Eko Kuntadhi: ANIES PERGI KE KEBUN BINATANG

Jumpa lagi Kisanak.

Berita kali ini masih menyangkut wabah corona yang melanda dunia. Di tengah wabah itu, kabarnya, Gubernur Jakarta, Anies Baswedan mengunjungi kebun binatang Ragunan.

Gubernur mungkin ingin memastikan para penghuni kebun binatang sehat-sehat saja. Tidak berdampak wabah corona. Memang, melihat aktivitas tersebut, kentara sekali ini menunjukkan pejabat publik yang tergolong berhati mulia, seperti hotel di Jakarta.

Kisanak, kata orang bijak, perhatian yang tulus kepada sesama manusia hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berhati mulia. Tetapi saat wabah melanda Jakarta, seorang Gubernur masih sempat memerhatikan hewa di kebun binatang, hatinya bukan hanya Mulia, tetapi juga termasuk golongan Borobudur, atau bahkan Le Meredien.

Sementara bagi Anda yang hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, hati Anda tergolong kelas Melati saja.

Kisanak, sebagai pejabat berhati Borobudur, bukan hanya manusia yang mendapat perhatian Gubernur. Tetapi Jerapah, Anoa, dan Landak juga tidak luput dari perihatiannya.

Alhamdulilah, ketika dikunjungi Gubernurnya, para hewan di kebun binatang Ragunan terlihat rileks. Mereka banyak rebahan dan leyeh-leyeh di kandangnya.

Wajar, Kisanak.

Kehadiran Gubernur, kebetulan pada saat hewan-hewan itu sedang melaksanakan Work From Home.

Dalam foto yang beredar di media sosial, terlihat Gorila tidak merasa terganggu dengan kehadiran Gubernur di dekatnya. Bahkan saat disodorkan makanan oleh gubernur, Gorila hanya memandang saja dengan perasaan syahdu.

Tidak ada yang tahu Kisanak, apa makna pandangan seperti itu. Sampai sekarang para ahli zoology masih menerka-nerka makna pandangan mata Gorila itu. Para ahli masih menebak-nebak pikiran apa yang ada di balik pandangan tersebut.

Memang, ada pepatah yang kita kenal dari nenek moyang kita, rambut boleh hitam. Tetapi pikiran Gorila, siapa yang bisa tebak?

Kisanak, kita tinggalkan Gorila dengan pandangannya itu. Kita biarkan saja pikirannya mengembara saat diberi makan oleh Gubernur Jakarta. KIni kita beralih pada berita kedua.

Seorang paranormal, Ningsih Tinampi menawarkan produk yang disebut-sebut bisa menyembuhkan wabah corona yang melanda pasiennya. Produk ini oleh Ningsih dibanderol seharga Rp35 ribu per botol. Perempuan ini memang sering kesulitan membedakan antara orang yang sakit kepentok pintu dengan pasien demam berdarah.

Namun demikian, Ningsih berani untuk menjajakan obat corona buatannya. Ningsih tampaknya tidak peduli apakah obat buatannya sudah mendapat sertifikat BPPOM? Baginya yang jauh lebih penting adalah sertifikat tanah. Sebab, itu bisa digadaikan untuk modal membuat obat.

Sebelum berhasil membuat obat ini, Ningsih mengaku pernah mencicipi corona. Rasanya apek-apek saja. Begitu kata Ningsih. Tetapi banyak orang yang meragukan apakah benar Ningsih pernah makan corona.

Sepertinya Ningsih bukan menelan virus corona, tetapi ia hanya mengemut kain pel. Rasanya apek.

Apa alasan Ningsih menelan virus corona juga tidak ada yang tahu, pemirsa. Apakah memang begitu metode pengobatan ala Ningsih, dia menelan dulu virus atau penyebab penyakit pasiennya sebelum mengobati?

Sayangnya pemirsa, sampai saat ini tidak ada kejelasan, apakah Ningsih juga menerima pasien Ambien.

Kisanak yang budiman.

Jika obat Ningsih benar dapat menyembuhkan, sepertinya seluruh Fakultas Farmasi akan membubarkan diri. Mahasiswa dan para guru besar ahli farmasi, virologi, dan ahli kesehatan masyarakat akan menangis sesegukan karena dikalahkan oleh Ningsih dengan temuan obat coronanya.

Kemungkinkan besar Ningsih juga akan dihadiahi hadiah Nobel dalam bidang Tata Boga karena penemuannya tersebut.

Selain itu, dengan kehadiran Ningsih Tinampi yang berhasil menemukan obat corona, posisi Tedros Adhanom sebagai ketua WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) akan terancam. Jika Ningsih bersedia, kemungkinan besar ia akan dicalonkan menjadi ketua WHO periode mendatang.

Tapi Kisanak, sepertinya level Ningsih jauh melampaui WHO. Jadi, tawaran jabatan itu belum tentu diterima oleh Ningsih. Ia lebih suka menjadi paranormal dengan biaya pengobatan Rp10 juta sekali berobat ketimbang menjabat Ketua WHO yang digaji dengan dollar.

Kisanak, sebelum kita akhiri berita ini. Ada teka-teki yang disampaikan oleh Ningsih untuk Anda semua. Bunyinya, “Hewan apa yang kupingnya lebar, hidungnya panjang, dan badannya sebesar gajah?”

Jika Anda cerdas dan mampu menjawab tekai-teki tersebut, kami tunggu jawaban Anda di kolom komentar.

Untuk jawaban yang benar, kami berdoa, semoga Anda diberi kesehatan lahir dan batin.

Demikian berita kali ini, Kisanak.

Anda sedang berada di channel paling update seangkasan Raya.

Lemesin aja, Nyai.

Komentar