JOKOWI, NAJWA, DAN KADRUN PULANG KAMPUNG | Logika Ade Armando

Kalau saja kita sudah melewati wabah corona mungkin kita masih akan menghadapi wabah yang lebih berat dan lebih lama penyelesaiannya, wabah virus kadrun. Virus kadrun ini lebih berbahaya karena mereka menyerang otak dan menyerang hati.

Menyerang otak menyebabkan orang menjadi bodoh, menyerang hati menyebabkan orang menjadi penuh kebencian. Hal Ini saya sadari setelah saya menyaksikan wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Jokowi, 22 April yang lalu.

Bukan wawancara itu sendiri yang bermasalah, tapi apa yang terjadi sesudah wawancara. Membaca reaksi orang, respons orang, respons kaum kadurn, dan betapa mereka menanggapinya dengan cara yang betul-betul, menurut saya, bodoh dan penuh kebencian.

Wawancara itu sendiri seperti saya katakan berjalan dengan, menurut saya, baik. Najwa Shihab itu datang sebagai host yang well-equipped, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mewakili keingintahuan publik, disampaikan dengan tajam, dan pada saat yang sama juga dengan santun.

Pak Jokowi tentu saja juga keren. Pak Jokowi tampil penuh dengan percaya diri. Bayangkan, dia bersedia untuk diwawancara oleh Najwa walaupun ini tidak live tapi dia bersedia diwawancara oleh seorang pewawancara yang terkenal kritis dan dia berbicara apa adanya, secara terbuka.

Memang kadang-kadang kita melihat kakinya bergoyang-goyang, tanda bahwa dia gak sabar ketika dia wawancara, tapi that’s okay, yang terpenting adalah substansi jawabannya.

Wawancara dengan Presiden Jokowi itu, menurut saya, menjelaskan kepada kita tentang, bahwa pemerintah Indonesia menangani corona dengan cara yang terencana, dengan baik, berhati-hati, dan pro pada kepentingan rakyat.

Pak Jokowi berhasil, menurut saya, menjelaskan kenapa langkah-langkah itu yang diambil.

Misalnya saja dia bicara tentang kenapa Indonesia tidak lockdown? Kenapa kita tidak langsung karantina saja? Kenapa kita tidak langsung saja melarang orang mudik misalnya? Itu semua dijelaskan dengan sangat baik dan selalu kita bisa membaca bahwa itu semua dilakukan dengan pertimbangan rakyat kecil di atas segala-galanya dan semua dilakukan dengan penuh keberhati-hatian.

Jokowi menjelaskan bahwa tidak ada model tunggal di dunia ini yang sudah diketahui berhasil bisa mengatasi corona. Ada banyak model dan masing-masing model itu bisa jadi sesuai dengan negara masing-masing. Tidak bisa kita meniru begitu saja sebuah model yang sukses di sebuah negara dan kemudian kita terapkan di negara ini.

Kita punya konteks, kita punya kondisi yang sangat khas tentang Indonesia, yang sering kali barang kali menjadikan model yang dikembangkan, taruhlah di Wuhan, tidak relevan dengan Indonesia.

Dan Pak Jokowi berhasil menjelaskan itu kepada kita. Misalnya saja dia bilang bahwa, tidak bisa dong kita grasa-grusu, kita tidak bisa tidak berhati-hati, kita harus penuh hati-hati, kita harus terus melakukan ini dengan tahapan yang transisional, dengan tahapan yang bertahap, dengan melihat hari demi hari perkembangan yang ada.

Misalnya saja dia denga baik mengatakan, “Tidak bisa dong kita mengatakan, lebih penting mana ekonomi atau kesehatan?” Ya dua-duanya penting. Kesehatan tentu saja di atas segala-galanya, tapi kalau kita abaikan ekonomi, itu juga akan berdampak pada kesehatan orang, pada kesehatan rakyat.

Soal lockdown misalnya, dia dengan baik menjelaskan, pilihannya memang tidak gampang. Misalnya kalau kita harus milih, apakah seorang yang kehilangan pekerjaan, yang di-PHK, atau kehilangan penghasilan karena orang harus bekerja di rumah dan dia tidak bisa lagi memeroleh penghasilan, apakah orang semacam ini lebih baik dipaksa tinggal di Jakarta, tinggal di tempat kontrakannya, berdempet-dempetan tanpa ada penghasilan atau barang kali lebih baik atau lebih bijaksana atau lebih manusiawi untuk membiarkan dia pulang saja ke daerahnya dan tinggal di sana bersama keluarganya?

Itu bukan pilihan yang gampang. Dia menjelaskan dengan baik, kenapa KRL itu tidak dengan serta-merta dilarang saja antara Jakarta-Bogor, misalnya. Dia bilang, pemerintah pusat baru akan mengizinkan KRL dihentikan kalau pemerintah daerah, yaitu di Bogor, bisa memastikan bahwa para karyawan yang selama ini hidup dari Jakarta, dengan berangkat ke Jakarta, itu akan bisa dijamin kehidupannya di Bogor.

