MENDING JADI YOUTUBER AJA, ANIES

Kalau pengen lihat sinetron berseri, lihatlah Jakarta sekarang ini.

Sejak awal banyak yang meragukan seorang Anies Baswedan mampu menjadi kepala daerah yang baik, yang bisa menjadi eksekutor dari banyaknya masalah di Jakarta.

Anies bukan tipikal pekerja, dia tipe motivator yang bisa sukses dengan jadi pembicara. Susunan kata-katanya bagus, teratur dan karena itu banyak yang suka padanya. Jokowi juga dulu suka pada Anies karena kemampuannya berbicara dan menjadikannya Menteri Pendidikan.

Tapi soal kerja ? Ow, nanti dulu. Itu ranah yang berbeda. Kerja itu butuh eksekutor, bukan motivator. Seorang kepala daerah harus mampu dengan cepat menyelesaikan masalah, memanage ribuan pekerja dibawahnya dan mencapai target setahap demi setahap.

Itulah kenapa Jokowi dulu memecatnya jadi Menteri. Karena Menteri itu harus berkarakter eksekutor, bukan motivator. Dan Anies tidak mampu sedikitpun memenuhi harapan Jokowi dalam bekerja.

Tapi kelemahan Anies tertutup oleh ambisi besarnya. Dia pengen jadi Presiden dan pengen menorehkan sejarah dalam kehidupannya. Dan untuk bisa kesana, dia bisa menghalalkan segala cara.

Lihat saja Pilgub DKI 2017 yang dia menangkan. Pilgub paling brutal dalam sejarah karena menjual ayat dan mayat, dibiarkan Anies karena itu menguntungkannya secara politik. Dan dia menang diatas robeknya kebhinekaan, tanpa sedikitpun mau bersuara untuk melarang pendukungnya melakukan hal yang salah.

Bahkan sesudah dilantik, dia masih bermain politik identitas dengan memainkan narasi “pribumi” untuk mengamankan serangan terhadap dirinya. Padahal dia sendiri juga bukan pribumi, tetapi warga negara Indonesia keturunan Arab.

Banjir besar yang melanda Jakarta kemarin, pun dia mainkan secara politik.

Bukannya sibuk berbenah dan waspada terhadap datangnya banjir kedepan, Anies malah sibuk ingin berdebat tentang masalah naturalisasi dan normalisasi. Padahal intinya sebenarnya sama, yaitu pelebaran sungai.

Bedanya, Anies kurang berani untuk memindahkan ratusan ribu warga yang sudah puluhan tahun tinggal di bantaran sungai Ciliwung. Kenapa ? Ya, sekali lagi, dia butuh suara dari orang-orang itu. Beda dengan Ahok yang dulu dengan berani memindahkan mereka ke Rusun demi kepentingan penduduk Jakarta yang lebih besar.

Anies juga lebih sibuk mencitrakan dirinya saat namanya terpuruk akibat banjir besar yang menyebabkan puluhan orang tewas dan kerugian ditaksir berkisar 10 triliun rupiah itu, daripada sibuk mencari solusi apa yang harus diperbaiki.

Buzzer-buzzernya secara massif membangun panggung Anies dengan menyebutnya “Good bener” dan “Gubernur Indonesia”. Tim TGUPP nya disebar untuk membenarkan apa yang dilakukan Anies.

Lihat cara Anies berkelit dari masalahnya. Siapa yang dia salahkan ? Ya, pusat. Anies sengaja bermain dengan narasi menyalahkan pusat dengan maksud menaikkan namanya ke panggung nasional.

Apalagi ketika dia memainkan narasi membantah Jokowi masalah sampah. Anies ingin meraih pendukung lebih besar karena lebih gagah melawan Jokowi, daripada melawan Menterinya. Dia sudah mendudukkan posisinya sendiri untuk Pilpres 2024 nanti.

Anies tahu, dua tahun lagi dia tidak punya panggung sebagai Gubernur karena Pilpres serentak baru akan dilaksanakan 2024 nanti. Karena itu, dia memanfaatkan situasi sekarang ini untuk menabung suara dan memainkan peran sebagai orang benar yang melawan kezoliman pemerintah pusat.

Pusing, kan ? Jokowi aja pusing, apalagi kita.

Yang kasihan warga Jakarta, tanpa sadar sudah dijadikan injakan Anies untuk menaikkan popularitasnya. Anies juga seperti tidak perduli masalah besar yang dia hadapi, yang penting citra, citra dan citra.

Melihat Anies Baswedan seperti melihat sinetron berseri yang tidak ada habisnya. Penuh intrik dan cara yang tidak elegan dalam menyelesaikan banyak masalah.

Masalahnya, banyak politikus yang juga mengincar Anies dan mendorongnya. Mereka butuh suara juga. Mereka tahu Anies tidak bisa kerja, tapi bukan itu yang penting. Yang penting adalah bagaimana bisa memenangkan Pemilu dan meraih suara.

Para politikus itu tahu, banyak para pemilih emosional yang tidak perduli apakah pemimpinnya kerja atau tidak. Yang penting dia santun, seiman dan muncul di media-media sebagai pahlawan. Kerja itu belakangan.

Mau banjir sepaha kek, sedada kek, tenggelam kek, yang penting pilih Anies dan biarkan Tuhan yang bekerja menyelesaikan masalahnya.

Mau seruput, tapi pahit rasanya..

Komentar