KALAU SAYA TERKENA VIRUS CORONA, YA SANTUY AJA | Logika Ade Armando

Para pendukung Wan Abud plus pendukung 212 mendoakan saya terkena virus Corona. Geli sekali saya membaca doa khusus mereka di media social

Mungkin bagi mereka, kalau saya terkena virus Corona saya akan mati. Atau itu akan menjadi azab yang melumpuhkan saya

Yah, maaf deh. Saya bukan sombong ya. Tentu saja saya tidak berharap kena virus Corona. Tapi tidak usah lebaylah soal Corona ini.

Kalau saya kena virus Corona, ya saya sakit. Tapi ya sakit yang biasa-biasa saja.

No big deal. Kata anak sekarang: santuy aja

Kalau saya kena Corona, tentu saya akan dirawat, tapi ya nggak lamalah. Terus hidup normal lagi.

Kalau mau kuatir, saya lebih kuatir kena demam berdarah Kalau mau kuatir, saya lebih kuatir kena TBC Tahukah Anda, TBC adalah penyebab kematian 100 ribu orang per tahun di Indonesia?

Kalau Corona? Sejauh ini yang saya tahu, fatality rate (tingkat kematian dibandingkan penderita) adalah cuma 2-3 persen.

Dan yang meninggal ini pun biasanya terjadi karena mereka memang rentan (berusia tua atau pengidap HIV) atau memang punya penyakit lain (jantung, gagal ginjal dan diabetes).

Fatality rate Corona juga jauh lebih rendah daripada virus MERS, yang fatality ratenya di Saudi mencapai 69%. Virus Ebola bahkan bisa sampai 90%

Kita ini lebay aja soal Corona. Kita kehilangan akal sehat. Padahal kita orang Indonesia… yang setiap hari makan bakso di piring yang dicucinya asal-asalan.

Atau kita makan cilok yang dibuatnya pakai diinjek-injek.

Geli sekaligus prihatin melihat masyarakat berburu beli masker, sampai harganya meningkat sepuluh kali lipat

Dan para pedagang memanfaatkan ketakutan dengan menjual masker dengan harga mahal. Kita panic karena imajinasi kita sendiri.

Orang membayangkan kematian di mana-mana, bergelimpangan di jalan-jalan, mati mendadak, tiba-tiba ada orang jatuh dan kejang-kejang, rumah sakit sesak oleh pasien-pasien sekarat, keluarga yang histeris, ..

Lebay.

Kita membayangkan bencana seperti digambarkan di film-film khayalan tentang meledaknya penyakit yang tidak dikenal

Film-film fiksi dijadikan referensi.

Ada film-film menegangkan seperti Outbreak atau Contagion yang bercerita tentang penyebaran penyakit mematikan yang memakan korban puluhan atau ratusan orang

Kita sendiri bikin Suasana mencekam. Setelah itu kita ketakutan. Ada pula Anies Baswedan yang bilang Jakarta dalam kondisi genting “Virus Corona sudah di level tertinggi,” katanya.

Omong kosong.

Dirjen WHO bilang: “Musuh terbesar kita bukanlah si virus. Tapi rasa takut, kabar burung, dan stigma . Modal terbesar kita adalah fakta, akal sehat dan solidaritas”.

Setuju!

Media massa menjadikan ini barang dagangan. Di depan rumah pasien, diparkir mobil liputan wartawan yang hendak mengabarkan keadaan pasien jam demi jam.

Isu tentang kehidupan pribadi pasien menyeruak.

Karena kesimpangsiuran informasi, orang hanya bisa menduga-duga bagaimana pasien tersebut terkena virus Corona.

Kita hanya tahu si pasien memperolehnya dari seorang pria Jepang.

Lantas ada tiga versi cerita. Pertama, si pasien adalah guru dansa si pria Jepang. Kedua, si pasien adalah teman dekat si pria Jepang. Ketiga, mereka berdua tidak saling kenal tapi kebetulan berada di klub dansa yang sama.

Cerita menjadi semakin dramatis ketika media melacak kehidupan si pasien dan melaporkan detail-detail temuan mereka.

Akhirnya Presiden harus turun tangan menyatakan identitas pasien harus dirahasiakan karena menyangkut privacy.

Ini menjadi drama, karena kita perlakukan sebagai drama. Padahal, Corona itu biasa-biasa saja.

Mereka yang terkena Corona di seluruh dunia memang mencapai hampir 90 ribu orang. Tapi dari 90 ribu itu, 80 di Cina.

Yang lumayan besar juga di Korsel (4000 kasus), Iran (1000) dan Italia (2000) Sekitar 3 ribu sisanya ada di 72 negara.

Yang tewas sampai Senin pagi lalu, hampir 3 ribu orang. Tapi di Asia Tenggara, korban tewas hampir tidak ada.

Besarkah angka-angka itu? Ya relatif kecil dibandingkan mereka yang meninggal karena penyakit-penyakit lain.

Jadi saya sih tidak merasa ada petaka kalau saya misalnya kena Virus Corona. Terus terang, kalau saya kena Virus Corona, saya tidak akan stress, depresi, atau merasa Tuhan sedang menghukum saya.

Saya tidak akan menutup-nutupinya. Saya tidak punya masalah kalau banyak orang tahu saya pasien Corona

Saya justru ingin agar orang yang pernah berinteraksi dengan saya tahu bahwa saya terkena virus Corona.

Agar mereka bisa memeriksakan diri. Dengan ringan saya akan tulis di FB, di Instagram, di WAG atau bahkan di youtube.

Bukan sebagai drama. Tapi sebagai cerita biasa. Ini bukan malapetaka. Ini bukan kiamat. Ini bukan AIDS. Ini cuma Virus Corona.

Mudah-mudahan sih saya tidak terkena. Tapi kalau saya terkena, saya akan menghadapinya dengan akal sehat.

Karena dengan akal sehat, kita semua akan selamat.

Komentar