MELAWAN KETAKUTAN DENGAN KEKUATAN

Di awal pembicaraan saya akan beri peringatan ya: saya akan bicara optimis. Anda boleh saja menganggap saya meremehkan masalah Corona atau apalah. Saya tidak peduli.

Dan kalau Anda tidak suka mendengar ada orang bicara dengan nada optimis tentang penanganan Corona, Anda mungkin sebaiknya tidak mendengar apa yang akan saya sampaikan.

Karena buat saya, kita tidak mungkin terus ketakutan dengan Corona. Seolah-olah ini adalah terowongan gelap tak berujung. Kalau kita terus ketakutan, Corona akan menghabisi kita.

Saya anti lockdown, karena saya optimis kita bisa mengalahkan Corona tanpa lockdown.

Saya juga percaya kampanye work from home, tetap tinggal di rumah, adalah hanya langkah sementara yang perlahan-lahan harus kita tinggalkan.

Kita tentu bisa menghimbau orang untuk tidak berkerumun, menjaga jarak, menggunakan hand sanitizer, dan seterusnya.

Tapi, bagi saya, jawaban yang paling masuk akal adalah memperkuat imunitas warga.

Sekarang ini saja kita sudah banyak mendengar bahwa di banyak negara, diprediksi bahwa mayoritas warganya akan terkena virus Corona.

Perdana Menteri Jerman sudah bilang, mungkin 70% warganya akan terkena virus Corona.

Karena itu, kita ambil saja skenario terburuk: di Jakarta misalnya, mungkin saja mayoritas warga memang akan terkena Corona.

Tapi ingat lho, terkena virus itu bukan berarti Anda akan menderita penyakit Covid-19.

Si virus bisa saja menempel di tubuh kita, tapi kalau daya tahan tubuh kita kuat, si virus akan mati.

Begitu seseorang diserang virus, antibody di dalam tubuh kita akan melawan. Bentuk perlawanan dalam diri tiap manusia memang akan berbeda-beda, tergantung pada kondisi kesehatannya.

Ada yang dengan cepat virus kalah. Ada yang butuh dua mingguan. Tapi yang penting, kalau pertarungan bisa selesai, orang itu akan imun terhadap Corona.

Bisakah dia diserang lagi oleh Corona?

Ya tentu saja bisa. Tapi dengan cepat antibody akan bereaksi dan membunuhnya kembali. Nah, kalau makin banyak orang sehat terjangkit Corona dan mengalahkan Corona, akan terbentuklah persekutuan manusia yang kebal Corona.

Itu yang sekarang dikenal dengan istilah ‘herd immunity’ alias ‘imunitas kawanan’.

Kalau kita tahu prinsip dasar itu, sebenarnya masyarakat tidak perlu terlalu panik kalau tahu dirinya terjangkit Corona.

Mereka memang perlu mengisolasi diri selama sekitar 14 hari, karena dua minggu itulah adalah kira-kira waktu yang diperlukan bagi si antibody mengalahkan si Corona.

Tapi setelah 14 hari, ia bisa hidup bebas tanpa harus kuatir lagi pada Corona.

Sayangnya, cerita memang belum selesai. Masalahnya tidak semua orang punya daya tahan kuat. Ada orang tua dan ada orang yang memiliki penyakit kronis.

Orang-orang itulah yang harus dilindungi. Orang-orang itulah yang seharusnya mendapat prioritas perawatan di rumah sakit.

Karena itulah ada anjuran agar mereka yang masih muda dan tidak memiliki penyakit penyerta serius, sebaiknya tinggal saja di rumah saja kalau merasa dirinya sudah terkena Corona.

Si anak muda itu akan sembuh dengan sendirinya, sementara si orang tua dan berpenyakit kronis harus mendapat perawatan ekstra.

Kalaulah sekarang ada upaya untuk memaksa anak muda pun tidak membiarkan diri terekspos pada virus Corona, itu sebetulnya bertujuan untuk melindungi kaum yang lebih rentan.

Mereka yang rentan ini ceritanya agak lain.

Antibody mereka tetap bisa mengalahkan Corona, tapi harus dengan bantuan obat-obatan yang hanya bisa disediakan di rumah sakit.

