Eko Kuntadhi: DARI FORMULA E ANIES KE S3 VATIKAN

Jika ada Gubernur yang ngotot jadi panitia balap, mungkin Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan adalah orangnya. Bagi Anies, balap Formula E adalah segalanya. Apapun akan dilakukan demi terwujudnya acara yang nanti akan dinikmati para pembalap asing.

Ibaratnya, gunung akan didaki. Lautan disebrangi. Dan pohon di Monas ditebangi asal balap Formula E bisa terlaksana di Jakarta.

Untuk menyiapkan acara sekitar Rp1,6 triliun biaya digelontorkan. Sayangnya semua harus berbentuk duit, tidak bisa diganti dengan kertas tissue.

Yang paling seru adalah soal permohonan surat izin menggunaan Monas untuk ajang balap Tamiya tersebut. Ternyata dalam surat yang ditandatangani Anies, ditujukan ke Setneg, ada kebohongan yang disampaikan.

Anies mengklaim, bahwa acaranya sudah mendapat rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Ternyata, Ketua TACB Mudarjito tidak pernah mengeluarkan rekomendasi.

Untung saja, Sekretaris Daerah DKI Saefullah punya kiat jitu untuk ngeles. Hal ini dilakukan untuk melindungi atasannya. Menurut Syaefullah, kesalahan surat itu karena salah ketik.

Begitulah ciri khas Jakarta. Ketika anggaran lem aibon yang menghebohkan, alasannya salah input.

Ketika Jakarta banjir, yang jadi alasan salah Ahok.

Ketika mengangkat residifis peniupuan jadi Direktur BUMN Transjakarta, alasannya salah orang.

Nah, saat kebohongan surat ke Setneg terbongkar, alasanya salah ketik.

Tapi, sebagian orang berganggapan semua kecauan yang terjadi di Jakarta disebabkan karena warga salah pilih.

Yang mengherankan, anggaran pembelian Tips Ex di pemda di DKI sudah cukup besar. Lalu buat apa Tips-Ex itu, jika tidak digunakan untuk membenarkan kesalahan.

Memang sih, Tips-Ex hanya bisa menghapus salah ketik. Tapi tidak bisa menutupi kebohongan yang terstruktur, sistematis dan massif.

Pemirsa, untuk menghindari salah ketik yang terus berulang dan bisa berakibat fatal, Pemda DKI tampaknya perlu membuat kursus mengetik 12 jari kepada jajarannya, mulai dari tingkat dasar, terampil mahir sampai ahli.

Pertama, yang perlu diajarkan adalah mengetahui dimana letak huruf A dalam papan keyboard. Lalu perlu diajarkan bedanya mengetik surat berisi informasin bohong dengan surat yang cuma typo saja.

Seorang juru ketik yang ahli, ia bisa mengetik sambil kerja bakti mengangkat sampah bekas banjir. Ia juga bisa mengetik sambil panjat tebing. Bahkan semestinya dia juga bisa mengetik di kedalaman 300 M, di bawah permukaan laut tanpa bantuan tabung oksigen.

Berkenaan dengan salah ketik surat rekomendasi Formula E. Dapat dimaklumi. Sebab sesungguhnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Kita jangan lupa, kesalahan ketik sesungguhnya adalah kebenaran yang tertunda.

Pemirsa, mengomentari soal balapan Formula E, banyak orang heran dan berkomentar heran kenapa Anies begitu ngotot melaksanakannya sampai banyak aturan yang ditrabas.

Padahal sebetulnya balapan Formula E itu, bukan budaya Indonesia. Budaya Indonesia adalah balap karung dan trek-trekan di malam minggu. Dengan cabe-cabean menonton di pinggir jalan.

Sedangkan salah ketik saat ini bisa juga dimasukkan sebagai warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Bahkan bukan surat Anies saja yang salah ketik. Draft RUU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja juga ada salah ketik. Sampai Presiden menginstruksikan menariknya kembali.

Kita berharap, suatu saat nanti di Indonesia terbentuk Asosiasi Salah Ketik Nasional, yang akan melestarikan budaya salah ketik agar tidak hilang digilas Tips-ex.

Pemirsa
Kita ikuti berita kedua mengenai seorang penceramah bernama Ustad Bangun Samudera. Ustad Mualaf ini mengaku lulusan S3 Vatikan.

Tidak diterangkan, apakah dia masuk kuliah S3 Vatikan melalui jalur prestasi atau jalur penelusuran minat dan bakat. Mungkin juga dia masuk melalui jalur menelusuran garis tangan. Tidak ada yang tahu.

Pemirsa, fenomena ustad mualaf ini memang ramai di Indonesia. Kita kenal felix Siauw, Irene Handono, Yahya Waloni sampai yang terbaru S3 Vatikan itu.

Biasanya, isi ceramah ustad-ustadjah mualaf ini selalu menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Mendengar ceramah mereka, kita sama saja sedang mendengarkan curcol orang patah hati sedang ngomongin mantannya. Gak ada bagus-bagusnya sama sekali. Inilah yang dinamakan ustad gak bisa move-on.

Yang dibicarakan keburukan agama orang lain melulu, sampai lupa mengajarkan kebaikan agamanya sendiri.

Ini bisa jadi trik bagi ustad muslim sejak kecil. Kalau dia mau laku keras sebagai ustad, dia harus murtad dulu, baru masuk Islam lagi. Kemudian ngaku sebagai ustad mualaf, lulusan S3 Bunda Kudus. Jurusan tata boga.

Komentar