pencalonan Presiden 2024. Itu akan terlalu besar dananya. Tapi yang penting dari Gatot bukan Gatotnya, tapi ada orang di dekat dia yang konglomerat besar, namanya adalah Tomy Winata. Saya rasa Anda kenal. TW.

Tomy Winata ini dikenal sebagai orang yang memang generous mengucurkan dana. Apalagi kepada temannya. Jadi mereka itu memang teman dekat karena memang TW itu adalah salah seorang penyandang dana. Dia dibesarkan oleh proyek-proyek militer, kira-kira begitu. Dan kemudian dia berutang budi kepada militer dan punya kedekatan dengan tokoh-tokoh militer seperti Edi Sudrajat, T.B. Silalahi, dan juga Gatot Nurmantyo ini.

Jadi dari sana sangat mungkin dana itu mengalir. Lagi-lagi ini kemungkinan ya, belum tentu juga. Tapi kemungkinan dari TW.

Kedua adalah dari keluarga Soeharto. Orang barang kali membayangkan Soeharto begitu sudah tumbang maka habislah dia. Tapi kita jangan pernah lupa, uang yang dikorupsi oleh Soeharto menurut Transparency International adalah 15-25 miliar US Dollar. Makanya ia disebut sebagai presiden terkorup di dunia. Dan uang itu tidak habis begitu saja sesudah dia tumbang. Uang itu masih ada, uang itu masih berada di mana-mana, dan terus beranak pinak. Dan jangan lupa anak-anak beliau, anak-anak Soeharto juga adalah para pengusaha. Dan mereka, misalnya saja yang kita kenal, ada Tommy Soeharto, ada Tutut, ada Bambang Tri, adalah tiga dari orang-orang terkaya di Indonesia. Jadi mereka sudah balik, dan mereka memang sudah balik ke politik karena pada Pemilu 2019 saja, mereka sudah bersatu untuk mengembangkan Partai Berkarya. Partai Berkarya sih kalah, tapi kita tahu bahwa mereka masih punya ambisi politik tertentu.

Jadi dari mereka pun, kucuran dana bisa sangat-sangat besar. Jadi kita bisa melihat bahwa jangan pernah anggap enteng Anies, karena dia didukung oleh penyandang-penyandang dana yang besar seperti itu.

Baru kemudian kita bicara tentang kelompok Islam, 212. Ini adalah kelompok yang memang sakit hati, karena sejak naiknya Jokowi, dan bahkan sejak 2012 sebetulnya, itu mengalami degradasi. Kehilangan sumber dana, kehilangan sumber kekuasaan, kehilangan sumber politik, dan mereka akan mati-matian untuk memperjuangkan cita-cita mereka, yaitu mendirikan negara Islam, at all costs, dengan biaya apapun. Dan mereka pasti akan senang sekali kalau ternyata sekarang mereka melihat bahwa jagoan mereka, Anies Baswedan, itu didukung oleh dua kekuatan besar, yaitu Gatot Nurmantyo dan keluarga Soeharto.

Kombinasi ini semua, di situ ada Gatot, di situ ada keluarga Soeharto, di situ ada kelompok 212, adalah sebuah kekuatan yang akan terus hidup dalam politik kita sampai 2024, dan akan terus menggerus legitimasi Pak Jokowi, dan akan terus menerus mendorong agar masyarakat menerima ide tentang Anies Baswedan sebagai Presiden 2024.

Perlukah kita khawatir? Ya, perlu sih. Tapi saya sih orangnya optimis. Mengalahkan kelompok-kelompok semacam itu adalah sederhana. Sesederhana ini, gunakan selalu akal sehat, sebarkan selalu akal sehat, sebarkan kebenaran dengan akal sehat, karena hanya dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar