JANGAN NUDUH KOPAR KAPIR SEMBARANGAN! | Syafiq Hasyim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Berjumpa kembali dengan catatan Syafiq Hasyim.

Ketika terjadi pembunuhan Qaseem Sulemani, seorang Jenderal Iran, oleh tentara Donald Trump, Amerika Serikat, respon umat Islam dunia dan juga di Indonesia terbelah; Pertama, mereka yang mengutuk Amerika dan berduka atas terbunuhnya jenderal tersebut.

Kedua, mereka yang bahagia dan bersyukur karena salah satu musuh mereka telah dibunuh oleh pasukan Amerika. Menurut kelompok yang bahagia ini, Syiah bukan merupakan bagian umat Islam.

Peristiwa ini sesungguhnya mengingatkan kita pada peristiwa penyerangan Israel atas orang-orang islam di Lebanon.

Almarhum Ja’far Umar Thalib, mantan ketua Lasykar Jihad, menyatakan bahwa, kita umat Islam di Indonesia tidak perlu membela kaum muslim Lebanon karena mereka adalah Syiah. Dan Syiah bukan bagian dari Islam.

Pertanyaan kita, mengapa kita masih suka saling mengkafirkan? Dan sampai kapan hal demikian ini terjadi?

Bahkan saling kafir-mengafirkan itu tidak hanya terjadi antara kaum Sunni vs Syiah, tapi juga terjadi di antara sesama kelompok Sunni itu sendiri.

Kita masih ingat dan sampai saat ini juga masih terjadi, satu pihak tega mengafirkan sesama pengikut Islam Sunni hanya karena perbedaan afiliasi politik.

Adakah upaya dunia Islam modern kita pada saat ini, untuk menghentikan upaya saling kafir-mengkafirkan ini?

Umat Islam dunia, terutama pada para tokohnya sudah berusaha untuk menghilangkan kebiasaan saling kafir-mengafirkan sesama umat Islam.

Hal ini terjadi pada tahun 2006, di mana para pemimpin dan ulama dunia berkumpul di Amman, Yordania.

Mereka yang hadir antara lain adalah Syaikh al-Azhar Syaikh Muhammad Sayyid Thantawi, Ayatullah Sistani, and Syaikh Yusuf al-Qaradawi. Tiga ulama besar dunia.

Indonesia juga mengirimkan pemimpin mereka untuk hadir dalam forum tersebut, yaitu dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan juga dari kelompok muslim yang lain. Kesepakatan para pemimpin dan ulama dunia di Amman tersebut, disebut dengan Amman Message, artinya pesan dari Amman.

Apa pentingnya Pesan Amman bagi kita semua, termasuk umat Islam di Indonesia?

Pesan Amman ini adalah satu-satunya bentuk kesepakatan ummat Islam atau bisa disebut dengan istilah ijma’ yang berusaha untuk mengakhiri upaya saling kafir-mengafirkan di antara umat Islam.

Pesan Amman ini menyepakati beberapa hal, antara lain bahwa sesama umat Islam tidak diperbolehkan untuk saling kafir-mengafirkan.

Pesan Amman ini menyatakan secara spesifik:

1. Seluruh pengikut empat madzhab –Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali adalah bagian dari umat Islam.

Satu madzhab atas pengikut madzhab yang lain tidak boleh saling mengafirkan.

2. Syiah Zaidiyyah dan Ja’fari adalah bagian dari umat Islam.

Selama ini kelompok Syiah menjadi sasaran pengafiran dari kelompok umat Islam yang lain, terutama Sunni—salafi.

Bahkan kaum Syiah tidak hanya ditakfirkan, namun juga dimusuhi.

Selama ini Saudi Arabia adalah negara yang paling getol melakukan permusuhan, terhadap kelompok-kelompok Syiah di Yaman dan Iraq.

3. Kelompok Ibadiyah.

Kelompok Ibadiyah adalah sebuah kelompok di luar kelompok Sunni dan Syiah.

Bahkan menurut sejarah, keberadaan kelompok Ibadiyah ini lebih dahulu apabila dibandingkan dengan kelompok Sunni dan Syiah.

Kelompok ini adalah kelompok moderat Khawarij.

Mayoritas pengikut Ibadiyah hidup di Oman, sebagian di Aljaza’ir, Libya, Tunisia dan Afrika Timur.

4. Kelompok Dzahiri atau Dlohiri.

Ini adalah kelompok pengikut yang mengikuti Imam Dawud al-Dzahiri, salah satu mujtahid mutlak di luar imam madzhab yang empat.

