Denny Siregar: IBUKOTA BARU, KENAPA HARUS AHOK?

Coba perhatikan, setiap kali ada pekerjaan besar dalam sebuah pemerintahan, nama Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama selalu tidak ketinggalan.

Pada waktu awal Jokowi menyusun kabinet dalam periode kedua, yaitu kabinet Indonesia Maju, banyak yang mengusulkan nama Ahok untuk masuk dalam jajaran Menteri.

Sayangnya, Undang-Undang tidak memperbolehkan, karena ia pernah menjadi terpidana kasus dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Dari sana kita bisa melihat, tingkat kepercayaan orang terhadap Ahok dalam urusan eksekusi, masih tinggi. Ahok mempunyai kemampuan manajerial yang mumpuni, ia tipikal eksekutor tangguh dan sistematik.

Kita masih ingat saat Ahok menjabat Gubernur Jakarta menggantikan Jokowi.

Kemampuan Ahok diatas rata-rata dalam membereskan banyak hal di Jakarta. Ia multitasking, bisa melakukan banyak hal besar dalam waktu bersamaan. Mulai dari menerima warga dengan sejuta keluhan mereka di balaikota, sampai mengerjakan proyek besar supaya Jakarta tidak banjir lagi.

Dan penduduk Jakarta banyak merasakan manfaat ketika Ahok menjadi Gubernur. Transportasi jadi nyaman, kemacetan jauh berkurang, dan kota tertata pelan-pelan. Sayangnya, Ahok tidak lama menjabat. Ia harus kalah karena warga Jakarta lebih suka pemimpin seiman, meski kerjanya lamban.

Dan Jakarta pun kembali seperti semula. Malah lebih parah, karena hanya dijadikan panggung pencitraan.

Jokowi yang pernah berpartner dengan Ahok saat menjabat sebagai Gubernur Jakarta, sangat paham cara kerja Ahok. Ahok itu seperti buldozer. Ketika punya tujuan, ia tidak perduli banyak penghalang. Semua yang ada di depan, dihantam. Dia punya target jelas, kapan pekerjaan harus selesai.

Ahok memang bukan politikus. Ia tidak mampu kompromi dan tarik ulur dengan sekitarnya. Ibarat main layang-layang, Ahok tidak pernah mengulur benangnya, ia tipikal pemain yang suka menarik dengan cepat dan keras. Itulah kenapa layangnya cepat putus.

Menempatkan Ahok pada tempat yang salah, jelas akan menimbulkan keributan. Tapi jika tempatnya benar, Ahok bisa menjadi sebuah mercusuar.

Itulah kenapa saya setuju sekali ketika Jokowi mengumumkan bahwa Ahok adalah salah satu dari 4 kandidat untuk menjadi Kepala Badan Otorita ibukota baru.

Inilah tempat yang sangat tepat buat Ahok.

Bayangkan, ibukota baru nanti akan dibangun dengan dana sampai 500 triliun rupiah. Dan sebagian besar dana diperoleh dengan model kerjasama bersama beberapa investor asing.

Sebagai orang yang punya dana, tentu investor-investor itu ingin dananya bisa dimanfaatkan dengan efektif. Tidak dikorupsi, apalagi dibuat pesta pora para tikus berdasi.

Ini berhubungan dengan kepercayaan. Orang yang memegang mega proyek itu tentulah harus mereka yang punya pengalaman dalam mengelola kota besar.

Sebagai tambahan informasi, ibukota baru dengan luas ratusan hektar itu, nanti diperkirakan akan ditempati 1,5 juta orang diawal. Mega proyek ini harus berhasil, karena akan dilihat oleh mata internasional.

Dan Ahoklah orang yang tepat sebagai CEO kota baru itu. Dia punya nama, punya karya. Dan tentu investor-investor besar itu senang, karena mereka tahu rekam jejaknya.

Ahok bisa menggabungkan investor luar dan investor lokal, supaya bersama-sama mewujudkan ibukota baru dengan progres yang sesuai jadwal.

Menarik memang melihat kiprah Ahok selama beberapa tahun ini.

Ahok memang pernah dipenjara karena terkena fitnah. Tapi itu tidak mematikan sinarnya. Bahkan sesudah keluar penjara, ia mendapat banyak tawaran kerja. Dan Ahok menerima tawaran yang paling berkesan, menjadi Komisaris Utama BUMN raksasa, yaitu Pertamina.

Ahok adalah bukti dari sebuah kalimat yang mengatakan, “Emas meski berada di tengah tumpukan sampah, ia tetap emas…”

Yang benci Ahok akan semakin benci. Karena dulu niat mereka memenjarakan Ahok memang untuk membunuh namanya.

Tapi sayang, Tuhan punya kehendak berbeda. Kelompok 212 tetap sibuk mencari nasi bungkus dengan demo di mana-mana, sedang Ahok namanya sudah ke mana-mana.

Saya kok jadi teringat “seseorang yang tidak boleh disebut namanya”, yang malah tersingkir nun jauh di sana. Apakah dia sehat-sehat saja dan tidak kena Corona ??

Markilang. Mari kita pulang..

Komentar