Catatan Syafiq hasyim I KITA SERAHKAN PENUNDAAN HAJI PADA PEMERINTAH

Berjumpa kembali dengan Catatan Syafiq Hasyim. Catatan kali ini secara khusus dipersiapan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Hal pertama yang ingin saya bicarakan adalah persoalan penundaan ibadah haji, yang kini sedang ramai dibicarkan di ruang publik.

Para calon jamaah haji sudah mulai gelisah, jika haji mereka mengalami penundaan. Tidak hanya mereka, Pemerintah dan DPR juga sedang memikirkan jalan yang terbaik untuk masalah ini. Dengan jumlah jamaah haji kita yang besar sekali, bahkan bisa dikatakan yang terbesar di seluruh dunia, penundaan ibadah haji akan berpengaruh terhadap faktor-faktor yang lain, termasuk faktor ekonomi.

Persoalan penundaan haji ini menjadi semakin rumit, karena ada sebagian kalangan yang tidak bisa menerimanya. Penundaan ibadah haji dianggap sebagai ulah konspirasi dunia. Seorang kyai dari Sarang, Rembang, yang bernama Najih Maimun mengaitkan penundan haji sebagai konspirasi dunia, untuk mengganggu syiar Islam. Beliau mengatakan, jika haji tahun ini dibatalkan, maka Kerajaan Saudi akan menerima akibatnya.

Yahya Waloni seorang pendakwah mualaf juga menyatakan di dalam youbtube-nya, jika tidak ada tawaf –berputar mengelilingi Kabah–, maka dunia ini juga akan berhenti berputar.

Catatan saya kali ini akan secara khusus mengupas, mungkinkah ibadah haji ditunda? Jika mungkin, siapa yang berhak untuk memutuskannya?

Wabah sebenarnya memang sudah ada sejak zaman Rasulullah, para Sahabat dan bahkan ada pada generasi-generasi berikutnya. Merekapun sudah memberikan contoh bagaimana menghadapi wabah tersebut.

Namun pernah adakah wabah yang menyebabkan penundaan pelaksanaan ibadah haji? Ini yang menjadi masalah dan bahan diskusi kita kali ini.

Pada tahun 1814, wabah terjadi di Hijaz yang menyebabkan gangguan pelaksanaan ibadah haji saat itu. Korban yang meninggal mencapai 8.000 orang. Pada tahun 1837 di tengah-tengah musim haji juga terjadi wabah yang memakan korban sekitar 1.000 orang per hari. Wabah ini terjadi sampai pada tahun 1892.

Meskipun wabah-wabah terjadi pada saat itu, namun haji tetap dijalankan. Banyak hal yang menyebabkan mengapa haji tetap dilaksanakan meskipun dalam kondisi wabah. Pertama, umat Islam percaya bahwa Mekkah dan Medinah adalah dua kota suci yang akan selamat dari segala bentuk marabahaya.

Yang kedua, banyak hadis dan riwayat Rasul yang menceritakan, kedua kota suci tersebut akan aman dari Dajjal dan Tha’un (wabah). Hadis-hadis di atas masih sangat dipegang oleh umat Islam seluruh dunia, bahkan sampai saat ini, termasuk umat Islam di Indonesia. Inilah kira-kira hal-hal yang menyebabkan umat Islam tetap ingin melaksanakan ibadah haji tersebut.

Namun, ketika wabah COVID-19 ini mulai merebak, justru Kerajaan Saudi memberhentikan pelaksanaan ibadah umrah. Bahkan tidak hanya umrah, tapi juga ibadah-ibadah lain yang berdimensi publik, seperti I’tikaf dan sebagainya. Apakah pemberhentian untuk sementara umrah ini juga akan menjadi indikasi akan penundaan pelaksanaan ibadah haji untuk tahun ini?

