Catatan Syafiq Hasyim | BERANI “MEMIMPIN” DI ERA PANDEMI

Saya senang sekali menonton bagaimana Bupati Lombok Timur (Lotim) memberikan arahan atas hal-hal yang harus dia lakukan sebagai pemimpin daerah tersebut, terutama untuk menghindarkan rakyatnya dari penularan wabah virus Corona ini. Beliau mengatakan bahwa mereka tidak bisa lockdown secara langsung dan menyeluruh, tapi mereka bisa melaksanakan lockdown antar kecamatan.

Dan menariknya, yang dilockdown dalam hal ini termasuk penyelenggaraan salat Jumat, atau masjid-masjid. Kita tahu bahwa sementara ini banyak pimpinan daerah yang masih ragu soal penutupan masjid. Tindakan Bupati ini memang yang sangat berani. Bupati meminta agar aparat berwenang berdiri di depan masjid.

Masjid yang masih melaksanakan ibadah Jumat harus dihentikan. Bupati berkata, Masjidil Haram itu kurang apa berkahnya, toh juga ditutup. Dengan ini Bupati ingin mengatakan bahwa Masjidil Haram dan Masjid Madinah sebagai simbol masjid tertinggi bagi umat Islam saja ditutup, apalagi masjid-masjid kita.

Toh penutupan ini memang dikarenakan oleh adanya virus yang berbahaya. Dia juga menutip pandangan ulama al-Azhar yang memang menyetujui adanya penutupan masjid untuk salat Jumat. Bahkan dia memesan kepada para polisi agar mereka yang masih ngeyel untuk salat Jumat di masjid agar dibawa ke kantor polisi.

Pernyataan Bupati Lombok Timur ini menuai kontroversi. Bagi mereka yang tidak sepaham, mereka menganggap bahwa Bupati Lotim ini terlalu sombong dan arogan. Namun bagi yang sepaham, pernyataan Bupati Lotim ini merupakan pernyataan yang harus diambil oleh seorang pemimpin sejati. Tugas ulil amri memang untuk memimpin dan mengambil keputusan demi kemaslahatan bersama. Apa itu kemaslahatan bersama? Yaitu kemaslahatan yang diberikan dan ditujukan untuk rakyat yang dipimpinnya.

Dalam kaidah Usul Fiqih ada ungkapan yang mengatakan, “Tasharruf al-imam manuthun bi al-maslahah”, bahwa melaksanakan kekuasaaan, kepemimpin itu harus diikutkan pada kepentingan bersama.”

Kita tahu bersama bahwa urusan dengan ibadah publik ini memang perkara yang tidak mudah untuk di-handle bagi para pemimpin kita, terutama para pimpinan di daerah. Apalagi jika hal itu terkait dengan urusan ibadah kaum mayoritas. Namun yang lebih sulit lagi apabila sebagai pemimpin mereka gagal untuk mencegah infeksi COVID-19, akibat dibukanya masjid dan tempat-tempat ibadah yang lainnya.

Apa yang dikatakan oleh Bupati Lotim itu sebenarnya bukan larangan beribadah, namun larangan untuk beribadah di masjid dan tempat publik lainnya yang bisa menjadi penular virus Covid-19 ini. Bagi yang ngeyel mereka tetap berkata, pasar dan mall saja masih dibuka, kok masjid yang ditutup?

Dalam keadaan normal, suasana di mana tidak ada ancaman yang nyata akan adanya kematian, menutup rumah ibadah jelas tidak bisa ditolerir. Namun dalam keadaan yang mengancam kematian, masjid ditutup untuk menghindarkan kita semua dari marabahaya virus Covid-19 itu.

Tempat-tempat menjual kebutuhan makanan memang tetap dibuka, karena kita tetap butuh mempertahankan hidup kita dengan adanya makanan tersebut. Sementara untuk masjid, kita masih bisa beribadah di dalam rumah. Sudah ada tuntunan dari banyak ulama di Indonesia tentang bagaimana melakukan ibadah di rumah dalam keadaan pandemi seperti ini. Di sinilah sebetulnya implementasi dari kaidah usul fiqih yang mengatakan, darurat yang konsekuensinya lebih ringan itu lebih didahulukan daripada darurat yang konsekuensinya lebih berat.

Di sinilah sekali lagi, kepemimpinan itu merupakan hal yang penting dan tak terhindarkan dari kita. Pemutus akhir keadaan darurat itu sendiri adalah seorang pemimpin. Di dalam Islam, peran pimpinan –dalam berbagai levelnya– apalagi dalam era yang sangat sulit ini memang harus berkarakter decisive, tegas mengambil keputusan, namun tetap memperhatikan kepentingan publik.

Begitu kehadiran pemimpin itu sangat dianggap penting. Rasulullah pernah mengatakan: “Pemimpin itu adalah bayang-bayang Allah di bumi.” Al-sultan dhill allahi fi al-ardli, sultan adalah payung Allah di bumi. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Baehaqi.

Ibn Taymiyyah, seorang ulama dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan,

ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك (Situna sanatan min imamin jairin ashlahu min lailatin wahidatin bila sulton, watjrubah tabayanu dzalika).

“Enam puluh tahun di bawah pemimpin yang lacur itu lebih baik dari satu malam tanpa ada pemimpin dan pengalaman telah membuktikannya.”

Pernyataan Ibn Taymiyyah di atas jangan dipahami secara letterlijk (harfiah), tapi ambil makna implisitnya, bahwa kepemimpinan itu memang tidak bisa ditiadakan. Bukannya kita rela dipimpin oleh pemimpin yang lacur dan dzalim.

Hal ini jelas bukan inti pesan dari pernyataan Ibn Taymiyyah di atas. Ibn Taymiyyah mengibaratkan, tanpa ulil amri keadaan akan jauh lebih kacau. Tidak ada pihak yang bertangggung jawab atas segala kekacauan yang terjadi di antara manusia, kecuali pemimpin tersebut.

Jelas, kita tidak menghendaki semalam pun dipimpin oleh pemimpin yang dzalim, namun kita tidak mau juga adanya kekacauan karena hidup tanpa kepemimpinan di atas.

Kembali lagi ke masalah pentingnya mematuhi kepemimpinan. Pada dasarnya pentingnya mengikuti anjuran pemimpin adalah khas dari konsep kekuasaan, yang selama ini diyakini di dalam tradisi Islam Ahlu Sunah Wal Jamaah.

Saya kutipkan perkataan Sayyidina Hasan, beliau mengatakan bahwa, “Ada lima hal yang menjadi urusan para pemimpin dengan kita, yaitu: shalat Jumat, perkumpulan, adanya hari raya, hari libur dan soal batas-batas, sungguh demi Allah”, kata Imam Hasan, “Agama ini tidak akan tegak kecuali dengan adanya mereka, apabila mereka lari dan dzalim, sungguh Allah tidak akan berdamai dengan para pemimpin ini, kecuali membalas mereka sampai batas tertinggi dari kerusakan yang telah mereka perbuat.”

Sebagai catatan, pemimpin siapapun itu orangnya, adalah hal yang esensial bagi hidup kita, terutama di era pandemi seperti ini. Karenanya mari kita respek kepada para pemimpin kita. Caranya adalah patuhi segala hal yang baik dari mereka, dan ingatkan, serta kritik hal yang buruk dari mereka.

 

Komentar