MUSIK TIDAK HARAM DALAM ISLAM I Catatan Syafiq Hasyim

Baru-baru ini, pada masa yang sulit, umat Islam Indonesia masih tetap saja bisa merasakan kegembiraan dengan viralnya sebuah lagu yang berjudul Aisyah. Lagu yang sudah muncul dulu, kini menjadi viral kembali. Orang saling menshare melalui akun-akun media sosial mereka, dengan komentar yang cukup baik.

Lagu yang menceritakan kehidupan romansa Rasulullah dengan Aisyah ini, sudah barang tentu merupakan saduran atas riwayat-riwayat Rasulullah dalam kehidupan rumah tangganya sehari-hari dengan Aisyah, yang terlukis sangat indah dan penuh cinta.

Lagu-lagu bernuansa agama (religi) dengan iringan musik modern memang akhir-akhir ini memiliki segmentasi pasar yang cukup luar biasa. Bahkan kebangkitan lagu-lagu religi dianggap oleh sebagian kalangan juga merupakan bukti akan kembalinya syiar keagamaan Islam di Indonesia. Pangsa pasar terbesar dari lagu-lagu di atas memang umat Islam itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia mencintai musik dan bernyanyi.

Sementara itu, di sisi yang lain, kampanye mengharamkan musik di Indonesia akhir-akhir ini juga semakin intensif. Musik haram, musik bukan ajaran Islam, musik tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, dlsb, digaungkan di berbagai media, termasuk media sosial. Kampanye ini dikemukakan oleh mereka yang menganggap bahwa musik, dengan jenis apapun, hukumnya adalah haram di dalam Islam.

Sesungguhnya, di antara kelompok yang mengharamkan musik tersebut bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang ekstrim, di mana mereka menyatakan keharaman bernyanyi meskipun tanpa iringan alat musik.

Kedua, kelompok yang masih membolehkan bernyanyi, namun harus tidak disertai dengan alat musik, karena yang diharamkan oleh mereka pada dasarnya bukan bernyanyinya, namun alat musiknya, sebagaimana yang mereka rujukkan kepada hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.

Perdebatan tentang kebolehan dan ketidakbolehan bernyanyi dan bermusik bukan hal yang baru di dalam Islam. Ulama-ulama fiqih zaman dahulu sudah ramai memperdebatkan masalah ini di dalam kitab-kitab mereka.

Argumentasi utamanya sebenarnya lebih banyak terletak pada pengharaman yang bersifat instrumentalis, bukan pengharaman yang bersifat esensial atau dzatiyah. Artinya, musik itu haram karena musik bisa menyebabkan seseorang untuk menjadi lalai dan lupa akan Tuhannya, selain musik juga bisa membawa orang jatuh ke dalam perbuatan maksiat.

Musik dianggap sebagai alat yang memabokkan orang. Misalnya, Imam Hanbali mengharamkan musik berdasarkan dua hadis Rasulullah yang menyatakan keharaman menggunakan drum dan kecapi. Ibn Taymiyyah juga mengharamkan alat-alat musik yang merujuk pada hadis Imam Bukhari, bahwa Rasulullah juga melarang penggunaan ma’azif (alat-alat musik).

Drum dan kecapi di sini dianggap sebagai simbol alat musik yang pada zaman Nabi sering dijadikan sebagai iringan nyanyian yang melalaikan orang akan Tuhan mereka. Hal ini mengingatkan juga pada alasan pengharaman catur –permainan catur—yang juga dianggap kerap kali menjadi penyebab pemainnya untuk lupa akan Tuhan mereka.

Sementara itu, sebagian ulama lain juga membolehkan bernyanyi dan bermusik. Dasar kebolehan yang mereka pakai sebagai argumentasi juga merujuk pada ayat-ayat al-Quran maupun hadis-hadis Rasulullah SAW, yang oleh ulama lain juga digunakan sebagai dasar ketidakbolehan bernyanyi dan bermusik.