Itu pun mayoritas tetap akan survive.

Walau peluangnya lebih kecil dibandingkan kaum muda yang tingkat kematiannya bisa jauh di bawah 1%.

Jadi segenap upaya social distancing, massive test, sterilisasi itu semua dilakukan untuk memperlambat laju penyebaran virus. Tujuannya agar korban tidak berjatuhan menumpuk di satu waktu. Kalau terjadi semua bersamaan, yang juga jadi korban adalah petugas medis.

Dalam hal ini, para petugas medis ini berpotensi menjadi korban karena mereka kelelahan dan terus didatangi virus-virus Corona dalam jumlah yang banyak.

Antibody dalam diri belum cukup siap, si virus terus berdatangan

Kalau dokter atau perawat yang masih muda, mungkin antibodinya masih prima. Tapi bagaimana dengan yang sudah senior?

Jadi seperti saya katakan, aktivitas masyarakat harus dibatasi ketat agar virus tidak menyebar dan akhirnya memakan korban terutama di kalangan kaum tua dan rentan.

Memang sempat ada ide, supaya kaum tua dan kaum muda tidak bercampur, kaum tuaya saja yang diberi tempat khusus.

Dikarantina, sampai wabah mereda. Tapi realistis saja lah, apa iya ini bisa dilakukan di Indonesia?

Kalau kaum tua dan rentan harus dikarantina, mau dikarantina di mana? Dan apa tega kita mengisolasi orang tua-orang tua kita?

Karena itu, buat saya plihan terbaik adalah membangun imunitas tubuh kaum muda dan menjaga agar mereka tidak memiliki interaksi yang intensif dengan kaum tua dan yang berpenyakit serius.

Pertanyaannya: apakah untuk tujuan itu, kita harus menghentikan semua aktivitas?

Saya rasa tidak.

Kalau kita sadar bahwa, cepat atau lambat, 60-70 persen rakyat Jakarta akan terkena virus Corona dan kalau kita sadar bahwa kita sebenarnya bisa mengalahkan Corona, kita mungkin harus dengan segera juga menghentikan kepanikan kita.

Bukan hanya kita tidak perlu lagi berburu masker, sabun, sanitizer dan gula. Tapi kita juga mungkin tak perlu terlalu takut untuk hidup bermasyarakat. Kita harus perlahan kembali membangun hidup normal.

Work from home itu bagus, tapi pada akhirnya, orang toh terpaksa harus bekerja di luar rumah.

Kalau tidak, ekonomi akan macet. Ekonomi rumah tangga. Ekonomi negara. Dampaknya sekarang sudah terasa. Dan masih akan berlanjut di bulan-bulan mendatang.

Tentu saja saya tidak ingin mengatakan agar kita tiba-tiba saja kembali berkerumun di mana-mana, tidak peduli dengan hidup hygienis, tidak menjaga jarak, bersin dan batuk sembarangan.

Kita tentu perlu mengubah cara hidup kita, karena kita perlu mencegah penyebaran Corona. Tapi kita juga harus gunakan akal kita untuk mengalahkan Corona tanpa perlu terlalu merasa takut.

Ingat, kita memiliki antibody untuk mengalahkan Corona.

Kita kuatkan imunitas kita sembari melindungi mereka yang berpeluang menjadi korban serius dari kejahatan gerombolan virus itu.

Dan kalau itu sudah kita lakukan, marilah perlahan kita kembali hidup normal. Ini bukan karena kita layak meremehkan Corona.

Tapi karena kita tidak mungkin terlalu berlindung di balik rumah-rumah kita dan menghentikan roda kehidupan kita.

Kita harus percaya bahwa kita lebih kuat dari mereka. Ini tentu bukan perubahan yang harus diterapkan secara drastis.

Kita lihat juga data perkembangan penyebaran dari waktu ke waktu. Tapi yang penting kita hilangkan ketakutan kita terhadap Corona.

Percayalah, dengan pikiran yang lebih tenang kita akan bisa atasi Corona dengan lebih baik.

Gunakan akal sehat.

Gunakan akal sehat, agar bangsa ini selamat.

Komentar