Ade Armando: SERIUS ANIES? RP 1,7 TRILIUN UNTUK BALAP MOBIL KALENG-KALENGAN?

Salah satu penghamburan uang paling nyata oleh Anies Baswedan adalah penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E pada Juni nanti, di wilayah Monas.

Uang rakyat yang dikeluarkan luar biasa: Rp 1,7 Triliun.

Menurut dugaan  saya, ini diselenggarakan mungkin karena dua hal utama.

Pertama, hasrat Anies untuk mengangkat namanya sebagai Gubernur DKI.

Selama ini seri balap mobil Formula e memang diselenggarakan di kota-kota besar dunia seperti New York, Paris, London, Berlin, Seoul, dan Roma.

Anies ingin berdiri di jajaran itu. Dia seperti ingin menyaingi keberhasilan Jokowi dengan Asian Games.

Anies ingin popularitas semacam itu. Disanjung-sanjung namanya. Dikagumi. Syukur-syukur bisa jadi modal buat Pilpres 2024.

Kedua, dari dana raksasa itu mungkin ada uang yang bisa mengalir ke pundi-pundi kekayaannya serta grup loyalisnya.

Apapun alasannya, acara Formula E ini betul-betul memalukan.

Uang 1,7 T rupiah itu sebenarnya bisa dipakai untuk hal-hal yang jelas bermanfaat bagi rakyat. Biaya pembebasan lahan normalisasi Ciliwung saja selama 2018 ‘hanyalah’ Rp. 1,2 T.

Pada 2019, pembangunan tujuh rumah susun sederhana sewa untuk rakyat kecil hanya berbiaya Rp. 708 Miliar. Itu tujuh lho. Dengan dana 1,7 T, Pemda DKI bisa membangun 14 rusunawa untuk menampung ribuan keluarga miskin di Jakarta.

Tapi taroklah Anda akan bilang apa layak membandingkan biaya pembebasan lahan danpembangunan rumah dengan sebuah acara balap mobil berkelas dunia.

Taroklah saya terima argument Anda.

Karena itu pertanyaannya: sebenarnya apa yang bisa dihasilkan oleh acara dengan biaya sebesar itu?

Di sini letak persoalan berikutnya. Lomba balap formula e itu adalah lomba yang kurang prestisius dan karena itu, terus merugi.

Memang ada semakin banyak brand mobil terkenal kini ikut dalam lomba ini. Tapi, popularitasnya sih ya – menggunakan bahasa kaum muda – B ajah.

Penggemar balap mobil mana sih yang kenal para pebalap mobil listrik? Di seluruh dunia, penontonnya selalu relative sedikit.

Mereka yang sudah terbiasa menyaksikan balap Formula 1, sulit untuk antusias menikmatinya. Kecepatan formula E 25% lebih lambat dari Formula 1.

Karena itu seri lomba Formula e, sampai saat ini tidak pernah untung. Rugi terus. Menurut majalah Forbes, dalam empat tahun terakhir, gelaran Formula E merugi US$ 140 juta atau setara dengan Rp 1,9 T

Kasus Monako bisa dijadikan contoh. Alih-alih menggenjot sektor bisnis, balapan mobil tanpa suara dan tanpa polusi itu justru membuat 70 persen pengusaha mengalami kerugian. Tahun ini Monaco tidak menyelenggarakan lomba tersebut.

Di sisi lain, kalau memang dananya Rp 1,7T, sebenarnya DKI bisa menyelenggarakan balap Formula 1, yang lebih prestisius.

Singapura adalah salah satu negara di Asia yang menjadi penyelenggara balap Formula 1. Biayanya cuma Rp 1,2 T.

Singapura akan meneruskan ajang Formula 1, karena besarnya pemasukan yang diperoleh dari beragam acara hiburan dan kebudayaan yang menarik turis manca negara.

Sebaliknya, Malaysia menghentikan lomba F1 karena alasan merugi. Itu F1 lho! Bagaimana dengan Formula e?

Saya rasa, Anies memang jadi korban kesombongannya dan mulut manis penyelenggara Formula e.

Untuk menjadi tuan rumah, Anies mengeluarkan uang Rp 360 Miliar untuk Commitment Fee pada FIA (atau Federasi Mobil Internasional) . Lantas ada asuransi  kepada FIA sebesar Rp 550 M. Jadi lebih dari Rp 900 miliar lari ke FIA.

Baru sisanya, sebesar Rp 800 M dikeluarkan untuk bangun sirkuit, dan sebagainya

Celakanya karena pengeluaran sudah sedemikian besar, Anies merencanakan ajang balap ini akan diselenggarakan 5 tahun ke depan, walau dia sudah harus turun jabatan pada 2022.

