Denny Siregar: BANGUN PAK PRESIDEN, NEGARA DALAM BAHAYA

Sejak munculnya seorang Jokowi dalam pentas perpolitikan Indonesia, saya termasuk orang yang berharap banyak padanya.

Jokowi memenuhi kriteria sebagai pendobrak tradisi politik negeri ini, yang biasanya hanya ditempati oleh orang yang itu-itu saja, yaitu Pemimpin atau pemilik partai, kaya, berkuasa, dari militer sebagai nilai tambah dan hanya memikirkan golongannya saja.

Dan saya tidak bertepuk sebelah tangan, Jokowi yang berasal dari keluarga sederhana, ternyata mampu beradaptasi dengan cepat. Ia membuktikan dirinya bukan boneka partai, malah kaki-kakinya semakin kuat ketika dihantam, dan sekarang ia malah memegang penuh peranan.

Gaya berpolitiknya yang sangat Jawa, tapi penuh ketegasan dalam memberantas mafia, membuat saya dan banyak orang bertepuk tangan. Begitu kuatnya dia, sehingga bisa menjadi Presiden dalam periode kedua.

Dibalik harapan saya terhadap Indonesia kedepan ditangan Jokowi, ada rasa khawatir yang sangat besar.

Tradisi politik kita tidak mengenal yang namanya legacy atau warisan kepemimpinan. Yang dimaksud warisan disini, bukan warisan secara biologis, tetapi ideologis atau pemikiran.

Ketika Soekarno berkuasa, penggantinya adalah Soeharto dengan pemikiran berbeda. Soeharto turun, Habibie meneruskan sebentar, untuk kemudian digantikan Gus Dur dengan gaya yang jauh berbeda, yang kemudian terganti oleh Megawati.

Lalu SBY berkuasa dua periode, dengan pemikiran yang kembali berbeda. Kemudian Jokowi menawarkan pemikiran kembali pada cita-cita Soekarno.

Perhatikan, sebenarnya negeri ini selalu restart setiap pergantian Presiden. Kita tidak bisa maju karena tidak punya rancangan bagaimana negeri ini 50 sampai 100 tahun ke depan. Ganti Presiden, otomatis ganti kebijakan.

Kapan kita mau berubah menjadi negara maju dari negara berkembang, ketika setiap rancangan jangka panjang dianulir dan selalu memulai dari awal?

Berbeda dengan negara lain, seperti China misalnya. Pemimpin mereka boleh berganti, tetapi strategi negara kedepan tetap dijalankan. Malah China lebih ekstrim, mereka mencabut masa jabatan dua periode dan membuka jalan untuk Xi Jin Ping berkuasa seumur hidup.

Kenapa China begitu? Supaya strategi jangka panjang mereka untuk menjadi negara superpower bisa terlaksana dan Xi Jin Ping menjadi supir tetap yang menjalankan kendaraan besar mereka.

Indonesia tidak mungkin bisa seperti China, karena disana hanya satu partai yang berkuasa. Di negara kita, partai-partai lebih sibuk berantem antar sesama daripada memikirkan negara.

Jalan supaya negeri ini bisa bergerak ke depan, adalah dengan mengusung pemikiran Jokowi dan menjaga rencana jangka panjangnya. Tapi mungkinkah? Mungkin saja, asal kita bisa melahirkan pemimpin ideologis serupa Jokowi untuk menjaga strategi besar kita.

Dan pada posisi ini, Jokowi harus menjadi Kompas bagi negeri ini untuk melanjutkan rencana jangka panjangnya. Dia tidak boleh lepas tangan, sesudah selesai masa jabatan, kemudian hanya diam tanpa pegang peranan.

Jokowi kelak harus menjadi jarum penunjuk, siapa calon pemimpin selanjutnya yang bisa memegang obor yang dia nyalakan?

Nah, disinilah kekhawatiran terbesar saya…

Masuk di periode kedua, Jokowi tampak melemah. Dia seperti berada di zona nyaman, lamban bergerak dan seperti terjebak pada rasa puas yang berlebihan.

Beda sekali dengan Jokowi di periode pertama, yang tampak gagah dan menguasai panggung utama. Dulu, semua cahaya lampu sorot mengarah padanya. Sekarang, lampu sorot itu tampak melemah dan menjauhinya.

Kelemahan terbesar Jokowi sekarang yang tampak nyata adalah saat ia memilih Menteri-menterinya. Para Menteri yang dipilih itu, seharusnya bisa menjadi penguat narasi panjang Jokowi. Tapi kenyataannya, mereka menjadi sumber kelemahan.

