Denny Siregar: ADUH, OMNIBUS CILAKA…

Saya kemarin nonton film dokumenter produksi Barrack Obama yang menang Oscar berjudul American Factory.

Film dokumenter itu bercerita tentang hancurnya industri di Amerika, seperti General Motors. Banyak pengangguran dan membuat repot negara.

Investor asing dari China masuk, sebuah pabrik pembuat kaca mobil yang membeli bekas pabrik General Motors. Mereka kemudian merekrut karyawan yang tadi nganggur dan muncul harapan baru.

Sayangnya, itu tidak lama. Investor China mengeluh dengan kualitas tenaga kerja di Amerika. Mereka dianggap lamban, suka menuntut dan mengeluh, sering libur dan yang paling mengganggu adalah serikat pekerja.

Investor China itu kemudian membawa beberapa eksekutif perusahaan ke negaranya. Disana, para eksekutif Amerika melihat bagaimana para buruh China itu bekerja seperti sedang perang. Satu buruh China bisa mewakili dua sampai tiga orang buruh Amerika. Mereka tidak punya serikat pekerja yang mengganggu, sehingga produktivitas tercapai.

Saya jadi teringat di akhir tahun 2019…

Perang dagang Amerika versus China membawa berkah untuk negara-negara industri. Ada 33 perusahaan besar China yang ingin memindahkan pabriknya. Itu berarti ada potensi ribuan triliun rupiah masuk kesini.

Tapi, tidak ada satupun yang mau investasi ke Indonesia. Tujuan mereka adalah Vietnam.

Jokowi dikabarkan marah besar, tersinggung karena negaranya dipandang sebelah mata. Dia juga memikirkan ada 7 juta pengangguran di Indonesia yang butuh kerjaan. Dan pertanyaan besarnya adalah, “Kenapa Indonesia sama sekali tidak dianggap layak investasi?”

Memang beda Indonesia dan Vietnam dalam hal mengundang investor asing. Vietnam sangat siap. Mereka tidak punya masalah dengan lahan, karena semua dikuasai negara. Di Indonesia, untuk masalah lahan saja, sulit sekali nyarinya. Belum izin yang tumpang tindih antara pusat dan daerah, akibat reformasi. Pokoknya, males lah investasi di Indonesia.

Jokowi tidak mau nyerah. Dia kemudian merancang UU yang bernama Omnibus Law. Omnibus Law ini adalah produk hukum yang mengikat beberapa produk hukum. Jadi, semisal di daerah ada perda untuk investasi yang menyulitkan, maka Omnibus Law menjadi acuan.

Salah satu yang sedang digodok dalam Omnibus Law ini adalah Omnibus Cipta Lapangan Kerja, atau dikenal dengan nama Cilaka. Ini khusus untuk tenaga kerja.

Dalam RUU itu, pemerintah ingin menghapus izin khusus yang selama ini menjadi masalah. Seperti izin cuti waktu mendapat haid pertama, cuti menikah atau ketika menikahkan, cuti karena istri keguguran dan banyak cuti lain yang malah bikin produktivitas kerja turun.

Dan ini yang sering dikeluhkan perusahaan. Sudah kerjanya lamban, banyak cutinya, tapi pengennya gaji gede dan banyak maunya. Belum lagi serikat pekerjanya yang lebih sibuk demo daripada menjaga bagaimana anggotanya bisa tetap makan.

Berita buruk tentang buruh dan susahnya izin di Indonesia ini, tentu sampai ke negara luar sehingga mereka takut dan mending investasi ke Vietnam lebih menguntungkan.

Kalau melihat film American Factory, buruh di Amerika ada mirip-miripnya ma buruh di Indonesia menurut pandangan investor China.

Kembali ke Omnibus Law Cilaka tadi…

Apakah para buruh terima kalau izin cuti khusus mereka dihapus ? Ow, tentu tidak..

Para buruh yang tergabung dalam serikat pekerja sudah mengancam untuk demo besar-besaran. Ya tentu demo dengan naik motor Ninja yang cicilannya 2 juta perbulan meski gajinya cuman 3 jutaan. Demo penting, tapi gaya jauh lebih penting.

Ini tentu jadi PR besar Jokowi. Satu sisi ingin menarik investor luar dengan banyak kemudahan. Satunya lagi harus berhadapan dengan masalah pekerja yang tidak hanya butuh makan, tapi juga butuh liburan, handphone terbaru sampai biaya untuk mejeng di Instagram, meski skill kerja pas-pasan.

Ini memang masalah klasik di negeri tercinta ini. Banyaknya buruh yang kerja di pabrik, karena memang sekolah-sekolah kita hanya mencetak para pegawai, bukan profesional atau wiraswasta. Seandainya kita sejak dulu fokus untuk lebih banyak mencetak wiraswasta, tentu tidak akan ada masalah seperti ini.

Permasalahan lain adalah, ketika perusahaan besar lebih suka mengganti tenaga manusia yang makin banyak permintaan dengan robot pekerja, bagaimana nasib buruh kelak ?

Dan itu yang terjadi dalam film American Factory, bahwa China lebih suka menggunakan robot daripada buruh di Amerika karena mereka kerjanya lebih jelas dan gak punya kemauan.

Kelak, Indonesia juga akan sama. Robot akan mengganti jutaan buruh disini. Dan pengangguran karena tidak punya skill dan keberanian memulai usaha, akan menjadi-jadi. Habis itu salahkan Jokowi karena nasib mereka tidak bisa diperbaiki.

Saya punya seorang teman. Dia dulu juga buruh pabrik bertahun-tahun kerja di perusahaan orang. Akhirnya dia keluar karena merasa gak punya harapan hidup lebih besar kalau tetap disana. Dia akhirnya jualan bakso kecil-kecilan.

Gak malu ? Ngga, katanya. Mending begini hidup ga ada yang ngatur, mau libur kek, gada yang melarang. Daripada gaya selangit, tapi hidup penuh aturan.

Akhirnya dia dapat kredit dari pemerintah, dan usaha baksonya berkembang. Dia jadi manusia merdeka, tetap sederhana dan berkecukupan.

Tinggal pilih aja, mau jadi buruh selamanya dan siap setiap saat diganti robot atau jadi pedagang bakso yang merdeka dan hidup lumayan?

Atau jadi ustad ajalah. Soalnya gampang jadi ustad. Tinggal hapal satu dua ayat, terus pake gamis, terus caci maki pemerintah, bisa tuh mendadak kaya kayak Sugik Nur.. 😄😄

Markibong…

 

Komentar