SESAT PIKIR YAHYA WALONI SOAL KRISTEN DAN WABAH | Logika Ade Armando

Kalau dipikir-pikir ada banyak hal yang kita juga bisa pelajari dari wabah corona ini. Salah satunya adalah soal agama. Kita sekarang belajar bahwa beragama tanpa berakal memang bisa membahayakan. Ada banyak contohnya.

Tapi saya mau mulai dari seseorang yang bernama Yahya Waloni. Dia ini terkenal. Terkenal karena kontroversial. Ustad yang Youtube-nya banyak, video-video Youtube-nya banyak. Dia kontroversial karena dia ini seorang mualaf, artinya seorang yang pindah agama dari Kristen ke Islam.

Tapi kemudian sebagai seorang ustad dia senang sekali menyerang Kristen, menjelek-jelekkan Kristen. Dia bahkan barang kali sebenarnya memang jualan utamanya adalah fakta bahwa dia sebenarnya adalah mualaf. Dia dengan bangga menyebut dirinya sebagai mantan kafir.

Isi Youtube-nya banyak sekali menyerang Kristen. Misalnya, ada salah satu seri Youtube-nya yang berjudul “Membongkar Kesesatan Kristen”. Di bilang, ada banyak ritual dalam Kristen yang aneh dan bahkan gila. Saya kasih contoh, dia bilang, “Kenapa orang Kristen kalau meninggal itu harus pakai jas dan pakai dasi kupu-kupu?”

Dia bilang, “Ya karena, setelah dia meninggal, nanti dia akan berdansa-dansi dengan para malaikat.” Ngarang memang.

Tapi itulah yang membuat dia populer. Dia juga sering menyebar atau menggunakan hoax sebagai bahan ceramahnya. Dia misalnya bilang bahwa ada seorang ilmuwan di Amerika Serikat bernama Lawrence Johnson, yang bikin penelitian dan menemukan bahwa kalau saja umat Islam itu berhenti bertawaf di depan Kakbah dan berhenti sholat, maka dunia akan berhenti bergerak, tidak akan lagi berputar.

Penjelasan dia, dia bilang karena di dalam Kakbah, itu ada semi konduktor yang menyebarkan spektrum elektro-magnetik dan itulah yang akan menghentikan bumi. Benarkah itu? Ya jelas ngacolah. Coba aja Anda cari, browsing, seseorang yang bernama Lawrence Johnson. Bahkan kata si Yahya, Lawrence Johnson ini bicara di New York Times. Kalau kita cari ke New York Times, gak ada itu yang namanya Lawrence Johnson bicara tentang Kakbah.

Yahya juga bicara tentang ada seorang astronot di India, seorang perempuan yang bilang bahwa ketika dia di bulan, dia mendengar ada adzan lima kali sehari dari bumi. Ini juga ngarang. Anda cari saja bukti-buktinya di Internet. Nggak ada. Dan ini udah berulang kali dibantah. Tapi bagi orang seperti Yahya, ini gak masalah. Dia terus menyebarkan hal-hal semacam itu.

Oh ya, untuk informasi saja, dia adalah seorang pecinta Anies Baswedan, pecinta Prabowo, pecinta Presiden Soeharto. Dan pembenci Jokowi, pembenci Ahok, dan pembenci Quraish Shihab. Nah orang semacam ini terus menyebarkan kebohongan dan yang terbaru adalah soal corona. Dia bilang, corona itu hanya akan mampir ke orang-orang munafik. Jadi, jangan takut, dia bilang kepada orang Islam. Selama Anda beragama Islam dan sholeh, corona tidak akan menyerang Anda.

Karena itulah kemudian dia menghina Saudi. Dia bilang, Raja Salman itu sekarang itu kehilangan keberanian, pemerintah Saudi itu kehilangan keberanian, kehilangan keimanan karena melarang yang namanya naik haji, melarang yang namanya umroh. Dia bilang, kenapa harus takut? Dia bahkan memuji para jemaah yang datang ke acara ketika dia berceramah yang tidak mengenakan masker. Karena menurut dia, tidak mengenakan masker itu adalah bukti bahwa seseorang itu tidak munafik. Hanya orang munafik yang akan kena corona. Nah, orang-orang semacam ini banyak.

Tapi ada bagusnya juga, karena dengan demikian, kita semakin melihat betapa ada banyak orang-orang yang beragama tanpa berakal. Dan itu tidak perlu kita dengarkan. Tapi masalahnya memang lagi-lagi ini banyak. Kita juga dengar cerita-cerita atau bahkan video-video yang menampilkan gimana di berbagai tempat ada jemaah yang marah kepada pemerintah, karena pemerintah itu melarang orang untuk sholat Jumat di saat-saat wabah ini.

Misalnya ada video yang menggambarkan ada seorang jemaah atau sejumlah jemaah yang marah kepada petugas yang menghentikan sholat Jumat dengan mengatakan, “Apakah kalian takut kepada pemerintah atau kalian takut kepada Allah?”

