Denny Siregar: ANIES, JANGAN CARI PANGGUNG DARI VIRUS CORONA!

Kemarin, Jokowi secara resmi mengumumkan bahwa ada 2 orang warga Indonesia positif terjangkit virus Corona.

Warga Negara Indonesia ini dipastikan terkena Corona, sesudah bertemu dengan warga Jepang. Mereka sekarang berada di rumah sakit dan mendapat perawatan intensif.

Pernyataan resmi dari Presiden ini adalah pernyataan pertama bahwa Indonesia sudah masuk dalam daftar negara terdampak virus Corona bersama banyak negara lainnya.

Kenapa Pemerintah pusat terkesan lambat dalam menangani isu virus Corona ini?

Sebenarnya bukan lambat, pemerintah sangat hati-hati dalam memberikan pernyataan. Isu virus Corona ini bukan saja berhubungan dengan masalah kesehatan, tetapi dampaknya juga ada di ekonomi sebuah negara.

Lihat saja, karena masalah Corona ini ekonomi China melambat. Mereka dikabarkan rugi lebih dari 2.500 triliun rupiah. Pabrik manufaktur banyak yang tutup dan pegawainya banyak yang tidak bekerja.

Akibatnya, ekonomi dunia juga ikut merosot.

Contohnya Singapura. Negara ini sesudah mengumumkan bahwa ada warganya terkena virus Corona, langsung ekonominya lesu. Warganya tidak mau keluar rumah dan tingkat kosumsi turun. Singapura bahkan merevisi laju pertumbuhan ekonominya sampai 1,5 persen untuk tahun ini.

Hanya Singapura pintar. Mereka langsung menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tanggap dan cepat melakukan tindakan. Kecepatan pemerintah Singapura ini mendapat apresiasi sehingga banyak investor menarik dananya dari luar negeri dan menaruhnya di Singapura. Akibatnya, mata uang Singapura langsung menguat.

Indonesia beda dengan Singapura.

Salah satu unggulan devisa negara ada di sektor pariwisata. Pemerintah sendiri menargetkan kunjungan wisatawan ke Indonesia sebanyak 17 juta orang. Target pendapatan dari pariwisata bernilai triliunan rupiah.

Hanya, sektor pariwisata ini rentan terhadap isu. Dan isu Corona berimbas pada turunnya jumlah wisatawan ke Indonesia.

Dikabarkan, Bali mulai terdampak sepi dari wisatawan. Jogja juga, dan banyak dari daerah lain turun jumlah wisatawannya. Ribuan hotel mulai meliburkan karyawannya. Imbas lain, rupiah Indonesia pun jadi lemah.

Karena itu, pusat mengucurkan dana ratusan miliar rupiah untuk diskon tiket pesawat supaya ekonomi di sektor pariwisata bisa terselamatkan. Jokowi juga mengucurkan dana 72miliar rupiah, untuk emmbayar influencer terkenal dari luar negeri supaya mau mempromosikan pariwisata di Indonesia.

Dari sini kita lihat, bahwa isu virus Corona itu berdampak nasional. Ekonomi bisa goyah. Dan ini yang harus dijaga pemerintah.

Karena itu, tepat sekali kalau harus Presiden yang mengumumkan masalah virus Corona ini. Isu ini tidak boleh menjadi liar sebab dampaknya bisa mengganggu perekonomian nasional..

Mangkanya saya kesal sekali, ketika Anies Baswedan, Gubernur DKI, tiba-tiba mengumumkan kalau di DKI sendiri waspada Corona sampai mengeluarkan instruksi Gubernur segala. Apalagi dia mengumumkannya lewat media.

Anies itu entah sadar atau tidak, bahwa pernyataan dia akan dikutip oleh media internasional. Dan bahayanya, pernyataan seorang Kepala Daerah ini akan dianggap pernyataan resmi negara. Dampaknya bukan hanya Jakarta, tapi seluruh Indonesia.

Anies seperti bermain dalam isu virus Corona ini. Dia merasa dirinya seolah seorang Presiden yang punya hak mengumumkan situasi genting sebuah negara. Dan benar saja, pendukungnya pun bersorak sorai, kalau Anies lebih tanggap dari Presiden dalam mengumumkan waspada Corona.

Ada yang bilang, “Goodbener rasa Presiden..” Dan membenarkan langkah Anies, tanpa sadar bahwa pernyataan seorang Kepala Daerah seperti itu membahayakan ketahanan ekonomi nasional.

Apalagi ditambah twit Fahira Idris yang viral tentang jumlah mereka yang kena virus Corona. Meski twit itu sudah dihapus, tapi dampaknya sudah kemana-mana. Padahal itu hoax, yang seperti sengaja dilakukan untuk menambah kepanikan.

Anies Baswedan, jangan politisasi isu virus Corona untuk kepentingan politik sesaat. Virus ini berbahaya, bukan saja dari sisi penyebarannya, tapi dari sisi runtuhnya ekonomi kita.

Sudah cukup politisasi ayat dan mayat waktu Pilgub mengoyak kebhinnekaan kita. Jangan lagi ditambah isu virus hanya untuk mengangkat nama dan mengalihkan isu dari banjir besar yang kemarin melanda Jakarta.

Apa susahnya koordinasi dengan pemerintah pusat dan biarkan mereka melakukan tugasnya ?

Jangan cari panggung dari masalah ini. Virus Corona adalah masalah besar yang harus dihadapi bersama dengan Presiden sebagai panglimanya. Bukan urusan Kepala Daerah yang mengumumkannya.

Kepala daerah cukup melaporkan dan membangun persiapan sesuai instruksi pusat. Bukan jalan sendiri-sendiri seolah menjadi pahlawan dari masalah ini. Ini masalah nyawa dan perut orang banyak. Stop memainkan kemanusiaan demi ambisi pribadi.

Sudah seharusnya menghadapi bencana ini, kita bergandeng tangan. Virus Corona adalah masalah bangsa, bukan untuk dijadikan iklan semata.

Markibong.

Komentar