ANIES BASWEDAN SHOW DI TENGAH CORONA | Logika Ade Armando

Menurut Anda pantes gak ya kematian seseorang itu dimaanfatkan untuk mengangkat reputasi politik? Saya yakin sih jawabannya engga.

Tapi saya khawatir itulah yang sekarang terjadi dalam kasus meninggalnya seorang aktivis yang sangat kritis, bernama A.E. Priyono. Banyak pihak yang sedih dengan kepergiannya, termasuk saya.

Saya kebetulan bisa menjadi seseorang yang pernah bekerja bersama dengan dia selama beberapa tahun, dan dia adalah seseorang kawan, seorang atasan tapi juga seorang guru buat saya.

Dia adalah seorang yang pintar, kritis, dan lurus. Dia adalah contoh seseorang yang beintegritas, yang selalu memperjuangkan apa yang dia yakini sebagai kebenaran. Komitmen dia pada demokrasi tidak pernah luntur. Komitmen dia pada rakyat kecil tidak pernah hilang.

Karena itulah dia menjadi seorang yang sangat kritis terhadap siapapun yang menurut pandangan dia itu membahayakan demokrasi, hak asasi manusia, dan kepentingan rakyat. Dia adalah seorang yang luar biasa.

Kami sudah mendengar bahwa dia sakit dua-tiga pekan sebelum akhirnya dia meninggal. Ketika itu kami sudah mendengar bahwa keluarganya mengalami kesulitan untuk mencarikan rumah sakit, untuk merawat Mas A.E. Priyono.

Ketika itu memang ada kekhawatiran bahwa dia terkena corona dan barang kali karena itulah kemudian banyak rumah sakit yang tidak bersedia menerimanya.

Alhamdulillah, akhirnya RS Polri menerimanya. Kami sempat gembira ketika mendengar bahwa dia membaik kondisinya. Tapi, Allah punya kehendak lain.

Allah memanggilnya pada 14 April 2020. Kami semua bersedih. Tapi justru ketika kami sedang bersedih, berkabung, kami mendengar kabar yang kurang menyenangkan. Tersebar berita tentang meninggalnya Mas A.E. Priyono tapi dalam rangka mengglorifikasi Anies Baswedan.

Yang memulainya adalah sebuah tulisan dari redaktur senior Republika, Muhammad Subarkah di laman Facebooknya. Judulnya, “KESAKSIAN”.

Dia bersaksi bahwa orang yang paling berjasa dalam merawat Mas A.E. Priyono sebelum meninggal adalah Anies Baswedan.

Menurut Subarkah, Anies Baswedan-lah yang mencarikan rumah sakit, yang memastikan bahwa A.E. Priyono dirawat dengan benar di rumah sakit, dan memeroleh pemakaman yang layak.

Dan ini menurut Subarkah luar biasa. Kenapa? Karena memang Mas A.E. Priyono terkenal sebagai orang yang sangat kritis terhadap Anies Baswedan dalam tahun-tahun terakhir.

Dia bisa mengkritik dengan sangat pedas dan tajam.

Nah, bagi Subarkah, fakta bahwa sekarang ini Anies Baswedan-lah yang membantu perawatan dan penanganan Mas A.E. sebelum meninggal, itu menunjukkan kebesaran jiwa Anies Baswedan.

Dengan segera berita itu menyebar dengan viral dan kemudian ditulis ulang di berbagai media online dengan judul-judul yang sangat mengglorifikasi Anies Baswedan dan sayangnya pada saat yang bersamaan merendahkan A.E. Priyono. Berita islam.org misalnya menulis dengan judul, “Selalu kritik anies, ahoker meninggal dunia. Namun sangat mengharukan perlakuan anies. Begini kesaksiannya,”

Kemudian faktakini.net menulis “Kerap hina Habieb Rizieq dan Anies, saat sakit hingga meninggal, Anies yang mengurusnya,”

idtoday.co menulis “Anies Baswedan dengan lapang hati mengurus para pengkritiknya,”

Buat saya ini produk jurnalistik yang buruk.

