ANIES BASWEDAN MELANGGAR SUNNATULLAH

Jakarta sedang mengalami tanda-tanda kehancuran. Banjir di awal 2020 adalah pertandanya. Kalau menggunakan logika sinetron, ini adalah azab. Atau ada istilah lain yang lebih pas: Sunnatullah

Penderitaan ini terjadi karena kita melanggar sunnatullah

Gampangnya, sunnatulah adalah cara Allah menata alam. Alam ini beroperasi tidak dengan acak. Ada keteraturan. Itulah Sunnatullah.

Kalau kita melempar bola ke langit, dia akan kembali ke bumi. Itu hukum Allah. Kalau kita gak belajar menjelang ujian, nilai kita akan jeblok. Itu hukum Allah.

Begitu juga memilih pemimpin

Nabi Muhammad sudah mengingatkan 14 abad yang lalu, Dia bilang, jika sebuah urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran atau kekacauan.

Masalah tidak akan diselesaikan. Tugas tidak akan dijalankan dengan baik dan benar.

Mayoritas masyarakat Jakarta – 58% — sudah mengambil keputusan dengan melanggar sunnatullah itu.

Dunia menjadi saksi tentang kemampuan Ahok menata Jakarta. Tapi yang dipilih adalah Anies Baswedan, yang diberhentikan dari posisinya sebagai menteri karena tidak menunjukkan kinerja yang baik.

Anies dipilih karena soal agama, bukan kemampuan. Maka berlakukah hukum Allah, yang disebut Nabi Muhammad.

Anies tidak punya kemampuan untuk memimpin kota dengan masalah menumpuk seperti Jakarta. Karena itu, di bawah Anies, Jakarta berantakan.

Masih mending kalau Anies kemudian mau mendengar dan menggunakan sumber daya yang dia miliki sebaik-baiknya. Tapi yang terjadi sebaliknya.

Barangkali karena memang baperan, dia tidak mau melanjutkan kebijakan yang sudah dimulai Jokowi dan Ahok. Salah satunya soal banjir ini.

Seorang pemimpin bisa kita nilai berdasarkan tiga kemampuan menyelesaikan masalah.

Pertama, kemampuan mengidentifikasi masalah. Kedua mengembangkan rencana untuk mengatasi masalah yang sudah teridentifikasi tadi. Ketiga, mengeksekusi penyelesaian masalah.

Anies tidak punya kemampuan di ketiga hal tadi.

Pertama, soal identifikasi masalah. Di masa kampanye, dia memang bilang banjir bukan bencana alam. Ini soal manajemen volume air, katanya.

Setuju!

Tapi kemudian dia mulai kacau karena dia menyerang program ‘normalisasi sungai’ yang dicanangkan Ahok.

Kalau Anda ingat, menurut Ahok, yang harus dilakukan adalah melebarkan Daerah Aliran Sungai, sehingga air bisa dengan cepat mengalir ke laut.

Karena itu semua yang tinggal di bantaran sungai harus dipindahkan, termasuk para penghuni bangunan liar. Para pemukim liar itu kemudian dipindahkan ke rumah susun, dengan skema menyewa.

Ini yang dilecehkan Anies.

Ironisnya, kata dia, program Ahok itu melawan sunnattulah. Di seluruh dunia, kata Anies, air dari langit itu seharusnya diserap ke bumi, bukan dialirkan ke laut.

Karena itu, yang dibangun seharusnya bukan gorong-gorong raksasa, tapi memastikan air dengansegera terserap ke tanah.

Dengan begitu juga, katanya, tidak perlu ada penggusuran pemukim liar di bantaran kali. Untuk itu, dia menawarkan program naturalisasi sungai. Dan di sinilah ketidakbecusan berikutnya terlihat.

Apa sih yang disebut naturalisasi sungai?

Tidak pernah jelas.

Anies bicara tentang program menghidupkan ekosistem sungai dan waduk, mengembangkan tanaman di tepi sungai, BLA BLA BLA. Tapi semua serba tidak jelas. Dan lebih parah lagi: Tidak ada eksekusinya secara berkelanjutan

Jadi normalisasi distop, naturalisasi tidak pernah dijalankan.

Celakanya lagi, dengan semena-mena, Anies memotong anggaran penaggulangan banjir dari Rp 850 M menjadi Rp 350 M!

Mungkin Anies semula berharap curah hujan di Jakarta akan biasa-biasa saja. Jadi ya banjir-banjir sedikit, tapi kemudian surut kembali.

Tapi sejak berbulan-bulan yang lalu, kita semua sudah diingatkan bahwa di akhir 2019 dan di awal 2020 akan ada curah hujan luar biasa. Bahkan ekstrim.

Dan ketika hujan besar itu kini terjadi, Jakarta sama sekali tidak siap.

Nabi Muhammad sudah bilang: Jangan serahkan sesuatu kepada yang bukan ahli. Kalau itu dilakukan, tunggu saja kehancuran.

Saat ini, kehancuran sudah terlihat nyata di depan mata. Kita cuma bisa berharap Anies dan pendukungnya masih mau introspeksi diri. Benahi Jakarta dengan benar.

Gunakan akal sehat. Hanya dengan akal sehat, Jakarta bisa selamat

Komentar