Denny Siregar: MAINKAN CATURNYA LAGI, PAK JOKOWI

Beberapa waktu ini saya keliling ke banyak tempat, terutama bertemu dengan banyak relawan Jokowi yang dulu berjuang supaya beliau terpilih kedua kali.

Saya memposisikan diri sebagai pendengar, mencoba ingin tahu apa keresahan mereka. Dan ada beberapa poin yang saya catat, semoga bisa diperbaiki.

Pada intinya, mereka resah dengan kabinet Indonesia Maju yang Jokowi bentuk. Bukan nama kabinetnya yang bermasalah, tapi orang-orangnya tidak merepresentasikan kemajuan Indonesia.

Ketika berbicara “Indonesia Maju” maka yang ada dalam benak orang adalah sesuatu yang bersifat kedepan dan futuristik. Sebuah mimpi panjang terhadap bentuk Indonesia yang jaya dan kelak disegani dunia.

Dan itu harusnya diwakili oleh orang-orang yang dipercaya Jokowi untuk membawa narasi besarnya. Mereka adalah para Menteri dan orang disekitar Jokowi.

Saya selalu menggambarkan bahwa Jokowi adalah pemain catur. Ia menyusun bidak-bidaknya dalam sebuah permainan panjang yang menguras akal dan waktu. Periode pertama, permainan catur Jokowi begitu mengagumkan dengan langkah-langkah yang sulit ditebak, tapi pada akhirnya membuat lawan tandingnya tumbang.

Sayangnya, periode kedua ini, susunan bidak Jokowi begitu aneh dan tidak sesuai dengan nama “Indonesia Maju” yang digaungkan.

Sebagai contoh, Menteri Agama…

Jokowi sudah benar, memilih seorang Menteri yang tidak berasal dari dua ormas Islam besar di Indonesia. Menterinya kali ini seorang Jenderal. Mungkin harapan Jokowi, sang Jenderal inilah yang bisa menjadi benteng Jokowi dalam menghadapi intoleransi dinegeri ini. Seorang Jenderal, pasti punya taktik dan strategi yang mumpuni…

Tapi ternyata sang Jenderal tidak bisa menjadi benteng tangguh. Bukannya membangun pertahanan kuat dari kelompok intoleran, beliau terkesan menjadi pendukung mereka. Pernyataannya sering blunder dan malah menjadi cemoohan banyak orang.

Startnya saja yang keren, “Saya bukan Menteri Agama Islam..,” tapi ditengah perjalanan seperti motor kehabisan bensin. Bukannya membawa narasi kemajuan, malah jadi mundur kebelakang karena intoleransi menjadi-jadi.

Siapa yang disalahkan ketika Menteri Agamanya lemah ? Ya, Jokowi. Soalnya Jokowi pernah bilang, “Tidak ada visi Menteri, yang ada visi Presiden..”. Dan pernyataan ini malah menjadi bumerang kepada Presiden karena ia dianggap membiarkan masalah intoleransi terjadi.

Bidak lain yang lemah adalah Menteri Komunikasi dan Informasi, Menkominfo.

Entah kriteria apa yang jadi ukuran Jokowi, sehingga memilih seorang Menkominfo yang tidak paham dunia internet sama sekali. Beliau terlihat gagap saat berhadapan dengan situs-situs porno dari luar negeri. Berita hoax dari media online abal-abal juga masih mendominasi.

Ya, gimana lagi.. Usia Menkominfo sudah 63 tahun. Beliau lahir saat gurunya masih Oemar Bakrie, jadi bagaimana bisa paham kemajuan di dunia internet yang dikuasai anak-anak muda dengan kepintaran setara Nadiem Makarim.

Yang lucu juga,  Menteri Pemuda dan Olahraga atau Menpora.

Beliau berumur 57 tahun, sama sekali bukan pemuda dan sama sekali tidak ada rekam jejak dalam olahraga. Catatan yang saya dapat, beliau ini murni pengusaha dan politisi.

Lha, kok bisa jadi Menpora?

Kenapa pak Jokowi tidak tunjuk saja misalnya Giring Ganesha, mantan vokalis grup musik Nidji, yang sekarang menjadi Presiden E-Sports?

Giring jauh lebih cocok bicara olahraga, apalagi olahraga masa depan seperti E-Sports. Dia masih muda, masih 36 tahun dan masuk generasi Milenial yang bisa berbicara kemajuan Indonesia dalam kepemudaan dan olahraga. Orangnya “good looking” dan pasti disukai kamera ketika berbicara.

Giring lah seharusnya yang cocok membawa narasi “Indonesia Maju”, bukan yang tua-tua.