Bagaimana mungkin A.E. Priyono diturunkan statusnya menjadi sekadar Ahoker dan pengkritik Anies Baswedan?

Mengapa beritanya menjadi berita Anies Baswedan?

Pertanyaannya, benarkah Anies Baswedan yang paling berperan? Saya khawatir jawabannya tidak.

Kami teman teman Mas A.E. sudah mengikuti perkembangan Mas A.E. sejak beberapa pekan sebelum akhirnya dia meninggal.

Orang yang paling awal menyebarkan informasi tentang kesulitan rumah sakit yang dialami oleh keluarga Mas A.E. adalah Willy Samadhi, seorang dosen dari UGM.

Kemudian ada nama-nama seperti Eva Sundari, politisi PDIP, ada orang seperti Usman Hamid, aktivis dari Transparansi Internasional, atau mantan Menteri Agama, Pak Lukman Hakim yang berusaha secara giat mencarikan rumah sakit.

Nah, mereka inilah yang kemudian menghubungi staf khusus Menteri Kesehatan bernama dr. Maria Mubaraqi untuk mencari rumah sakit.

  1. Maria inilah yang kemudian berperan meghubungi RS Polri. RS Polri kemudian menyetujuinya.

Jadi, ada banyak sekali orang yang terlibat dalam membantu Mas A.E. Priyono.

Adakah peran Anies Baswedan? Mungkin ada. Menurut salah seorang putri A.E. Priyono, Anies Baswedan memang membantu untuk swab dan membantu pemakaman Mas A.E. Priyono. Jadi bukannya tidak ada peran sama sekali. Tapi untuk mengatakan bahwa dialah yang paling berperan itu tentu saja adalah sebuah overstatement.

Sebuah pernyataan yang berlebihan.

Tapi barang kali memang buat kubu Anies saat ini kebenaran tidak terlalu penting. Apapun akan mereka manfaatkan untuk mengglorifikasi sang gubernur. Contoh lain banyak.

Misalnya saja ketika rupiah menguat menjadi kembali ke angka 15 ribuan, maka kubu Anies dengan gegap gempita menyatakan bahwa itu terjadi karena pasar internasional itu menghargai langkah-langkah Anies di DKI.

Kemudian menyebar juga meme yang mengatakan bahwa, kalau saja tidak ada kebijakan tegas Anies di Jakarta maka jumlah korban corona mungkin sudah sama dengan Iran dan Italia.

Ketika Anies menjelaskan tentang rencana pembagian bantuan bahan pokok buat rakyat Jakarta, dia merasa perlu untuk menyampaikannya dengan didampingi oleh Aa Gym, dalam sebuah show yang dihadirkan di Youtube.

Dan juga yang paling menurut saya menggetirkan adalah, ingat? Ketika pemerintah pusat masih menyatakan bahwa korban meninggal dari corona baru mencapai 122, Anies Baswedan sudah membuat konferensi pers yang dengan dramatisnya, di mana dengan dramatisnya dia menyatakan bahwa warga DKI yang meninggal dengan prosedur pemakaman corona sudah mencapai 238 orang.

Itu semua disampaikannya dengan dramatis. Dengan suara bergetar. Saya kutip saja kalimatnya. Menurut Anies, “238 itu bukanlah hanya angka statistik. Itu adalah warga kita yang bulan lalu sehat, yang bulan lalu bisa berkegiatan, mereka punya istri, mereka punya saudara,”

Itu dia sampaikan dengan suara bergetar. Dan besoknya media massa pun seperti secara kompak mengangkat bergetarnya suara Anies sebagai headline.

It’s a show.

Seluruhnya ini cuma pertunjukan. Buat saya ini memalukan. Bahwa dalam kondisi prihatin, dalam kondisi di mana kita sama-sama sedang berjuang, berjuang melawan corona, ada orang-orang yang memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan mengangkat reputasi politiknya.

Mari kita gunakan akal sehat untuk bisa melawan bentuk-bentuk propaganda semacam ini. Gunakan akal sehat, agar Indonesia bisa selamat.

 

Komentar