BUNUH CORONA SIH NGGAK PERLU LOCKDOWN, MASKER AJA!

Menghadapi corona itu gak usah pake lockdown. Lockdown itu mahal, ribet.

Lihat saja India. Ada begitu banyak orang yang menderita gara-gara lockdown. Jadi lockcdown bukan pilihan yang menurut saya masuk di akal.

Lagi pula kalau lockdown dilakukan, ekonomi ambruk, siapa yang mau kasih makanan bagi orang-orang miskin?

Dan saya anti lockdown karena saya percaya bahwa ada satu cara lain yang jauh lebih efektif tapi jauh lebih sederhana, yaitu kewajibkan mengenakan masker.

“Masker?” Kata Anda.

Iya. Masker adalah jawaban. Saya rasa kalau semua orang di Indonesia ini atau kita pusatkan di Jakarta saja diwajibkan mengenakan masker ketika keluar rumah, maka dijamin tingkat laju pertumbuhan corona akan menurun. Bahkan kemudian akan bisa dikalahkan.

Dijamin! Pasti bisa.

Kenapa? Karena intinya, wabah Covid-19 itu terjadi gara-gara penyebaran virus corona yang menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Lewat droplet, yaitu cairan di air liur kita.

Karena itu, kalau kita ingin menghentikan penyebaran si virus tersebut, maka jawabannya adalah: Jangan biarkan dia menyebar!

Nah, kalau Anda sudah kena corona dan Anda menggunakan masker, maka si virus corona itu akan berhenti di tubuh Anda.

Si virus tidak akan bisa menembus masker. Jadi, masker adalah jawaban.

Gak perlu masker mahal, lho. Cukup masker kain. Pakai masker kain yang harganya barang kali cuma Rp10,000 sekarang ini atau Rp15,000 atau Anda bisa bikin sendiri, kok. Atau ada satu RT bisa bikin ramai-ramai dan dibagi-bagikan kepada semua anggota RT itu.

Dan masker kain itu bisa dipakai berulang-ulang. Atau bahkan bisa dipakai bergantian. Tentu saja sesudah dicuci dulu, ya.

Jadi, masker kain adalah jawabannya.

Kalau semua orang di Jakarta sudah pakai masker ketika keluar rumah tentu saja, dijamin tingkat penyebaran corona akan bisa dicegah.

Ya tapi, tentu saja jaga jarak, physical distancing, cuci dengan sabun dan air bersih itu harus dilakukan, dengan hand sanitizer itu harus dilakukan, dan jangan bersentuhan satu sama lain. Semua itu terus dilakukan.

Tapi kuncinya, ada di masker. Benteng itu namanya adalah masker. Kemarin-kemarin memang ada yang salah paham.

Ada yang menganggap bahwa masker itu hanya perlu digunakan oleh orang yang sudah terjangkit virus corona. Dan tidak perlu lagi digunakan atau tidak perlu digunakan oleh orang yang belum sakit corona. Yang sehat gak perlu lah. Kira-kira dikatakan begitu.

Tentu saja itu benar. Tentu saja jangan berpikir bahwa kalau dengan pakai masker Anda akan, misalnya, bisa disembuhkan dari corona. Tapi bukan itu poinnya.

Poinnya kan adalah bagaimana kita mencegah penyebaran virus corona. Bagaimana dia tidak pindah dari satu orang ke orang yang lain. Ya, caranya adalah masker.

Masalahnya kan begini, kita gak tahu persis lho siapa yang sebetulnya saat ini sudah terkena virus corona, siapa yang belum.

Jadi kalau orang pada keluar rumah dan kemudian dia menyangka bahwa dia sebetulnya belum terkena virus corona, dia akan ketawa-ketawa, dia akan bicara keras, dia akan bersin, dia akan batuk, dan tanpa sadar kemudian dia akan menyebarkan virus corona.

Nah, orang-orang semacam ini kan yang justru paling berbahaya.

Kalau sudah jelas dia sakit corona lebih aman kita. Tapi kalau orang itu belum pasti kena corona, tapi padahal dia sudah jadi carrier, justru dialah orang yang mungkin sekali menyebarkannya kepada kita semua.

Jadi, daripada menyuruh semua orang tinggal di rumah, ya mendingan suruh semua orang pakai masker agar kalaupun dia pembawa virus, si virus itu akan berhadapan dengan benteng.

Jadi, kita sebenarnya gak tahu persis, siapa yang sudah kena dan siapa yang belum kena, karena itu kita cari aman saja.

Kita bayangkan setiap orang berpotensi menjadi penyebar corona dan karena itu semua orang harus mengenakan masker.

Saya jamin, saya percaya, saya taruhan deh, bahwa kalau semua orang pakai masker maka penyeberan virus corona akan bisa ditekan.

Dan ini sudah dibuktikan di banyak negara. Barang kali Anda juga sudah pernah lihat ya ada video di Jepang, ada video di Ceko.

Negara-negara itu tingkat laju pertumbuhan Covid-19-nya rendah dan itu antara lain mereka percaya karena mereka mengenakan masker.

Tapi memang di sini ada soal, yaitu dikatakan orang bahwa ya Ceko dan Jepang itu bisa terjadi karena orang disiplin.

Jadi orang bersedia mengenakan masker.

Nah dalam hal ini saya tidak mau terlalu pesimistis membayangkan itu juga bisa terjadi di Indonesia.

Orang-orang Ceko itu juga gak disiplin kok kayak Indonesia. Mungkin Jepang lebih disiplin daripada kita, cuma Ceko sama ajalah kira-kira. Nah, dalam hal ini bisa gak kita berharap bahwa orang-orang di Indonesia menggunakan masker?

Saya percaya bisa. Saya akan menggunakan sebuah teori, namanya Theory of Reason Action. Saya simpelkan saja ya.

Teori ini bilang bahwa manusia pada dasarnya itu rasional. Manusia atas akalnya akan bertindak atas pertimbangan untung dan rugi.

Jadi, kalau kita bisa katakan bahwa dengan menggunakan masker itu dia akan beruntung dan dia akan merugi kalau dia tidak menggunakan masker. Maka kemungkinan besar dia akan menggunakan masker.

Karena gini, kalau cuma dinasihatin agar semua orang menggunakan masker demi kepentingan bangsa begitu ya, itu sih barang kali orang tidak akan mau mengikutinya.

Atau mengatakan, oh ini demi agama, maka mari gunakan masker. Itu sih susah. Gak akan dibeli oranglah kira-kira.

Karena itu kita harus membuat orang merasa beruntung kalau menggunakan masker dan kemudian merasa rugi kalau tidak menggunakan masker.

Dalam hal ini pemerintah menjadi kunci. Kalau ada kewajiban agar semua warga menggunakan masker maka semua warga harus menggunakan masker ketika keluar rumah, kata pemerintah.

Dan aparat keamanan bisa turun tangan kalau ini tidak dilakukan.

Ketika misalnya masih ada warga di luar rumah berkeliaran tanpa mengenakan masker, aparat keamanan bisa mendatanginya.

Bisa menegurnya. Kalau perlu memberikan sanksi.

Atau kalau ada orang-orang yang berada di luar rumah tanpa mengenakan masker, dia seharusnya mendapat semacam kesulitan hidup. Misalnya, dia gak bisa masuk transportasi umum, dia gak boleh masuk kantor, dia gak bisa masuk restoran, dia gak boleh masuk ke WC umum, dan seterusnya, dan seterusnya.

Indomaret ditutup buat dirinya. Kantor ditutup. Pabrik ditutup buat dirinya. Jadi, mereka yang tidak menggunakan masker itu dibuat susah hidupnya.

Kalau sekarang aparat keamanan merasa sanggup untuk memaksa orang untuk tidak keluar rumah dalam logika lockdown kan, maka mestinya aparat keamanan tidak akan mengalami kesulitan untuk memaksa orang mengenakan masker.

Apalagi kalau kemudian maskernya dijamin dibagi oleh pemerintah. Dan pada akhirnya, setelah hal-hal yang tadi itu, pemerintah harus juga bicara pada publik.

Dengan mengatakan begini:

Kewajiban warga untuk menggunakan masker ini, dilakukan oleh pemerintah karena pemerintah tidak ingin mengambil pilihan yang lebih sulit, yaitu lockdown.

Dengan kata lain, masyarakat diancam.

Kalau mereka tidak menggunakan masker, maka pilihan yang akan diambil pemerintah akan jauh lebih merugikan, yaitu lockdown.

Jadi pilih mana, lockdown atau menggunakan masker?

Dan pesan itu terus diulang-ulang. Dan pesan itu terus kita dukung bersama-sama.

Saya jamin kalau ketersediaan maskernya itu ada dan kemudian pesan ini terus disampaikan. Dan aparat keamanan turun tangan. Dan masyarakat juga turut menegur kalau ada orang tidak menggunakan masker, maka sebagian besar dan mudah-mudahan semua orang ketika berada di luar rumah tidak akan berpotensi menyebarkan corona dengan mengunakan masker.

Jadi, gak usah capek-capek lah kita lockdown. Kita wajibkan saja semua orang menggunakan masker.

Pemerintah mewajibkan semua warga di tempat-tempat yang berpotensi corona menggunakan masker ketika keluar rumah.

Itu akan efektif menghancurkan virus corona. Kita akan bisa mengalahkan mereka.

Gunakan akal sehat, agar kita semua selamat.

 

 

Hphipip;

Komentar