Ibarat tim sepakbola, Jokowi gagal di awal periode kedua membangun tim yang solid untuk memenangkan Liga.

Pemain-pemainnya lemah, seperti kebingungan, karena tidak ada ditempat yang tepat. Yang penyerang jadi bek. Yang kiper jadi gelandang. Yang bagus dikandangkan dan yang tidak bisa nendang bola jadi penyerang utama.

Tim sepakbola yang dibangun Jokowi dalam kabinetnya sekarang, seperti tim sepakbola gajah dimasa lalu. Dimana bola ada, mereka bergerombol seperti anak ayam kehilangan induk. Gak punya strategi, gak punya kapabilitas, blundernya keseringan, sibuk bikin pernyataan yang melemahkan dan kerja gak ada ukuran.

Jargonnya doang yang keren, Kabinet Indonesia maju. Tapi pemainnya, baru babak pertama sudah pada layu.

Bahayanya, kepercayaan publik pada Jokowi jadi jauh berkurang. Komen dimana-mana yang kecewa pada Jokowi semakin membesar. Intoleransi bukannya makin berkurang, malah makin melebar.

Kalau terus begini, kelak di 2024 nanti, tidak akan ada yang mau mendengarkan apa kata Jokowi. Lha, memilih Menteri saja gak mampu, gimana nanti mau milih penerus yang bagus?

Saya membayangkan, negeri ini kehilangan Kompasnya dan terombang-ambing. Pada akhirnya, golput semakin besar. Dan terpilihlah pemimpin yang lebih jago merangkai kata daripada bekerja untuk bangsa.

Dan kita kembali restart ke awal, karena berubahnya kembali kebijakan. Negeri ini mundur sekian tahun kebelakang, dan sulit untuk maju lagi karena besarnya kekecewaan.

Contoh yang paling dekat saja adalah Jakarta.

Semua kebijakan bagus dan bertujuan untuk jangka panjang dianulir, hanya karena Gubernurnya tidak ingin kebijakan bagus dari pemimpin masa lalu menjadi bebannya.

Jakarta menjadi rusak, tidak punya program kuat dan sibuk mengerahkan buzzer-buzzer supaya citranya tetap lekat.

Indonesia bisa seperti Jakarta, yang tenggelam dalam debat panjang, tanpa kemajuan.

Disini saya mencoba untuk mengetuk pintu istana. Khususnya, pada Presiden kita yang tercinta.

Pak Jokowi, mulailah berbenah diri. Kemenangan bapak sekarang, bukan akhir tujuan tapi justru awal sekali. Ini bukan tentang jabatan, tapi tentang nasib negeri besar ini.

Kembalilah dengan gaya dan semangat seperti di periode pertama, dimana setiap apa yang bapak lakukan, menambah kecintaan dan harapan supaya kelak negeri ini besar.

Pilihlah Menteri yang cakap dan mampu berkomunikasi baik dengan masyarakat. Kalau perlu, uji para calon dulu dalam sebuah proses yang ketat. Bisakah para calon Menteri kelak memberikan solusi tepat dan menawarkan konsep yang jelas. Bukan yang sibuk berkoar di media, tapi tak mampu kerja.

Dan yang paling penting selain kerja, adalah membangun narasi dan komunikasi, sebuah cerita yang menaikkan semangat kita untuk membela.

Bapak tahu apa yang paling ditunggu masyarakat, selain dari apa yang selama ini bapak kerjakan? Yaitu, keberanian penuh mengambil tindakan supaya kelompk intoleran tidak merusak keragaman.

Bapak dulu sering turun menemui petani untuk mendapatkan banyak informasi.

Sekarang, turunlah lagi ke masyarakat dan dengarkan keluhan banyak orang yang merasa, beribadah pada Tuhan saja dimasa ini begitu sulitnya. Ekonomi itu penting, tetapi rasa aman jangan diabaikan. Jangan sampai sekam itu terbakar hebat, karena baranya tidak pernah berusaha dipadamkan..

Rebut kembali cinta dari orang-orang yang dulu percaya bapak akan lebih tegas di periode kedua. Supaya kami tidak kehilangan petunjuk, siapa yang harus kami ikuti nanti disaat bapak sudah tidak ada.

Bapak Jokowi, semua orang bisa menjadi Presiden. Tapi tidak semua orang mampu membuat kebijakan penting yang selamanya akan dikenang.

Seruput kopinya…

Komentar