Sebenarnya soal usulan penundaan ibadah haji, terutama karena pandemi, tidak hanya muncul pada saat COVID-19. Namun juga sudah terjadi lama. Pada 2009 misalnya, ketika flu babi (H1-N1) merebak, banyak ulama yang mengusulkan agar ibadah haji ditunda. Namun saat itu, Kerajaan Saudi Arabia berdasarkan kajian fiqih dan kesehatan mereka, tetap mengambil kesimpulan bahwa haji masih bisa dilaksanakan.

Lalu bagaimana dengan Covid-19 ini? Yang karakteristiknya sangat membahayakan. Terutama dari kecepatan penyebaran dan juga bahaya mematikannya.

Syaikh Ali Muhyiddin Qaradaghi, seorang mufti terkemuka dari Tunisia, memiliki pandangan bahwa mungkin sekali dilakukannya penundaan ibadah haji untuk era COVID-19 ini. Menurutnya, penundaan ibadah haji merupakan hal yang bisa dilaksanakan, karena bahaya virus Covid-19 ini. Argumennya adalah, jika penyebaran COVID-19 ini merupakan hal yang pasti dan mengalahkan hal yang bersifat prasangka (al-dzan) dan apabila manusia berkumpul bisa menyebabkan penularan nyata, maka haji atau umrah bisa ditunda pelaksanaannya.

Ulama fiqih juga sudah sepakat bahwa kita boleh tidak melaksanakan (jawaz) ibadah haji dan umrah karena kekhawatiran akan ketidakamanan perjalanan. Apa yang disebut dengan konsep istitha’ah itu juga tergantung dengan keadaan yang aman. Penyakit pandemi seperti Covid-19 ini jelas boleh membolehkan seseorang tidak melaksanakan atau menunda ibadah haji, dengan catatan bahaya virus ini memang nyata adanya.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah website resmi dari lembaga fatwa di Tunisia.

Sebetulnya, keputusan tetap menjadi kewenangan Kerajaan Saudi Arabia. Apakah mereka akan mengadakan ibadah haji? Atau menunda pelaksanaan ibadah haji untuk tahun ini? Apabila Kerajaan Saudi berdasarkan konsultasi mereka dengan pelbagai kalangan, seperti ahli kesehatan, dokter, dan juga ahli virus memutuskan untuk menunda ibadah haji dan umrah, maka keputusan tersebut saya kira akan diterima oleh umat Islam di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan sikap pemerintah Indonesia? Sebetulnya pemerintah kita juga memiliki otoritas untuk menentukan penundaan ibadah haji. Karena pemerintahlah pemegang kekuasaan tertinggi untuk penyediaan fasilitas jamaah haji ke Mekkah dan Medinah?

Pemerintah kita bisa mengambil keputusan untuk menunda ibadah haji tahun ini dengan pertimbangan keamanan perjalanan dan keadaan darurat yang mengancam kematian. Dengan jumlah calon ibadah haji yang di atas 250 ribu per tahun, di mana mereka akan diangkut dalam pesawat yang tidak ada jaminan keselamatan dalam pesawat tersebut dari penularan Covid-19, ini sudah menjadi alasan yang bisa dijadikan untuk menunda ibadah haji tahun ini bagi Pemerintah.

Pemerintah harus memiliki kewajiban untuk menjaga penduduknya dan warganya untuk tidak tertular dari Covid-19.

Meskipun Pemerintah di sini adalah penentu keadaan darurat, mungkin secara hukum Islam, melalui Kementerian Agama, Pemerintah perlu meminta NU, Muhammadiyah, MUI dan lembaga-lembaga keagamaan yang otoritatif untuk mengeluarkan semacam fatwa akan penundaan ibadah haji untuk tahun ini.

Keputusan ini sudah harus dipikirkan dari sekarang dan diambil secara bersama-sama, agar semua pihak bisa menerima dan kita semua bisa ikut mengurangi penyebaran wabah yang mematikan ini.

Komentar