Ada juga seorang ustad yang dengan gegap gempita mengatakan ini, “Wahai Corona, kami tidak takut dengan kalian, kami hanya takut pada Allah.”

Atau ada juga video yang menggambarkan ada jemaah yang marah karena ketika mereka datang untuk sholat Jumat tidak ada ustad yang datang di sana untuk memimpin sholat Jumat. Dan mereka mengatakan bahwa, “Kemana itu ustad? Kemana mereka? Apakah kalian takut sama corona? Kita datang ke masjid ini untuk beribadah kepada Allah. Untuk meminta agar Allah menyelematkan kita dari wabah corona. Kenapa kalian takut? Apakah kalian yahudi atau kalian muslim?”

Hal-hal semacam itu ternyata masih banyak sekarang terjadi. Dan ini memalukan apalagi karena kita tahu bahwa sebetulnya di dunia Islam sendiri sudah banyak pemerintah Islam dan ulama Islam yang menyatakan tidak wajib sholat Jumat dalam era wabah corona ini. Itu berulang-ulang dikatakan.

Tapi mereka tetap tidak peduli.

Barang kali mereka saking percayanya bahwa kalau sampai tidak sholat Jumat tiga kali, maka mereka dengan sedirinya akan dianggap sebagai kafir. Ya, mending kalau mereka sholat Jumat itu, kalau mereka memaksakan diri untuk sholat Jumat tapi tetap menjaga distancing misalnya, atau menggunakan masker. Tapi ini kan tidak dilakukan.

Barang kali juga karena mereka terlalu percaya bahwa kalau sholat Jumat, kalau sholat berjamaah itu harus rapat kaki ketemu kaki. Karena mereka percaya bahwa kalau sampai ada ruang di antara orang dengan orang, maka ruang itu akan diisi oleh setan. Hal-hal semacam ini terus terjadi. Saya dengar bahwa kalau di Kristen sekarang sudah ada khotbah-khotbah di hari Minggu yang dilakukan jarak jauh. Jadi si pendeta atau si pastur tetap memberikan khotbah, tapi para jemaahnya tinggal di rumah dan menonton khotbah itu dari jauh secara online.

Ini tidak bisa diharapkan terjadi dalam umat Islam barang kali. Umat Islam tetap menganggap bahwa kalau sholat Jumat itu harus bertemu langsung di masjid pada saat yang sama dan untuk mendengarkan ceramah yang sama. Gak peduli bahwa si jemaah itu banyak yang tidur barang kali.

Tapi yang penting adalah sholat itu harus berkumpul bersama dan itu wajib. Ini yang terus-menerus menjadi hambatan bagi perang kita melawan corona. Karena orang-orang tetap beragama tapi tidak menggunakan akal yang sehat.

Padahal bukti-buktinya sudah cukup banyak ya, misalnya saja di India sekarang ada 700 kali, jemaah Indonesia yang terlantar tepatnya di India dan tidak bisa pulang, para jemaah tablig ini.

Karena sudah dibilang, jangan datang ke sana, mereka tetap datang ke sana. 75 orang di antara 700 orang sudah dinyatakan positif corona. Di Gowa juga begitu, ada belasan jemaah yang sudah dinyatakan positif corona. Dan itu masih terus barang kali akan bertambah. Jadi ada begitu banyak contoh yang menunjukkan, bahwa sudahlah kita beragama tapi tetap berakal, ya.

Kita belajar bahwa dalam beragama kita tidak bisa menerima semua ajaran agama itu sebagai sesuatu yang mutlak, absolut, berlaku sepanjang waktu hanya karena sesuatu itu ada di dalam Quran, sesuatu itu ada di dalam sunnah, sudah menjadi tradisi umat Islam. Itu tidak harus selalu dilakukan sebagaimana yang dilakukan pada berabad-abad yang lalu. Ada konteks, ada keadaan setempat yang bisa menyebabkan praktik beragama itu bisa berubah.

Sekarang kita bisa belajar bahwa sebetulnya apa yang dikatakan sebagai kewajiban sholat Jumat itu bisa dihentikan untuk sementara. Naik haji itu walaupun wajib bisa dihentikan sementara.

Bahkan contoh lucu misalnya, berjenggot yang ada hadisnya, ada sunnahnya, ternyata sekarang dikatakan bahwa berjenggot itu tidak menguntungkan karena di jenggot itu bisa berkumpul virus-virus corona.

Jadi marilah sekarang kita belajar bahwa beragama harus dengan menggunakan akal sehat. Kita tinggalkan pemuka-pemuka agama seperti Yahya yang terus-menerus menyebarkan kebencian, kebodohan, kebohongan. Marilah kita terus beragama tapi beragama dengan menggunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, agama akan membawa manfaat.

 

Komentar