Anies bilang, ini perlu dilakukan, agar pengeluaran 1,7 T itu tidak sia-sia.

Misalnya saja tahun ini 300 miliar rupiah harus dikeluarkan untuk bangun sirkuit di Monas dan segenap infrastruktur pendampingnya.

Tapi itu bukan sirkuit permanen! Begitu lomba berakhir, sirkuit harus dibongkar.

Nah, jadi menurut logika gubernur seiman, kalau cuma satu kali jadi mubazir. Kalau lima kali,semua materi sirkuit itu bisa dipasang kembali.

Serius, Nies?

Masalahnya, saya duga, acara ini akan gagal. Sejak awal sudah diprediksikan akan gagal.

Siapa yang mau menonton di Jakarta? Ini adalah acara kaum elit. Dan jumlah tiket yang harus terjual adalah 35 ribu.

Celakanya, para pendukung Anies adalah kaum kadrun yang rasanya sih tidak akan mampu bayar tiket masuk.

Sedangkan kaum elit Jakarta dan Indonesia, apalagi yang sudah sadar bahwa ini adalah bagian dari kampanye Anies menuju Pilpres 2024, mungkin akan malas datang.

Lagipula apa sih daya tariknya?

Bukan cuma tidak ada bintang yang terkenal. Tapi lomba ini juga tidak akan melibatkan jago mobil dalam negeri.

Kita cuma akan menyaksikan pertandingan antara orang asing, yang tidak terkenal pula.

Banyak analis sudah menunjukkan bahwa angka Rp 1,7 T itu sama sekali tidak pantas, alias jauh kemahalan dari yang semestinya.

Seorang analis menunjukkan bahwa menurut majalah Forbes, penyelenggaraan Formula E pada tahun 2017 mencapai Rp 1,76 Triliun.

Tapi itu biaya penyelenggaraan di 12 kota. Lho ini, kok cuma di Jakarta, rakyat kita harus mengeluarkan Rp 1,7 T?

Kesannya, Jakarta menjadi negara yang paling banyak disedot kekayaannya untuk membiayai ajang lomba yang terus merugi ini.

Jadi untungnya buat rakyat Jakarta dan Indonesia apa?

Nggak ada apa-apa. Yang untung, selain FIA, adalah kawan-kawan Anies dan Anies sendiri tentunya.

Kita memang terpaksa harus curiga kenapa uang sebesar itu digelontorkan, dan berapa yang mengalir ke kantong mereka yang berkuasa.

Misalnya saja, sangat mungkin ada arus uang yang balik ke kantor para penguasa Jakarta dari Rp 900 miliar yang dibayarkan ke FIA.

Atau yang lebih jelas adalah pembangunan infrastuktur balap di Jakarta.

Yang ditunjuk sebagai penyelenggara acara balap Formula E ini adalah JakPro.

Anggaran yang dikeluarkan untuk membangun venue (jalur balap, dinding, pagar, rambu, pengecatan, grandstand, paddock, pit, kebersihan, toilet, parkir) mencapai Rp 300 M. Padahal ini hanya untuk sirkuit yang tidak permanen. Panjang sirkuit cuma 3 km.

Serunya lagi ada pula honor tim pelaksana Rp 25 miliar, untuk 50 0rang. Oh ya, ada biaya tak terduga Rp 25 miliar.

Anggaran ini jelas tidak masuk di akal.

Namun barangkali semua jadi logis kalau kita tahu siapa JakPro.

JakPro ini adalah Perusahaan properti dan infrastruktur milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Salah satu langkah pertama Anies ketika menjadi Gubernur DKI adalah dengan mengganti pimpinan JakPro yang dulu dipilih Ahok, dengan orang-orang Anies.

Yang ia tunjuk sebagai Dirut Jakpro adalah Dwi Wahyu Daryoto, yang sebelumnya dipecat dari Pertamina. Ia teman lama Anies dan orang dekat Sandiaga Uno maupun Sudiman Said.

Ia juga menunjuk dua orang dekatnya, Hanief Arie Setianto (sempat di TGUPP) dan Yuliantina Wangsawiguna (mantan Direktur Keuangan Saratoga Investama, perusahaan Sandiaga uno), sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dan Direktur Keuangan

Jadi ada aliran uang ratusan miliar mengalir ke perusahaan daerah yang dikuasai orang-orang Anies.

Kita pantas curiga. Bukan karena kita membenci Anies. Tapi karena kita menggunakan akal sehat kita.

Gunakan akal sehat, agar rakyat selamat

 

Komentar