GUBERNUR RASA BUNDA ELLA

Jumpa lagi pemirsa,

Kita masih membahas seputar banjir yang melanda Jakarta, awal tahun 2020 ini. Akibat banjir tersebut kerugian yang diderita korban kabarnya mencapai lebih dari 10 triliun rupiah. Duit sebesar itu, jika dibelikan lem aibon, bisa membuat lengket seluruh Jakarta.

Pemirsa, kerugian sampai 10 triliun rupiah itu, jauh lebih besar dari anggaran balapan Tamiya Formula E, yang direncanakan Pemda DKI untuk digelar di Jakarta. Total anggaran untuk Formula E yang disiapkan Pemda DKI hanya 1,6 triliun saja.

Sementara itu, pada tahun 2018 Pemda DKI memotong anggaran untuk menanggulangan banjir sebesar 242 triliun rupiah. Kabarnya pada 2019 anggaran antisipasi banjir juga dipotong 500 triliun rupiah.

Jika Jakarta banjir besar tahun ini, tentus aja tidak ada hubungannya dengan anggaran antisipasi banjir yang dipotong Anies. Banjir, ya banjir. Sedangkan soal anggaran lain lagi.

Dalam mengantisipasi banjir yang diprediksi masih bisa terjadi, Anies telah melakukan langkah-langkah persiapan. Salah satu caranya dengan menantang debat menteri PUPR Basuki Hadimulyo. Mungkin Anies yakin, dengan debat yang seru, banjir akan segera tertangani.

Sebab, menangani banjir gak penting. Yang penting adalah narasi.

Menurut Gubernur Anies Baswedan, air itu sunnatullahnya dimasukkan ke tanah. Bukan dialirkan ke laut. Karena itu banjir di Jakarta kemarin hanya bagian dari pelaksanaan sunatullah saja. Airnya menunggu masuk ke tanah.

Sayangnya air hujan itu bukan masuk ke tanah seperti sunatullah yang dijanjikan Anies, eh mereka malah masuk ke rumah-rumah penduduk, masuk ke mall atau hanya berleha-leha saja di jalanan. Apalagi masuknya tidak pakai assalamualaikum terlebih dahulu.

Mungkin pemirsa, air-air itu tidak punya agama! Masuk rumah tanpa salam.

Yang menarik, sehabis banjir reda, Gubernur Jakarta Anies Baswedan bekerja bakti bersama staf Pemda DKI untuk membantu mengangkat sampah bekas banjir. Di Kampung Makasar, Jakarta Timur, Gubernur menggunakan tangan kosong mengangkut sampah.

Karena hanya menggunakan tangan kosong itu, sampai kini sampah-sampah bekas banjir belum tertangani dengan baik. Kasur bekas terendam, sofa yang rusak, baju belepotan lumpur, dan sampah lainnya menumpuk di gang-gang. Belum sempat diangkut.

Pemirsa,

Saat bekerja bakti itulah, rupanya seorang korban banjir datang mengelu-elukan Anies Baswedan. Agak heran, memang. Seorang korban banjir bernama Rodiyah. Hartanya hanyut. Rumahnya rusak, tapi sempat berteriak, “Ini dia Gubernur rasa presiden.” Sambil memuji-muji Anies setinggi langit.

Itulah hebatnya Anies. Meski warganya menderita menjadi korban banjir, tapi dia tidak habis banjir pujian. Puja-puji membanjirinya, lebih banyak dari debit air banjir di Waduk Katulampa.

Bukan hanya Rodiyah yang memuji Anies. Kita tidak tahu apakah semangat Rodiyah juga menulari korban banjir yang lain.

Misalnya pemilik mobil yang hanyut, akhirnya berniat beramai-ramai mengumpulkan uang. Mereka mengumpukan sisa-sisa hartanya. Disatukan, lalu diberikan untuk Gubernur.

Para pengungsi korban banjir dengan ikhlas menjual kembali mie instan hasil sumbangan. Uangnya dikumpulkan. Untuk Gubernur.

Di arena banjir, ada orang yang kreatif menyewakan rakit untuk warga menyeberangi genangan. Setelah mendapat bayaran, semua dikumpulkan. Lalu diserahkan. Untuk Gubernur

Bahkan sekitar 300 orang korban banjir, kini menggugat Pemda untuk membayar ganti rugi akibat kelalaiannya. Dan jika nanti mereka menang. Mereka dapat uang pergantian atas kerugian yang dideritanya. Uangnya gak diambil. Dikumpulkan saja. Lalu diserahkan kepada Gubernur.

Inilah warga Jakarta, pemirsa. Meski menderita karena banjir. Meski anggaran antisipasi banjir dipotong habis-habisan. Tapi mereka masih mengelu-elukan Gubernurnya.

Semoga Gubernur Jakarta tetap semangat mengeruk sampah dengan tangan kosongnya. Sebagai warga kita hanya bisa menyengamati, eh maksudnya menyengatmati, eh menyemplungilagi…

Demikian berita kali pemirsa,

Anda sedang berada di Channel terupdate seangkasa raya

Lemesin aja, mblo…

Komentar