Qadi Abu Bakr Ibnul-Arabi menyatakan bahwa tidak ada satu pun hadis yang sahih yang mengharamkan orang untuk bernyanyi. Ibn Hazam menyatakan juga jika setiap hadis yang melarang bermusik dan bernyanyi itu palsu atau dibuat (maudhu’).

Pendapat ulama masa lalu yang lain, misalnya dari Ibrahim bin Sa’d (beliau adalah Ahlul Madinah), kemudian dari Ubaidullah Ibn al-Hasan al-Anbari (beliau adalah bagian dari ulama Basrah) kemudian Abu Bakr Ibn al-Khallal dari madzhab Hanbali, mereka semuanya ini tidak melarang orang untuk beryanyi.

Ibn al-Jawzi dan Ibn al-Khallal bahkan menyatakan ketidakharaman bagi kita untuk melagukan qasa’id al-zuhdiyat (puisi-puisi spiritual dalam suara yang indah dan melodius).

Apa yang ingin saya katakan di sini sebenarnya adalah soal haram dan halalnya bermusik dan bernyanyi itu menjadi ranah ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para ulama sejak masa lalu. Ini persoalan penafsiran mereka atas ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi soal bernyanyi dan bermusik yang berbeda.

Jika para ulama sudah mengatakan bahwa masalah musik dan bernyanyi itu bagian dari masalah ikhtilaf, maka hal yang harus kita ketahui di sini bahwa orang awam boleh memilih di antara dua pendapat, termasuk memilih pendapat yang menyatakan bahwa bernyanyi dan bermusik itu dibolehkan oleh Islam.

Klaim bahwa mereka yang menolak musik dan bernyanyi itu mewakili Islam yang sebenarnya, klaim ini menurut saya terlalu berlebihan, karena pada dasarnya yang membolehkan pun juga menggunakan dasar-dasar dan argumen-argumen yang sama dengan mereka.

Jika mereka yang melarang bernyanyi dan bermusik menganggap diri mereka yang paling sunnah, klaim ini juga tidak terlalu adil dan benar. Syaikh Ibrahim Ramadlan al-Mardini seorang ulama modern dari Lebanon menyatakan, jika 70 dari 80 hadis yang dirujuk sebagai dasar yang mengharamkan musik adalah hadis-hadis yang dikategorikan sebagai hadis yang lemah atau dhaif dalam ilmu hadis.

Artinya, dia ingin mengatakan bahwa tidak ada indikasi tentang pelarangan musik yang kuat di dalam Islam.

Sebagai catatan, mayoritas masyarakat Islam Indonesia nampaknya lebih memilih penghalalan bernyanyi dan bermusik daripada pengharaman bernyanyi dan bermusik. Bahkan banyak dari musisi kita yang menggunakan musik sebagai alat dakwah mereka. Kita misalnya mengenal Rhoma Irama, Raja Dangdut Indonesia, yang menggunakan musik Dangdut sebagai sarana dakwah keagamaan dan dahwah moralitas publik.

Kelompok Bimbo menggunakan musik Pop untuk mendakwahkan hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai ketuhanan dan juga nilai-nilai kemanusiaan. Iwal Fals menggunakan lagu-lagunya untuk dakwah kritik dan keadilan sosial. Kemudian Nasyidariah, kelompok musik kasidah modern dari Semarang, mendakwahkan keunikan keislaman di Indonesia melalui musik mereka.

Gus Dur menyukai lagu-lagu Led Zeppelin dan Habib Luthfie juga bermain piano. Ketika Gus Dur ditanya, kenapa beliau menyukai Led Zeppelin, bukankah penyanyinya adalah orang yang suka bermabuk-mabuk? Gus Dur menjawab, jangan lihat penyanyinya, tapi lihat jiwa (soul) dari lagu yang diyanyikannya.

 

 

Komentar