Dulu saya kira, Jokowi mau menandingi Malaysia ketika mereka menjadikan Syed Saddiq yang masih berusia 27 tahun jadi Menteri Olahraga. Ternyata yang dipilih sudah capek semua…

Menteri yang muda seperti Menteri Pariwisata malah seperti bingung dengan tugasnya. Sekalinya muncul diawal, bikin kehebohan dengan wisata syariah. Habis itu, diemmmm gada suara…

Nah, ada lagi yang lucu. Juru bicara Presiden…

Beberapa Presiden di Indonesia, punya juru bicara yang kuat dan disukai kamera. Dulu Gus Dur punya Wimar Witoelar yang unik dan punya ciri khas dengan gaya rambut kriting dan bicaranya lugas. Wimar sering muncul di televisi dan menjadi salah satu kekuatan Gus Dur sebagai penyampai pesan istana.

SBY dulu juga punya Andi Malarangeng. Kumisnya yang lebat dan selalu sigap dikerumuni wartawan, membuat komunikasi antara istana dan publik menjadi lancar.

Juru bicara Presiden bisa dianggap “terasnya” istana, wajah depan yang selalu dilihat orang ketika lewat. Jadi mereka harus pintar bicara, pintar mengorganisir media, paham bahwa mereka mewakili istana dan juga harus tampil percaya diri, segar, ramah dan enak dilihat.

KPK juga sempat punya Febri Diansyah yang begitu cool dalam menyampaikan visi dan misi KPK di depan kamera. Kementrian BUMN punya Arya Sinulingga yang charming dan menjadi sorotan media.

Juru bicara Presiden di periode pertama, yaitu Johan Budi mantan jubir KPK, malah selama 5 tahun gak kedengaran suaranya. Saya juga sempat lupa, dia dulu ada atau tidak?

Juru bicara sekarang memang muncul, tapi sama sekali gak menjadi representasi Presiden yang berwibawa. Coba kita lihat tweetnya…

Bang Fadjroel, duh maaf bang. Gak tahan untuk gak kritik abang. Kayaknya abang lebih oke kalau ada di belakang layar deh daripada nampang di depan. Masak juru bicara Presiden tik tokan ? Hancur wibawa Jokowi kalau gini, bang…

Kalau Presiden mau milih juru bicara yang oke, saya coba pilihkan.

Ada Rizal Malarangeng, dengan suara berat dan wajah tampan. Dia pintar dan menguasai banyak permasalahan. Ada juga Tantowi Yahya, Dubes Selandia Baru yang charming dan flamboyan yang pasti bisa ngobrol enak sama wartawan.

Kalau wartawan saja sudah tidak suka dengan penampilan juru bicara, bagaimana mereka bisa ceria yang bagus-bagus terhadap keputusan istana?

Masih banyak lagi sebenarnya Menteri-Menteri yang kurang oke di Kabinet Indonesia Maju ini. Ada yang sudah tua, ada yang tidak sesuai bidangnya dan ada juga yang terlalu cuek memberikan pernyataan untuk publik, seperti “Mari kita hadapi virus dengan doa…”

Tapi cukuplah segitu dulu, kepanjangan kalau nanti saya ngomong. Saya kan bukan Maheer alias si Soni yang kalau nyerocos kayak senapan otomatis tanpa pegangan..

Mungkin pak Jokowi harus menyusun ulang kembali bidak-bidak caturnya. Kadang perlu mundur sejenak ke belakang dan memikirkan kembali strategi terbaik sebelum melangkah ke depan…

Ada sebuah pendapat menarik dari seorang kawan…

Permasalahan pak Jokowi sekarang ini adalah dia sudah tidak punya lawan. Tidak ada oposisi yang kuat dalam periode kali ini, semua dirangkul dan berlayar dalam satu kapal. Dan ini tanpa sadar menjadi sebuah masalah baru, dimana pak Jokowi jadi tidak lagi punya ukuran bagaimana cara memenangkan pertandingan…

Pak Jokowi seperti bermain catur melawan dirinya sendiri. Sebuah permainan tunggal yang sama sekali tidak menarik untuk disaksikan.

Dan diseberang sana, kelompok radikal sedang mengintip untuk menggantikan posisi Jokowi ketika Presiden sudah merasa bosan. Mereka bermain dan mengambil banyak keuntungan, saat pertahanan Jokowi yaitu para relawan, mulai mundur perlahan-lahan…

Dan mudah-mudahan semua ini disadari benar oleh pak Jokowi dan orang sekitarnya. Jangan sampai rakyat akhirnya yang menjadi oposisi dan menjadi lawan catur Jokowi dalam sekian tahun ke depan…

Ini kritik sayang, pak… Bukan ancaman.

Karena kami tetap akan mengawal pemerintahan ini dengan cara kami. Sejak dulu kami punya motto yang menyatukan. “Ini bukan saja tentang Jokowi. Ini tentang NKRI…”

Markibong.

 

 

 

 

Komentar