Denny Siregar: STAFSUS MILENIAL, MUNDURLAH DEK…

Saya paham kenapa Jokowi dulu ingin merekrut staf khusus milenial.

Pada dasarnya, Jokowi adalah orang yang suka dan berani melakukan banyak perubahan. Dia bukan tipikal pemimpin yang berjalan dengan model kepemimpinan gaya lama. Dia pengusaha dan seorang pengusaha dituntut untuk selalu kreatif, berfikir di luar kotak, berani mengambil keputusan meski tidak disukai banyak orang dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Dan karakter seperti itu, ketika berhasil disatukan dengan birokrasi, maka akan banyak melakukan terobosan-terobosan hebat dengan visi yang besar. Kapal bernama Indonesia ini tidak bisa lagi berlayar dengan model yang sama seperti sebelumnya, harus inovatif supaya mampu bersaing di dunia global.

Jokowi sempat terpesona dulu dengan mantan Menteri Olahraga Malaysia, Syed Saddiq, yang baru berumur 27 tahun. Dia sempat punya ide gila, untuk mengisi ruang kabinetnya dengan orang-orang muda, yang masih punya semangat dan idealisme kuat untuk membangun negara.

Tapi Jokowi tidak ceroboh. Dia ingin menguji dulu, seberapa mampu orang-orang muda dikasih tanggung jawab besar seperti itu. Lalu dia pun merekrut para staf khusus yang disebutnya stafsus milenial.

Umur stafsus milenial yang termuda bahkan lebih muda dari Menteri Olahraga Malaysia. Namanya Putri Tanjung, anak pengusaha Chairul Tanjung yang baru berumur 23 tahun.

Dan latar belakang para stafsus milenial itu pun juga bukan kaleng-kaleng. Ada yang sukses membangun perusahaan dengan valuasi senilai 7 triliun rupiah bernama Ruang Guru. Ada yang lulusan Harvard dan memimpin perusahaan finansial teknologi. Ada yang sekolah di Oxford University.

Hebat-hebatlah pokoknya.

Pemilihan mereka tentu dengan banyak pertimbangan dari sekian kandidat yang ada. Latar belakang mereka yang berbeda menjadi poin utama supaya saling mengisi dan memberi masukan ke Presiden, supaya Jokowi bisa melihat sebuah gambaran dari kacamata milenial.

Dan proses pengenalan mereka juga di blow up ke media massa, menunjukkan kalau Jokowi itu bangga pada mereka, selain juga memberikan motivasi untuk para milenial lain supaya bisa seperti para staf khususnya.

Itu gambaran dan harapan besarnya.

Kenyataan bisa berbeda sebaliknya.

Sampai sekarang, belum jelas apa kontribusi para stafsus milenial ini di dalam pemerintahan. Gaji mereka, buat ukuran mayoritas warga negara, itu sangat besar. Meski buat sebagian dari stafsus itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang mereka punya.

Dan belum apa-apa, salah seorang stafsus bernama Billy Mambrasar, sudah bikin media sosial ribut ketika dia menulis di twitternya dengan kata “kubu sebelah”.

Kata “kubu sebelah” ini dianggap tidak menggambarkan persatuan, karena pada waktu Pilpres kemarin, negeri ini terbagi jadi dua kubu, yaitu kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Billy kemudian menghapus cuitannya dan meminta maaf karena bikin gaduh.

Dan baru-baru ini dia juga blunder lagi, karena jejak digitalnya bicara ketika ia mengupload data profilnya di salah satu media sosial, bahwa dia adalah staf khusus dan penasihat Presiden dengan jabatan setingkat Menteri.

Lalu dia juga mengaku kalau posisinya sama seperti lembaga West Wing di Amerika, yang kerjaannya menjadi Penasihat Presiden Amerika.

Dan sesudah ribut lagi, Billy kemudian mengubah biodatanya.

Habis Billy, terbitlah Andi Taufan Garuda Putra, seorang stafsus milenial yang juga CEO dari perusahaan finansial.

Andi lebih parah lagi. Dia kirim surat ke seluruh camat Indonesia, supaya mau membantu perusahaannya. Blundernya nambah, surat ke camat untuk perusahaannya itu, dia pakai kop surat Sekretaris Kabinet.

Dan surat Andi ini bocor kemana-mana, lalu muncul tudingan kalau Andi menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya.

Andi Taufan pun lalu buru-buru minta maaf karena dia teledor dan mencabut surat ke camat berkop Istana Presiden itu. Tapi sudah kadung jadi tudingan, kalau Andi main katebelece – itu istilah orde baru dulu.

Lalu yang terakhir ada Belva Defara, CEO Ruang Guru pun dipermasalahkan karena perusahaannya menjadi mitra pelatihan online Kartu Pra Kerja. Orang menganggap posisi Belva di stafsus milenial itu rentan konflik kepentingan.

Meskipun Belva sudah klarifikasi kalau dia tidak ikut dalam proses pemilihan mitra pra kerja, tapi orang sudah terlanjur menghakimi. Masalah Belva ini kemudian berpengaruh pada image Kartu Pra Kerja yang dituding menyalurkan dana triliunan rupiah dengan cara kongkalikong kayak kingkong kejepit odong-odong.

Ada-ada saja memang stafsus milenial ini. Belum ada prestasi yang mereka buat tampak di permukaan, tetapi blundernya sudah kebanyakan.

Seperti saya bilang di awal, ketika karakter pengusaha berhasil digabungkan dengan birokrasi, maka hasilnya akan hebat seperti Jokowi. Tapi para stafsus milenial ini di awal sudah gagal menyatukan dirinya dengan birokrasi. Mereka gagap, tidak mampu beradaptasi, dan cenderung hanya basa basi.

Saran saya sebagai abang yang baik, rajin menabung dan tidak sombong, adek-adek stafsus yang bermasalah itu mundur sajalah.

Mundur bukan berarti kekalahan atau kegagalan, malah akan mendapat banyak tepuk tangan dengan rasa hormat. Kalau berani mundur, adek-adek akhirnya bisa membangun budaya baru yang selama ini tidak mampu dilakukan bapak-bapak pejabat itu selama puluhan tahun berkuasa.

Bapak-bapak yang dulu itu, jangankan mundur dek, ketangkep korupsi dan sudah pake baju oranye saja masih bisa senyum lebar dan lambaikan tangan.

Seperti di Jepang itu, lho dek. Gagah, kan?

Lagian mending kalau ingin berprestasi, kalian bisa contoh seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg, yang tidak perlu duduk di pemerintahan untuk bisa punya karya besar. Umur kalian masih sangat muda dan jalan kalian juga masih panjang.

Kecuali kalian bisa seperti Nadiem Makarim, yang mau mundur dari perusahaannya dengan visi besar, berbakti untuk mengubah wajah pendidikan kita sekarang ini.

Keren kan saran abang ini, Dek?

Seruput kopi dululah biar tenang. Mari kita gaungkan Markidur, Mari Kita Mundur.

 

Komentar