Eko Kuntadhi: PESAN KEJUT ANIES DAN GATOT

Jumpa lagi kisanak.

Senin lalu, di Jakarta ada pemandangan yang mengharukan. Orang-orang bergerombol di halte-halte Trans Jakarta. Antrian mengular Anakonda sampai berpuluh meter panjangnya.

Pemda DKI Jakarta memang mengambil keputusan untuk membatasi armada Trans Jakarta. Bukan hanya rute yang dipotong, tetapi juga jam operasionalnya. Kebijakan itu untuk memerangi dampak akibat wabah yang sedang melanda Jakarta.

Kita tentu heran pemirsa, bagaimana memerangi wabah yang penularannya akibat interaksi orang yang berdekatan dilakukan dengan kebijakan yang akhirnya membuat warga Jakarta bergerombol di halte. Alih-alih memerangi wabah, kebijakan itu bisa saja malah memicu wabah semakin membesar.

Kisanak yang budiman,

Menurut Gubernur Jakarta Anies Baswedan, kekacauan di halte-halte Trans Jakarta kemarin bukan merupakan kesalahan perhitungan dalam pengambilan kebijakan. Menurut Anies, justru hal itu disengaja dilakukan olehnya.

Langkah itu diambil untuk menimbulkan pesan kejut. Agar orang sadar terhadap bahaya wabah.

Dan saya terkejut kisanak, Waawwwww?

Bagaimana mungkin Anies mengejutkan warganya dengan cara membuat mereka semua beresiko terpapar wabah?

Dalam sebuah kesempatan Anies memprediksi bakal ada 6000 warga Jakarta yang akan terpapar wabah. Mungkin saja pemirsa, prediksinya akan terwujud akibat kebijakan pesan kejutnya tersebut.

Sepertinya bukan hanya kita, Presiden Jokowi juga kena setrum pesan kejutnya Anies.

Makanya, ketika mengetahui antrian mengular di halte-halte Trans Jakarta, ia cepat memerintahkan agar semua transportasi publik dilaksanakan secara normal. Gak usah dikejut-kejutin.

Saking terkejutnya, mungkin, akhirnya Presiden mengirim Mendagri Tito Karnavian untuk meredam berbagai efek kejut yang mengagetkan yang mungkin akan dilakukan Pemda DKI dalam menghadapi wabah ini.

Kisanak, lagi pula kalau mau membuat efek kejut mengapa harus mengambil jalan yang beresiko begitu. Bukankah cukup dengan cara, Ciluppp. Baaaa. Nengonengoneng.

Pemirsa, kita tidak tahu, apakah gaya efek kejut ini akibat Gubernur Jakarta sering nonton Youtuber alay yang hobi nge-prank followernya. Jadi kasus wabah juga akhirnya dibuat prank-prankan.

Kisanak yang budiman,
Jika kita telaah, sepertinya Gubernur Jakarta suka sekali dengan kebijakan pesan kejut seperti ini.

Jika demikian kita bisa memahami bahwa banjir di Jakarta, sebetulnya bukanlah musibah akibat drainase yang tidak lancar. Tetapi merupakan pesan kejut kepada warga Jakarta agar semua orang kembali mempelajari hukum termodinamika. Bahwa air mengalir ke tempat yang rendah.

Gubernur sedang mengingatkan kita semua warganya agar kembali mengingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam waktu SD dulu.

Ia sekaligus mengingatkan kita atas jasa para pahlawan air yang telah mendahului kita. Mereka adalah Denny Manusia ikan, Aqua Man, dan Litle Mermaid.

Kisanak yang budiman, kita juga harus memandang bahwa penebangan pohon di Monas mungkin juga merupakan pesan kejut. Gubernur sedang mengajarkan kepada warganya untuk mencintai pepohonan dan pelajaran bahwa harga kayu mahoni lebih mahal dari kayu Pole.

Demikian juga ketika mengangkat seorang tersangka penipuan jadi dirut BUMD lalu dibatalkan kembali, kita juga harus membacanya sebagai pesan kejut. Gubernur sedang memperingatkan warganya agar jangan berbuat kejahatan. Kalau menipu, mestinya menjabat Dirut, bisa dibatalkan.

Demikian juga ketika menyerahkan penghargaan pada diskotik Colloseum yang merupakan salah satu tempat peredaran narkoba. Penghargaan itu ditarik kembali. Gubernur juga sedang memberikan pesan kejut, bahwa tanda tangan itu gampang. Yang susah adalah pertanggungjawabannya.

Jangan-jangan kisanak, terpilihnya Anies sebagai Gubernur Jakarta juga merupakan pesan kejut. Tujuannya agar warga belajar tentang resiko besar apabila salah memilih pemimpin.

Sayangnya kisanak, pesan kejut dalam pemilihan Gubernur tidak bisa dibatalkan seperti pesan kejut Anies lainnya.

Efek kejut juga terjadi dari status IG Gatot Nurmantyo yang menyerukan orang berbondong-bondong sholat jemaah ke masjid. Padahal baru kemarin MUI sudah mengimbau umat Islam untuk sementara melakukan sholat di rumah.

Himbauan yang sama juga dilakukan ulama-ulama Al-Azhar di Mesir.

Pemirsa, kita terkejut, karena Gatot yang bukan kyai ternyata lebih kyai dari kyai. Ia tidak peduli penyebaran wabah, yang penting sholat jemaah.

Bagi Gatot, beragama tidak harus rasional. Yang penting sedikit nekad. Sebab kenekadan menandakan tingginya keimanan. Semakin nekad semakin beriman.

Mungkin Gatot belum baca berita. Di Petaling Malaysia ada Tabligh Akbar yang dihadiri oleh ribuan orang. Dan itu menjadi salah satu sumber penyebaran wabah paling besar di Malaysia saat ini.

Akibat wabah kali ini, efek kejut bukan hanya hasil kreasi Anies dan Gatot saja. Tapi banyak efek kejut lainnya yang terjadi.

Misalnya saat kita mau masuk ke mall, ke perkantoran, ke tempat kemaramaian lainnya, jidat kita juga akan discan.

Kita jadi seperti jajanan di Indomaret.

Demikianlah berita kali ini, pemirsa.
Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya

Lemesin aja, Kisanak…

Komentar