PARA PENGKHIANAT MENUSUK KITA DARI BELAKANG | Logika Ade Armando

Hati-hati ya. Saat ini banyak sekali pengkhianat yang sedang menusuk kita dari belakang.

Kita? Ya kita bangsa Indonesia.

Kita ini kan sedang menghadapi virus corona. Kita sedang berperang. Panglima perang kita adalah Preisden Jokowi. Tapi selalu saja sekarang tiba-tiba saja ada yang menusuk kita dari belakang.

Inilah yang saya sebut sebagai para pengkhianat itu. Bagi para pengkhianat itu apapun yang dilakukan pemerintah itu salah. Semua harus dihujat.

Para pengkhianat ini akan terus menyerang semua apa yang dilakukan oleh Jokowi dan pemerintahannya. Mereka akan menjelek-jelekkan Presiden.

Tujuannya tentu saja adalah agar masyarakat tidak percaya lagi pada Presiden, pada pemerintah. Dan mereka menyebarkan hoax, fitnah agar kita panik. Dan bahkan mereka juga menyebarkan kebencian ras.

Lihat saja kelakuan orang seperti Haikal Hassan. Dengan gampang dia menuduh bahwa untuk menangani corona, pemerintah tidak mau mengeluarkan anggaran sehingga anggarannya harus ditanggung oleh rakyat.

Lho kan, pemerintah sudah mengeluarkan dana sampai Rp405 Triliun yang digunakan untuk menangani korban dan dampaknya?

Mereka menyebarkan kebohongan misalnya bahwa pemerintah itu dengan sengaja menjegal langkah-langkah Anies Baswedan. Buktinya, kata mereka, Jokowi melarang Anies mengurangi jam kerja.

Padahal yang terjadi kan bukan itu, yang terjadi ketika itu adalah Anies Baswedan mengurangi jam operasi Trans Jakarta dan transportasi umum lainnya.

Yang terjadi ya kepanikan. Penumpukan penumpang di banyak halte. Kekacauan hampir saja terjadi

Dan karena itulah Presiden Jokowi kemudian menyatakan bahwa jam operasi Trans Jakarta harus dikembalikan seperti semula. Lah ini kan bukan berarti kemudian Jokowi melarang Anies mengurangi jam kerja.

Mereka juga menuduh pemerintah akan menerapkan darurat sipil. Mereka menggambarkan Jokowi akan kembali jadi Soeharto yang menindas rakyat.

Said Didu misalnya, menuduh Jokowi akan mengejar rakyat dengan cambuk darurat sipil. Padahal kan kata darurat sipil ada konteksnya. Kalau kondisi memburuk, terjadi kekacauan, kerusuhan sosial seperti yang terjadi di banyak negara, barulah darurat sipil itu diberlaukan.

Dan justru karena menghindari kekacauan itulah, Jokowi tidak mau menerapkan lockdown. Jadi darurat sipil itu ada konteksnya. Tapi kaum pengkhianat tentu saja tidak peduli. Mereka memelintirnya.

Begitu juga ketika ada rencana untuk membebaskan puluhan ribu napi di lapas-lapas yang sudah sesak. Yang akan dilepaskan tentu saja bukan napi korupsi, bukan napi narkoba, bukan napi terorisme.

Tapi langsung saja mereka mengedarkan tuduhan bahwa pemerintah akan memanfaatkan corona untuk membebaskan para koruptor.

Duh.

Ada pula yang bersifat personal. Misalnya saja ketika Ibunda Jokowi wafat, disebarkan hoax bahwa almarhumah itu bukanlah Ibunda kandung Jokowi.

Selain itu ada pula hoax bahwa almarhumah adalah korban corona, padahal beliau meninggal karena kanker. Itu aja diplintir.

Yang lucu juga, Presiden dikabarkan melarang umat Islam menyelenggarakan sholat Jumat. Padahal itu kan datangnya dari Majelis Ulama Indonesia.

MUI menyatakan bahwa dalam keadaan darurat, tidak perlu sholat Jumat, bisa diganti dengan sholat Dzuhur. Presiden Jokowi tidak ikut-ikutan dalam soal ini.

Tapi lagi-lagi, dalam rangka menyebarkan kebencian, Jokowilah yang dianggap sebagai biang pelarangan.

Suasana tegang ini turut diperparah dengan menyebarnya foto dan video yang menggambarkan ada orang-orang yang tiba-tiba tergeletak di jalan. Kejang-kejang.

Foto dan video itu dilengkapi dengan penjelasan bahwa mereka adalah korban corona. Padahal kalau dilacak kemudian, jelas mereka itu tidak ada hubungannya dengan corona. Sebagian bahkan terjadinya di luar negeri, bertahun-tahun yang lalu.

Ada juga tiba-tiba yang menyebarkan foto-foto warga biasa – lengkap dengan nama dan foto — yang dinyatakan meninggal karena corona, padahal tidak. Keluarganya kemudian membantah.

Dan ada pula yang rasis. Misalnya saja berkembang bahwa pemerintah Indonesia dengan sengaja membiarkan warga dan tenaga kerja Cina masuk ke Indonesia untuk menyebarkan corona.

Come on.

Bahkan ada berita bahwa Cina dengan sengaja mengirimkan baju-baju bekas yang digunakan pasien corona yang mati ke Indonesia, dalam rangka menyebarkan corona.

Ayolah.

Juga soal Kristen. Beredar imej bahwa Jokowi itu sebenarnya disetir oleh Luhut Pandjaitan yang Kristen, seperti juga dulu Soeharto disetir Benny Moerdani yang Kristen.

Contoh ini bisa dibuat lebih panjang. Tapi tentu saja saya rasa sudah cukuplah untuk menunjukkan betapa jahatnya para pengkhianat itu.

Saya tentu saja tidak akan memasukkan ke dalam kubu pengkhianat ini, orang-orang yang mengkritik pemerintah dengan kritis dan objektif. Pemerintah layak dikritik. Pemerintah sangat mungkin salah. Perdebatan tentang lockdown atau tidak adalah contoh yang baik.

Pemerintah menolak lockdown. Tapi ada banyak pihak yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah dengan argumen yang juga kuat. Atau ada banyak yang mengkritik ketidakpastian data yang disampaikan pemerintah.

Atau soal mudik. Bisa setuju bisa tidak. Semua itu adalah kritik yang layak. Tapi itu tentu saja berbeda sekali dengan berbagai penyesatan, kebohongan, fitnah, kebencian, rasisme yang tadi saya ungkapkan.

Para pengkhianat tidak peduli dengan kebenaran. Mereka hanya ingin agar suasana kacau, pemerintah hancur, Indonesia panik, ketakutan, sehingga mereka bisa berkuasa.

Mereka akan bahagia kalau Indonesia kalah. Karena itu, tetaplah positif. Gunakan akal sehat. Mari kita bersama menghadapi mereka.

Karena hanya kalau kita bersama, Indonesia akan selamat.

Komentar