BAHKAN JEMAAH UMROH PUN DIBAWA KE TEMPAT PELARIAN RIZIEQ | Logika Ade Armando

Ada cerita dari Arab saudi. Salah seorang kenalan baru saja ikut umroh yang diorganisir sebuah biro perjalanan.

Dalam perjalanan semacam itu, memang biasa ada acara jalan-jalan,  mengunjungi tempat wisata atau belanja-belanja.

Tapi kali ini ada tempat istimewa yang turut didatangi. Mereka, para jemaah itu, dibawa mengunjungi Rizieq Shihab.

The one and only RIZIEQ SHIHAB

Tentu saja Rizieq nampak gembira. Kenalan saya itu ya terpaksa harus mendengarkan Rizieq memberi tausyiah. Isi ceramahnya sih aman. Normatif saja.

Tapi tentu saja Rizieq merasa perlu menyisipkan penjelasan tentang kenapa dia belum pulang ke Indonesia

Katanya, visa menetap dia di sana sudah habis masanya. Dia seharusnya sudah meninggalkan Saudi. Tapi, apa mau dikata, kata Rizieq, pemerintah Indonesia menolak menerimanya.

Hmmmm sedih sekali ya?

Saya jadi berpikir, apa acara bertemu Rizieq ini memang sering dilakukan biro perjalanan? Dan kalau ya, barangkali memang inilah cara Rizieq bertahan di Saudi.

Dia bisa hidup antara lain dari ceramah-ceramahnya kepada jemaah umroh Indonesia. Kemungkinan besar, ceramahnya kan tidak gratis. Dia dapatlah uang lelah dari biro perjalanan.

Tapi yang menarik, kenapa pula biro travel itu memilih Rizieq?

Ini kan agak ironis? Para jemaah itu sedang beribadat, kok malah dibawa bertemu pelarian dari Indonesia?

Kata ‘pelarian’ itu saya pakai karena Rizeq memang pelarian. Ingat kan ceritanya?

Dia  lari ke Saudi, persis menjelang akan diperiksa terkait kasus chat mesum Firza. Waktu itu dia mengaku akan umroh. Kemudian mengaku akan menyelesaikan disertasi. Dan belakangan mengaku keselamatannya terancam oleh pemerintah Indonesia.

Jadi orang ini sama sekali tidak bisa dipercaya. Dan terus terang, ya kesannya penakut. Bahkan setelah polisi menyatakan sudah menSP3 kasus chat mesumnya, dia tetap takut pulang.

Itu kan artinya memang ada yang dia tutupi dan mungkin terbongkar kalau dia sampai balik ke Indonesia.

Jadi dia jelas bukan corak manusia yang layak dikunjungi saat Anda beribadat ke tanah suci.

Jadi kenapa biro perjalanan itu membawa para jemaah ke tempat pelariannya? Jangan jangan . . .  orang biro travel ini memang orang-orangnya Rizieq.

Saya percaya, pengaruh Rizieq sampai sekarang masih besar di Indonesia. Saya percaya bahwa masih banyak orang di Indonesia yang menantikan dia pulang.

Dan mereka adalah kaum yang siap-siap melakukan Revolusi!

Saya tidak mengada-ada. Rizieq itu didaulat sebagai Imam Besar Umat islam indonesia. Dan upaya menjadikan dia pemimpin sudah dilakukan sejak lama.

Sembilan tahun lalu sempat mencuat pengumuman berdirinya Dewan Revolusi Islam. Maklumatnya bisa diakses di sebuah situs internet. Lengkap dengan tandatangan sekjennya.

Dalam struktur organisasinya, nama Rizieq Shihab muncul sebagai Kepala Negara.

Selain dia ada pula nama-nama terkenal seperti: Abu Jibril (sebagai wakil Rizieq), Abu Bakar Ba’asyir (sebagai dewan Fuqaha), serta Munarman (sebagai Menhankam).

Di bagian akhir maklumat, tertulis pernyataan tegas: “Dewan revolusi Islam siap ambil alih kekuasaan untuk menjalankan roda pemerintahan Indonesia dengan syariat Islam.”

Waktu itu berita Dewan Revolusi itu tidak berlanjut nampaknya setelah pemerintah SBY bicara dengan mereka.

Tapi gagasan Revolusi Islam itu terus bertahan.

Pada 2015, di websitenya, Rizieq secara jelas menyerukan umat islam

menolak demokrasi dan membangun apa yang disebut sebagai Sistem Islam yang melandaskan diri pada Syariah.

Di bagian akhir tulisannya, Rizieq menyatakan: “Akhirnya, kita harus berani mengatakan : Islam Yes Demokrasi No! Hidup Islam Hancurlah Demokrasi! Allahu Akbar!”

Tahun lalu pun, dari Saudi, sebelum pilpres, Rizieq juga memberikan ultimatum.

Kata dia, “Jika aktivis Islam dan ulama terus dikriminalisasi, maka pilihannya adalah REVOLUSI,” ujarnya.

Dan dia mengatakan, dia berada di Saudi sebagai bentuk  perlawanan terhadap kebatilan.

Kalau Islam terus menerus dimarjinalkan, katanya, tidak ada kata lain yang harus dilakukan kecuali lawan.

Jadi Rizieq masih ada. Dan para pendukungnya masih akan terus menjaganya.

Kalau tidak ada pendukung, mana mungkin Rizieq mashi bisa hidup di Saudi sampai saat ini?

Tentu pemerintah Saudi masih membantunya. Setidaknya membiarkan ia tetap tinggal di sana.

Tapi untuk biaya hidup, dia pasti dapat aliran dana dari Indonesia. Antara lain lewat acara-acara tausyiah pada peserta umroh tadi.

Rizieq masih akan terus dijaga untuk projek politik berikutnya. Mungkin 2024.

Karena itu, kita para pemilik dan pengguna akal sehat, tidak pernh boleh berhenti waspada.

Kita harus terus jaga kejernihan berpikir kita.

Komentar