Denny Siregar: SURABAYA HARUS BANGGA PUNYA RISMA

Harus diakui, salah satu daerah yang paling siap menghadapi wabah, adalah Surabaya.

Sejak awal, ketika dunia sedang terpaku pada situasi di China, bu Risma Walikota Surabaya sudah bersiap diri. Ia bersama Pemkot Surabaya, langsung memborong ratusan ribu masker sebagai persiapan menghadapi bencana.

Dan benar saja, ketika akhirnya daerah lain sibuk mencari masker, dan harga masker meroket ke langit, Surabaya dengan percaya diri mengatakan bahwa mereka sudah siap. Masker di Surabaya pun dibagikan gratis, sedangkan Jakarta Pemprovnya malah jualan 300 ribu rupiah per boxnya.

Maaf, itu Pemprov apa pedagang Tanah Abang?

Meski sangat siap, bu Risma tetap mematuhi protokol saat bekerja sama dengan pusat. Dia tidak mencari panggung sendiri, tidak membangun citra sendiri atau malah bikin cerita yang menakut-nakuti. Tidak perlu jumpa pers supaya wajahnya terus nampang di tv.

Bu Risma sama seperti Jokowi, dia lebih suka bekerja dalam senyap, terukur dan sistematik. Tidak membuat gaduh yang tidak perlu. Kita harus angkat kopi untuk itu.

Dan ketika akhirnya pemerintah pusat mengumumkan darurat bencana, Risma pun sudah siap dengan langkah-langkahnya.

Langkah yang harus mendapat acungan jempol adalah Pemkot Surabaya mulai memproduksi hand sanitizer sendiri. Produksi dilakukan di RSUD Soewandhi. Pembersih tangan ini dibagikan ke masyarakat, GRATIS, tidak dipungut bayaran sepeserpun.

Selain itu Pemkot Surabaya juga mengadakan pengobatan gratis. Bukan hanya pengobatan, untuk pemeriksaannya pun gratis. Semua ditanggung oleh Pemkot. Keren, kan?

Hasil dari semua kerja keras itu, sampai sekarang belum ada kabar bahwa warga Surabaya ada yang positif. Kalaupun ada kabar, ternyata itu hoax dan pelakunya juga sudah ditangkap.

Seharusnya, kepala daerah se Indonesia diarahkan untuk mencontoh bagaimana Surabaya di bawah pimpinan Risma dalam melawan bencana.

Jokowi bisa memberikan penilaian dan penghargaan, mana Kepala Daerah yang paling tanggap dan paling siap dalam menghadapi situasi. Bukan cuman meliburkan sekolah doang, tapi tidak punya konsep bagaimana mencegah sejak dini.

Habis melihat kerja Risma, terus saya lihat Jakarta.

Sempat banyak orang yang memuji, kalau Jakarta paling tanggap bencana karena lebih cepat dari pemerintah pusat dalam mengumumkan situasi terkini. Pujian pun datang dari sana sini, bahkan mulai membanding-bandingkan dengan Presiden segala.

Yang dipuji lubang hidungnya melebar, terus bilang ke anak buahnya, “Ayo, dong bikin kebijakan lagi. Mumpung nama gua lagi naik nih…”

Besoknya mereka membuat kebijakan, “Supaya tidak terjadi kumpulan massa, maka transportasi publik kami batasi…”

Dan, akhirnya penumpang pun keleleran di jalan. Lalu memaki si pembuat kebijakan. Tadinya mau nyegah penyakit menular, eh malah kumpul-kumpul dan saling menyebarkan.

Pasti yang kasih usul dikeplak palanya, PLAK!

“Elu gimana sih? Tadi udah bagus-bagus, sekarang nama gua anjlok lagi anjlok lagi.. Kan suseeh gue bangun citranyaaaa… ”

Markibong

Komentar