Kalau tidak, ya tidak bisa dihentikan KRL.

Pak Jokowi dengan kata lain menunjukkan kompleksitas permasalahan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pilihan hitam atau putih. Dan semua langkah Pak Jokowi ini nampak didasari pada data yang valid.

Misalnya pembicaraan mengenai mudik, kenapa akhirnya mudik dia izinkan? Itu dilakukan setelah evaluasi mengenai kemungkinan atau peluang berapa banyak orang dari Jakarta atau dari kota-kota lainnya memutuskan tetap mudik walaupun sudah ada kampanye besar-besaran tentang jangan mudik, jangan mudik, jangan mudik.

Tapi, ternyata masih ada puluhan juta warga yang menyatakan mereka tetap akan mudik dan ketika itulah pemerintah akhirnya harus memutuskan kalau gitu memang harus dihentikan mudik ini.

Tidak ada kata lain. Tidak ada jalan lain.

Karena imbauan demi imbauan ternyata tidak didengar. Tapi, pilihan ini akhirnya diambil barangkali dengan pait tapi itu harus diambil.

Jadi wawancara tersebut menurut saya sangat bermakna dan Pak Jokowi menyampaikan semua dengan sangat terbuka.

Misalnya saja dia mengakui bahwa ada ketidaksinkronan antara kementerian, ada ketidaksinkronan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, dan dia bahkan mengatakan, kalau benar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) punya data yang menunjukkan bahwa sebenarnya sudah ada 1,000 orang yang meninggal dan bukan hanya sekitar 600 atau 700 seperti yang diumumkan oleh pemerintah pusat, ya silakan. IDI harus menyampaikannya pada pusat.

Jadi tidak ada yang ditutup-tutupi.

Jadi Jokowi tampil sebagai seorang presiden yang sesungguhnya. He knows what he is doing. Pemerintah ini tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Nah, tapi tentu saja ada bayak hal yang harus didiskusikan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa semua baik-baik saja, bisa saja ada pertimbangan-pertimbangan lain, ada kompleksitas yang sebetulnya luar biasa mengenai penanganan corona ini. Harusnya terjadi diskusi mengenai itu.

Tapi sayangnya kaum kadrun ini tidak bersedia untuk melakukannya.

Mereka malah mengalihkan isu yang sekompleks tersebut menjadi sekadar perdebatan antara mudik versus pulang kampung. Dua istilah itu memang digunakan dan ada konteksnya. Dan tadi sebagian sudah saya jelaskan.

Jadi tidak perlu diulang.

Tapi kok bisa-bisanya kemudian kaum kadrun itu hanya memusatkan perhatian pada pertentangan antara mudik dan pulang kampung dan ada berbagai meme yang muncul untuk mengejek itu seolah-olah Pak Jokowi ini dungu, bodoh, sehingga tidak bisa membedakan atau harus membedakan antara mudik dan pulang kampung.

Bahkan harus ada talkshow, harus ada pernyataan-pernyataan yang datang dari tokoh-tokoh terkenal yang semua mengejek isu mudik dan pulang kampung.

Itu sampah betul.

Pada saat kita bicara tentang persoalan-persoalan seserius tadi yang saya sampaikan di awal itu dan orang hanya bicara tentang beda mudik dan pulang kampung, yang jelas beda, beda sebeda-bedanya.

Pak Jokowi sudah menjelaskannya secara sangat baik, dan karena itulah Najwa tidak bertanya lebih jauh lagi. Karena semua serba jelas. Tapi orang-orang ini memang pada dasarnya tidak ingin orang tiba pada sebuah kesimpulan yang lebih serius. Saya sendiri semula menganggap ini sekadar kebodohan dari kaum kadrun. Tapi setelah saya pikir ulang, jangan-jangan ini bukan kebodohan.

Ini adalah hal yang disengaja dilakukan oleh kaum kadrun agar kita tidak tiba pada percakapan yang lebih serius tentang wawancara tersebut. Karena mereka sadar, kalau kemudian kita amati secara serius percakapan antara Najwa dengan Jokowi, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa Jokowi knows what he is doing. Jokowi tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Dan yang dia lakukan itu adalah demi kepentingan bangsa.

Jadi dengan sengaja kamu kadrun itu berusaha mengalihkan perhatian, merecehkan hal, yang sebetulnya sangat serius, membuat ini menjadi sampah, agar orang lupa bahwa sebetulnya ada isu yang sangat substantif di situ, dan bagaimana pemerintah dengan sangat baik menangani corona.

Ini tentu saja sangat memalukan, tolol, sengaja, jahat.

Mereka mengajak masyarakat menjadi ikut dungu sama dengan mereka, karena mereka sadar hanya dengan masyarakat yang dungu lah, Jokowi bisa dilawan.

Marilah kita pertahankan akal sehat kita, karena hanya dengan akal sehat negara ini bisa diselamatkan.

Komentar