Eko Kuntadhi: KHILAFAH DAN KADRUN YANG DIKADALI

Jumpa lagi kisanak.

Pihak kepolisian telah menangkap seorang lelaki berjenggot pelit, bernama Ali Baharsyah. Lelaki ini ditangkap atas laporan ketua Tim Cyber Indonesia, Muannas Aladaidid, karena mengunggah video yang berisi khabar bohong, hoax, fitnah dan caci maki.

Baharsyah juga kerap melontarkan kata-kata cacian kepada kepala negara.
Selain bermulut kotor, Baharsyah dikenal dengan sebagai pengasong agama dan gerombolan pemuja khilafah. Bagi orang kayak Baharsyah ini, apapun masalahnya, solusinya adalah khilafah.

Saat ada wabah Corona, solusinya adalah khilafah.

Saat konflik di India, solusinya adalah khilafah.

Saat ada masalah di Uighur, solusinya adalah khilafah.

Saat ada pengangguran, solusinya adalah khilafah.

Padahal, sepertinya Bahar punya pemahaman terbalik. Yang sebenarnya terjadi : Apapun solusinya, masalahnya adalah Khilafah!

Dalam berbagai videonya tersebut, Baharsyah dengan entengnya berteriak takbir, membawa-bawa nama Tuhan. Ia juga gemar mrmprovokasi masyarakat sambil mengasong dagangan khilafah. Tentu saja, seperti gerombolan khilafah lainnya, video itu disertai dengan kata-kata kotor.

Kisanak yang budiman,

Baharsyah ditangkap di rumahnya di Jakarta, bersama beberapa orang temannya. Polisi menyita perangkat elektronik yang digunakan Baharsyah. Ternyata pemirsa, di dalam berbagai perangkat elektronik Baharsyah, banyak terdapat kumpulan video porno yang aduhai.

Karena itu, selain pasal penghinaan, Baharsyah juga dijerat dengan pasal pornografi
Mungkin sebetulnya Baharsyah bukanlah seorang pejuang khilafah. Ia hanya suka dengan artis porno Mia Khalifah. Jadi apapun masalahnya, bagi Baharsyah, solusinya adalah Mia Khalifah!

Kengototan Baharsyah untuk menegakkan khilafah, ternyata dilakukan dengan hobbi menonton video porno. Walhasil, pemirsa, saat menonton video itu, bukan khilafahnya yang tegak, tetapi yang tegak adalah organ Baharsyah lain.
Sepertinya, begitulah Baharsyah menjalani hari-harinya bersama khilafah yang diyakininya.
Kisanak,

Ulah Baharsyah ini sebetulnya bukan kejadian yang tiba-tiba dan spontan. Jika diperhatikan di media social, saat wabah Covid19 melanda Indonesia, gerombolan khilafah mencoba memanfaatkan situasi ini untuk menjajakan dagangannya.

Mereka ini yang selalu berteriak-teriak lockdown agar Indonesia terjadi chaos. Sebab hanya dengan kondisi chaos itulah khilafah bisa tegak. Sebab pada dasarnya khilafah berbeda dengan organ Baharsyah.

Khilafah hanya bisa tegak dalam sauna chaos. Sementara organ Baharsyah hanya bisa tegak jika suasana sepi, sambil menatap layar HP-nya.

Kisanak yang bumiman,

Melihat perilaku Baharsyah, kita semestinya sadar, jangan pernah mau ditipu dengan menggunakan ayat. Sudah cukup orang-orang bodoh tertipu manisnya janji ISIS. Mereka meninggalkan keluarga dan kehidupannya di Indonesia. Akhirnya hidup mereka hancur di Suriah.

Khilafah adalah masa lalu. Sedangkan hidup harus bergerak ke depan. Dan orang-orang yang terus memuja masa lalu, sejenis pecundang yang gak bisa move on.

Kita ikuti berita kedua,

PKS kecele lagi. Mau naggis menggerung-gerung, tapi malu sama Rocky Gerung.
Dalam sidang DPRD DKI kemarin, ternyata anggota dewan DKi Jakarta lebih memilih Wakil Gubernur dari Gerindra, Ahmad Riza Patria. Ketimbang Nurmansyah Lubis dari PKS. Riza Patria mendapat 81 suara disbanding Nurmansyah Lubis, yang hanya 17 suara.
Padahal kabarnya, saat Pilpres yang lalu, ada semacam perjanjian antara Gerindra dengan PKS. Inti dari perjanjian itu, kursi Wakil Gubernur diserahkan kepada PKS. Nyatanya PKS dikibulin.

Mungkin kibul mengibuli ini adalah sejenis karma. Dulu waktu kampanye Pileg, PKS ngibulin rakyat dengan slogan mau membaskan pajak kendaraan bermotor.
Kita tahu, soal pajak kendaraan bermotor ini sepenuhnya hak Pemerintah Propinsi. Di Indonesia ada dua Gubernur dari PKS, yaitu NTB dan Sumatera Barat. Tapi tidak pernah terdengar sedikitpun rencana kedua Gubernur itu untuk mewujudkan janji partainya.

Kisanak,

Terpilihnya Riza Patria dari Gerindra sebagai wakil Gubernur DKi Jakarta mengalahkan calon dari PKS ini, dikenal dengan istilah ‘Kadrun yang dikadali.’

Demikianlah berita kali ini kami sampaikan, dari kediaman saya.
Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya. Jangan lupa pakai masker. Gak usah nungguin pembagian masker dari Anies Baswedan.

Lemesin aja, Drun!

 

Komentar