Madzhab Dzahiri ini berpegang pada makna luar al-Qur’an dan Hadis, serta menolak adanya Qiyas.

Meskipun agak mirip dengan Salafi karena percaya pada makna literal, kelompok Dzahiriah ini berbeda dengan Salafi.

5. Kelompok Sufi.

Kelompok Sufi ini juga biasa dijadikan sasaran pengafiran dari kelompok Salafi-Wahhabi.

Menurut kelompok Salafi-Wahhabi, Sufi atau Tasawuf adalah ajaran yang penuh bid’ah. Dan bukan bagian dari ajaran Islam.

6. Kelompok Imam al-Asy’ari.

Kelompok yang mengikuti pandangan teologis imam Abul Hasan al-Asy’ari.

Mayoritas Sunni dunia mengikuti madzhab teologis al-Asy’ari, termasuk Sunni Indonesia.

Namun oleh kelompok Salafi-Wahhabi, al-Asy’ari sering dijadikan sebagai sasaran pengafiran.

7. Kelompok Salafi, meskipun kelompok ini suka mengafirkan kelompok lain, namun oleh Pesan Amman, kelompok ini tetap dianggap sebagai bagian dari umat Islam.

Meskipun Pesan Amman ini masih butuh banyak penyempurnaan dan perbaikan, karena di sana banyak kelompok yang menyatakan Islam, yang tidak masuk dalam cakupan Pesan Amman tersebut.

Namun Pesan ini adalah upaya solutif untuk memulai secara tegas, mengakhiri upaya saling kafir-mengafirkan di antara umat Islam. Dalam konteks umat islam modern.

Piagam Amman ini pada dasarnya adalah menyuarakan kembali Sabda Rasulullah, “Barang siapa memanggil orang lain dengan panggilan kafir atau musuh Allah, sementara orang yang dipanggil tidak demikian halnya, *maka sesamanya* (<== video yang ini dicut aja), maka tuduhan itu kembali kepada penuduh.

Riwayat lain menyatakan: “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (seagama), ‘Hai kafir’, maka pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam pengkafirannya [maka tidak mengapa], tapi jika tidak benar, maka ucapan itu akan kembali kepadanya [Hadis Muttafaq Alaih].

Berdasarkan hadis-hadis yang saya sebutkan, mengafirkan sesama Muslim bukan hal perkara mudah.

Kita adalah manusia biasa, pemegang hak pengafiran adalah Allah.

Sebagai manusia biasa, kita butuh pengetahuan yang mendalam atas pihak yang kita jatuhi hukum kafir.

Karenanya, ulama-ulama besar membuat syarat ketat –hampir sulit untuk dipenuhi—untuk mengafirkan pihak lain.

Kembali pada Piagam Amman, bahwa hal yang patut disayangkan, banyak dari kita –umat Islam Indonesia—yang tidak mengetahui adanya kesepakatan dunia ini.

Buktinya, dalam ceramah-ceramah publik, khutbah-khutbah Jumat, narasi saling kafir-mengafirkan masih banyak terjadi.

Mari kita akhiri kebiasaan takfiri ini, sebab saling kafir-mengafirkan itu tidak produktif dan menghabiskan energi kita untuk maju mensejahterakan kehidupan umat manusia.

Sejarah kita telah mengajarkan, bahwa takfiri adalah sejarah kelam umat Islam.

Gara-gara ideologi takfiri kaum Khawarij, para sahabat besar mati dibunuh.

Gara-gara ideologi takfiri ini juga, perang antara negara yang beda madzhab teologi dan fiqih terjadi pula, seperti yang terjadi antara Saudi dan kelompok Syiah Houti di Yaman.

Gara-gara paham takfiri, ISIS muncul dan mendapatkan tempat di sebagian umat Islam. Bahkan di Indonesia. Gara-gara paham takfiri ini juga perang Suriah terjadi.

Di sisi lain, negara-negara yang dianggap kafir kini sudah banyak mengalami kemajuan, sementara kita masih sibuk konflik yang dipicu oleh ideologi takfiri ini.

Pendek kata, paham takfiri lebih banyak menimbulkan mafsadah (kerusakan) daripada maslahah (kebaikan) bagi umat manusia. Karenanya, mari kita mengakhiri paham tersebut.

Kita isi kehidupan di dunia dengan upaya saling membantu dan saling memahami satu sama lainnya.

Sekian.

Wassamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar