HIDUP BAHAGIA MESKI ADA CORONA | Logika Ade Armando

Penonton Cokro TV yang budiman, kalau Anda kena penyakit Covid-19 atau Corona, berapa persen kemungkinan Anda akan mati? Jawabannya: tergantung usia Anda.

Kalau usia Anda nih masih di bawah 40 tahun, kemungkinan Anda mati adalah 0,2%. Jadi peluang Anda mati itu cuma 1 berbanding 500.

Kalau Anda berusia 40 sampai 50, kemungkinan Anda mati adalah 0,4%. Atau peluang Anda mati adalah 1 berbanding 250.

Nah kalau Anda sudah seusia saya, di antara 50-59, kemungkinan Anda mati naik jadi 1,3%. Jadi peluang saya mati kalau saya terkena Corona adalah 1 berbanding 80 lah.

Dan semakin Anda menua, semakin besar efek fatal dari Corona.

Tapi tetap saja, bahkan kalau Anda di kelompok usia lebih tua, jauh lebih besar peluang sembuh daripada mati. Jauh.

“Ini tujuannya apa ya?” mungkin kata Anda?

Yang saya mau bilang, Corona itu bukan hantu yang seharusnya merontokkan sebuah negara. Sampai bicara lockdown, lah.

Kalau kita lockdown, kita akan mati bukan karena Corona, tapi kita akan mati karena hancur akibat krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial.

Kalau peluang Anda mati kalau Anda terkena Corona cuma 1 banding 500, ngapain juga khawatir?

Anda boleh saja bilang saya lebay. Tapi menurut saya, kita memang sudah harus belajar bagaimana hidup tentram meskipun virus Corona itu ada. Realistis saja.

Virus Corona sudah ada bersama kita. Sebenarnya dari dulu sih dia sudah ada. Dia itulah biang SARS, MERS. Sekarang dia menjelma jadi Covid-19.

Tapi yang penting, terima saja kenyataan bahwa virus itu ada.

Seperti kita realistis menerima kenyataan bahwa virus Influenza itu ada hidup bersama kita, dan setiap tahun, jangan salah ya, ia memakan nyawa ratusan irbu orang.

Nah, Anda suka enggak suka, Covid-19 itu ada bersama kita. Dan dunia belum punya vaksin untuk mematikannya.

Dan untuk itu, marilah kita ingat beberapa hal. Pertama, tidak semua orang yang di tubuhnya menempel virus Corona, akan terkena penyakit Covid-19. Kalau si virus cuma nempel di tangan misalnya, ya bisa hilang dengan dicuci.

Kedua, kalaupun orang itu terkena Covid-19, kemungkinan besar dia gak akan menderita. Jangan bayangkan orang yang sakit Covid-19 itu akan tergeletak, atau dari mulutnya keluar busa seperti yang digambarkan film-film fiksi seperti Contagion.

Mereka yang terkena Covid-19, 80%nya akan merasakan gejala flu biasa. Karena itu perawatannya ya cukup di rumah saja.

Ini nih yang penting diingat, tubuh kita itu punya antibody untuk melawan virus apapun yang masuk ke tubuh kita, termasuk Corona.

Tuhan menciptakan virus Corona, tapi Tuhan juga menciptakan antibody dalam diri kita untuk melawannya. Nah si antibody inilah yang akan menghabisi Corona melalui sebuah pertempuran hidup-mati.

Kabar baiknya, kalau kita normal sehat, si antibody akan bisa mengalahkan si virus. Lama pertarungannya tergantung pada kekuatan kita, tapi bisa mencapai 2-3 minggu.

Karena itulah saran untuk orang yang sudah terkena virus Corona adalah istirahat, makan makanan sehat, banyak minum air putih, dan jangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran.

Obat-obatan yang kita peroleh dari dokter lebih ke arah mengobati symptom. Persis seperti kalau kita kena flu.

Obat flu itu bukan obat-obatan yang kita beli dari apotek atau kita peroleh dari dokter. Obat-obatan itu lebih ke arah mengalahkan gejala flu atau mencegah memburuknya keadaan.

Yang sebenarnya menyembuhkan kita ya antibody dalam diri kita.

Jadi jangan takut, mereka yang terkena Corona, kemungkinan besar akan sembuh dengan perlawanan kekuatan tubuhnya.

Tapi gini ya, saya baru bicara yang 80 persen. Yang 20% lebih serius. Yang lebih serius ini yang sebaiknya ditangani di rumah sakit.

Ini bisa terjadi karena memang imunitasnya lemah, atau mengidap penyakit lain, atau usianya sudah tua.

Tapi lagi-lagi, ini pun mayoritasnya akan sembuh.

Jadi apakah kita sebaiknya abaikan saja si Corona? Ya tidak juga.

Masalahnya, seperti saya bilang tadi, tetap ada korban yang meninggal akibat Corona. Jumlahnya sih hanya 3-4%, tapi kan tetap artinya ada nyawa yang harus diselamatkan.

Kalau ada 1000 orang yang sakit Covid-19, sekitar 30-40 orang akan meninggal. Mereka umumnya adalah kaum berusia tua yang punya penyakit kronis. 80% dari seluruh pasien Covid-19 yang meninggal adalah mereka yang berusia di atas 80 tahun.

Dan mereka yang meninggal ini umumnya juga punya penyakit kronis lain, seperti penyakit jantung, pernafasan, diabetes, darah tinggi dan sebagainya.

Misalnya kalau Anda berusia tua, berpenyakit jantung dan terkena Corona, peluang kematian Anda bisa mencapai 10%. Kalau kanker, 5%. Kalau diabetes, 7%.

Nah mereka ini terkena Corona akibat virus yang dibawa orang di sekitarnya yang bisa saja kelihatan sehat.

Itulah yang harus menjadi kepedulian kita bersama sekarang ini. Kita jangan terkena Corona karena kita bisa menyebarkan Corona pada orang lain.

Jadi, kita jangan terkena Corona dalam rangka melindungi kaum rentan itu.

Karena itu kalau Anda mulai menduga Anda mungkin membawa virus Corona, Anda tidak boleh menyentuh dan berdekatan dengan anggota keluarga Anda yang sudah berusia tua dan berpenyakit kronis.

Kalau sekarang ada kebijakan untuk social distancing, itu lebih dalam rangka menghindari jatuhnya korban dalam jumlah luar biasa dalam waktu cepat.

Wabah ini kan datang tiba-tiba. Penyebarannya sangat cepat. Dan keunggulan si virus ini adalah kemudahannya berpindah daris satu objek ke objek lain.

Akibatnya pandemik. Karena meledak, masyarakat panik. Rumah sakit penuh. Untuk itu masyarakat perlu ditentramkan dulu.

Harus ada cara untuk mengendalikan penyebaran virus. Diharapkan kalau penyebaran virus bisa dikurangi kecepatannya, jumlah korban berkurang.

Jadi kalau rate jumlah korban bisa dikendalikan, hidup bisa lebih tenang. Kita bisa kembali hidup normal. Jadi jangan berlebihan melihat Covid-19. Yang harus kita lakukan justru hidup biasa-biasa saja. Tetap bahagia meski ada Corona. Corona bisa dilawan tubuh kita.

Gunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, kita akan selamat.

Komentar