Denny Siregar: MUALAF ITU HARUSNYA BELAJAR, BUKANNYA NGAJAR. PAHAM ORA, SON?

Beberapa waktu ini viral beberapa “ustad” mualaf yang memberikan ceramah dan diupload ke media sosial.

Mereka disebut mualaf, karena pindah agama dari agama A ke agama B. Sebagai orang yang baru mengenal agama baru, seharusnya si mualaf ini, di agama apapun, mulai belajar menggali ilmu supaya semakin cerdas dan berwawasan.

Lucunya, fenomena belakangan ini, si mualaf yang seharusnya belajar malah di daulat untuk mengajar. Mereka kemudian disebut “ustad” yang kalau diartikan bermakna pendidik atau pengajar.

Eh, si mualafnya mau lagi. Bukannya merasa rendah diri dengan bilang, “Maaf, saya harus banyak belajar..” mereka malah dengan tinggi hati mengambil podium dan kursi lalu mengajarkan pelajaran dimana mereka seharusnya banyak belajar.

Apa jualan mereka ?

Ya, pasti menjelek-jelekkan agama sebelumnya yang mereka anut. Persis seperti sales Coca Cola yang pindah ke Pepsi dan cerita buruknya Coca Cola dari A sampai Z.

Mereka harus jualan kejelekan-kejelekan itu, karena memang tidak ada ilmu yang bisa mereka ajarkan. Akhirnya menggali-gali “Apa ya yang harus gua tonjolkan ? Gua cerdas kagak, bego iya. Ah, enaknya jualan keburukan. Pasti ada yang beli. Karena bad news is a good news…”

Sebagai aksesori tambahan, si mualaf-mualaf itu kemudian mengarang cerita dan menambah-nambahkan gelar. Ada yang bilang pernah sekolah sampai S3 di Vatikan lah, padahal mana ada sekolah di Vatikan??

Ada yang bilang dulu pernah sekolah teologi sampai selesai, eh gak lama ada yang bongkar kalau dia sekolah saja tidak usai…

Gelar-gelar dan cerita bombastis itu harus ada, namanya Sales. Kalau ga ada gituan, siapa yang mau ngundang?

Sesudah gelar ditambahkan, lalu ganti pakaian dengan nuansa kearab-araban. Harus ada gitunya, soalnya di negara berflower ini Arab identik dengan Islam. Jadi harus pake gamis putih, terus sorban, jenggot pelihara sedikit, belajar cengkok Arab, dan hapalkan satu dua ayat tentang sabar dan ikhlas.

Jadi deh “ustad”. Mirip tahu bulat yamg digoreng dadakan…

Dan seperti hukum pasar, ada aja pembelinya. Pembelinya, ya mereka yang juga baru belajar agama tapi sudah merasa paling beriman.

Lucu memang. Yang ngajar bodoh, yang dengerin juga bodoh. Akhirnya yang diceritakan adalah kebodohan-kebodohan. Ga ada ilmu yang bertambah. Mereka saling berkhayal bahwa dirinya adalah yang paling benar dan semua disekitarnya salah.

Kalau kata generasi milenial, pembicara dan jamaahnya haluuu semua…

Aneh memang. Bagaimana seorang karateka sabuk putih bisa dapat ilmu dari seorang karateka sabuk putih juga ? Wong, mereka sama-sama sedang belajar…

Fenomena ini sudah ada sejak lama. Ada yang namanya Yahya Waloni, ada Felix Siaw, ada Irene Handono yang ngaku dulu biarawati dan sekarang muncul yang namanya Bangun Samudra…

Selain nama-nama itu, diakar rumput juga ada beberapa, tapi belum dikenal. Mereka sedang meniti karir dengan menambah jam terbang supaya harganya semakin mahal.

Kenapa orang-orang ini eksis?

Karena Indonesia sangat liberal dalam hal pengajar agama, khususnya Islam. Tidak ada lembaga khusus untuk sertifikasi pengajar, semua bebas untuk mengajar dan menyampaikan pemikiran agama. Beda dengan banyak negara muslim, yang bahkan untuk ceramah di hari Jumat pun sudah diarahkan supaya umat tidak kebingungan dengan perbedaan tafsir.

Dan ini adalah bom waktu ke depan…

Para “ustad” mualaf dan “ustad2” baru belajar itu sedang menanamkan kebodohan dalam benak jamaahnya. Mereka suka mengambil ayat-ayat perang dalam kitab suci, tanpa pernah belajar kapan ayat itu dikeluarkan dan pada waktu apa. Pokoknya hajar, biar dianggap pintar.

Ketika seorang muslim semakin lama semakin bodoh, akhirnya mereka tanpa sadar menjadi intoleran dan radikal. Dan jika komunitas beginian semakin banyak, mereka akan memaksakan kebodohannya kepada orang sekitar dengan tekanan massa dan kekuatan minus akal.

Indonesia, jika tidak segera membenahi dirinya mulai sekarang, kelak akan menuai apa yang mereka tanam.

Saya jadi teringat perkataan Rasulullah Saw, dimasa-masa akhir beliau, “Umatku akan banyak di akhir zaman, tapi mereka seperti buih di lautan…”

Markibong.

 

 

Komentar