AHOK, BERSIHKAN MAFIA MIGAS! | Denny Siregar

Sejak awal Jokowi memerintah, salah satu fokus utamanya adalah memberantas mafia migas.

Dibanding mafia lain di Indonesia, mafia migas lah yang paling sulit dilawan. Kenapa ? Karena disana melibatkan uang yang sangat besar dan pejabat termasuk elit partai.

Mau tahu keuntungan mafia migas ? Oke kita hitung…

Dalam sehari, Indonesia mengimpor minyak dari negara lain sebanyak 800 ribu barrel. Impor ini dikuasai oleh para mafia yang menjadi makelar dan mendapat keuntungan sebesar 2-3 dollar per barel per hari.

Jadi kalau dikalikan, kelompok mafia ini bisa dapat keuntungan 2,4 juta dollar perhari. Atau kalau dirupiahkan dengan asumsi 1 dollar = Rp. 14.000, maka si mafia mendapat untung tanpa harus kerja keras sebesar 33,6 miliar rupiah. Perhari, saudara-saudara…

Kalau satu bulan kita hitung saja 30 hari, maka si mafia migas dapat keuntungan 1 triliun rupiah perbulan…

Dari keuntungan itu, sebesar 30 persennya dibagi2 ke banyak pejabat dan partai. Ini yang menjadikan si mafia migas kuat sekali. Siapapun yang mau menghancurkan merejka, akan dihancurkan duluan dengan lobi-lobi politik.

Jadi paham, kan kenapa mereka pengen sekali Jokowi tidak jadi Presiden ? Kalau bisa kudeta pun akan mereka lakukan, asal bisa terus berkuasa.

Jokowi sudah menugaskan banyak orang untuk memberantas mafia migas itu. Tapi orang-orang itu ternyata ikut bermain juga. Lagian siapa sih orang yang tidak ijo matanya kalau dikasih gaji miliaran rupiah per bulan?

Inilah yang buat dia susah dan marah-marah. Sudah sejak 2014 dia memerintahkan basmi mafia migas, tapi mafianya gak mati, cuman ganti baju aja. Jokowi tidak mudah melawan sistem yang sudah dibangun mafia bertahun-tahun lamanya…

Salah satu mafia migas yang sudah berhasil dibasmi adalah Petral. Dulu impor minyak kita selalu melalui Petral. Sesudah dibubarkan, mafianya malah menyebar dan terbagi dalam beberapa kelompok yang sama kuatnya. Dan percaya atau tidak, orangnya ya itu itu saja..

Itulah kenapa kita tidak pernah berhasil membangun kilang pengolahan minyak di negeri ini. Kalau kilang sudah berhasil dibangun, maka impor minyak turun. Kalau turun, maka keuntungan mafia juga turun. Ini yang tidak dimaui para mafia.

Karena itu, mereka melakukan banyak hal. Mulai dari menyuap para pejabat supaya ijin pembangunan kilang tidak keluar sampai menakut-nakuti negara produsen yang mau investasi kilang disini, supaya jangan pernah mau jadi “antek” Jokowi.

Selain itu, para mafia juga merencanakan kudeta seandainya Jokowi terpilih jadi Presiden lagi. Dan kita lihat, percobaan kudeta pasca Pemilu 2019 lalu, itu ada campur tangan dan dana dari para mafia migas dengan mengerahkan para kadrun-kadrun yang budiman untuk demo besar-besaran, kalau bisa bikin chaos supaya Jokowi bisa diturunkan paksa.

Sejak awal Jokowi tahu itu, tapi dia harus bermain cantik supaya nasibnya tidak seperti Gus Dur yang diturunkan di tengah jalan. Dia mau tidak mau harus kompromi supaya Indonesia tenang dan tidak kacau ketika sedang mengusik sarang lebah yang sudah lama bersarang.

Itulah kenapa saat Jokowi menjadi Presiden lagi, salah satu ucapannya yang dikenal adalah “Sekarang saya tidak punya beban…”

Yang disebut tidak punya beban adalah dia akan mengerahkan semua kekuatan untuk menghancurkan para mafia migas itu, yang selama ini dilindungi banyak elit partai yang dapat bagian.

Salah satu panglima perang yang dia siapkan adalah Basuki Cahaya Purnama atau Ahok. Jokowi sudah kenal Ahok sejak lama dan tahu kinerjanya.

Masuknya Ahok di Komisaris Utama Pertamina, adalah perintah Jokowi. Ahok tidak dijadikan Menteri juga tidak dijadikan Dirut. Tugas utamanya adalah melaporkan langsung kepada Jokowi siapa-siapa orang yang selama ini terlibat sebagai mafia dan Jokowi yang akan menjadi eksekutornya.

Pertanyaannya, mampukah Ahok menjadi Panglima Perangnya Jokowi ? Kita lihat jawabannya nanti, dia sedang bekerja sekarang…

Masuknya Ahok sebagai Komisaris Utama juga mengemban misi Jokowi, yaitu supaya program pencampuran 30 persen minyak sawit dengan minyak mentah, atau yang dikenal dengan nama program B30 berhasil…

Program B30 kalau berhasil, akan menurunkan banyak impor minyak mentah dari luar. Dan itu berarti menggerus keuntungan para mafia. Jokowi bahkan berencana meningkatkan program itu sampai jadi B90, atau 90 persen minyak sawit.

Program mengganti minyak mentah dengan minyak sawit ini tentu dapat perlawanan keras. Para mafia migas membayar banyak orang untuk menyerang Jokowi, dengan menyebarkan isu lingkungan.

Jadi kalau ada SJW-SJW yang sibuk dengan isu lingkungan, kita tahu darimana isu itu mereka dapatkan…

Bukan hanya lawan di dalam negeri, Jokowi juga menghadapi lawan dari luar untuk program B30 ini. Terutama Uni Eropa yang melarang penggunaan minyak sawit di negaranya.

Apa kata Jokowi menghadapi situasi ini? “Kita lawan mereka.. ” Katanya tegas. Jokowi memang tidak main-main dalam melawan mafia migas. Segala upaya dia lakukan, tapi tetap dengan main cantik supaya tidak terjadi kerusuhan.

Jadi paham kan, menjadi Presiden yang benar itu tidak mudah?

Harus ada skala prioritas dalam menentukan siapa lawan terkuat. Karena jika musuh terlalu banyak daalam satu kesempatan, Jokowi bisa jatuh berdebam.

Jokowi berpacu dengan waktu. Karena ada indikasi, bahwa para mafia migas mundur sejenak untuk mengatur kekuatan. Dan kekuatan mereka nanti ada di Pilpres 2024.

Mereka sedang mengatur siapa calon Presiden berikutnya, yang akan merusak semua pekerjaan Jokowi sekarang dan menjadikan mereka berkuasa lagi.

Saya tahu, siapa calon Presiden yang sedang dipersiapkan. Anda juga pasti tahu. Yaitu dia yang sedang mempersiapkan narasi “pribumi” dan “seiman”.

Markibong..

Komentar