DENNY SIREGAR I JOKOWI BERANI HUKUM MATI KORUPTOR I TIMELINE

Tahun 1998 lalu, Perdana Menteri China yang baru dilantik Zhu Rongji mendeklarasikan diri, “Berikan saya 100 peti mati. 99 buah akan saya kirim untuk para koruptor, dan 1 untuk saya sendiri jika saya korupsi…”

Pernyataan Zhu Rongji itu bukan main-main. Bukan sekadar manis di bibir. Tapi dia benar-benar melaksanakan amanatnya.

Tidak berapa lama, sesudah dia berniat memberantas korupsi di China yang sudah berakar di sana, seorang pejabat Partai Komunis China ditangkap dan dihukum mati. Padahal orang itu adalah teman satu partainya sendiri.

Koruptor itu diarak di jalan, ditembak di belakang kepalanya, seluruh hartanya disita oleh negara dan keluarganya disuruh mengganti peluru yang dikeluarkan untuk menembak mati.

Kejam? Banyak yang bilang begitu. Dan kelompok Hak Asasi Manusia yang berpusat di Amerika, seperti biasa berteriak-teriak, protes tidak boleh ada hukuman mati karena manusia punya hak untuk hidup.

Tapi China tidak perduli. Ribuan lagi koruptor mereka tangkap dan mereka tembak mati. Bahkan proses eksekusinya mereka siarkan di televisi supaya ada efek jera.

Dan hasilnya? Ekonomi mereka meroket. Mereka sekarang sejajar dengan negara-negara maju di dunia dengan aset ratusan ribu triliun rupiah. Bahkan mereka berani head to head masalah ekonomi dengan Amerika.

Bisakah Indonesia menjadi seperti China pertumbuhan ekonominya?

Bisa. Asal mau sedikit kejam terutama pada koruptornya. Indonesia sama seperti China sebelum tahun 1998. Korupsi sudah menjadi budaya, dari atas sampai bawah. Kalau gak korupsi, rasanya badan gak enak, soalnya di sekitarnya begitu semua.

Pertanyaannya, beranikah Indonesia?

Wacana hukuman mati untuk koruptor di Indonesia sebenarnya adalah wacana lama. Tapi tidak pernah berhasil dilaksanakan. Ya, gimana… wong untuk itu harus dibuat UU-nya dulu. Yang membuat adalah DPR. Dan di mana koruptor yang banyak? Ya, di DPR juga. Mana mau maling nangkap maling…

Selain itu, perangkat hukum kita seperti KPK juga gak bersih-bersih amat. Bukannya sibuk membangun sistem supaya orang tidak bisa korupsi, eh malah main politik. Kebayang kalau mereka main tangkap sembarang orang hanya karena tidak senang. Orang tidak bersalah, bisa hilang nyawanya.

China bisa dengan mudah membuat produk UU hukuman mati untuk koruptor, itu karena mereka adalah negara satu partai. Jadi lebih mudah membuat peraturan.

Sedangkan di Indonesia, ada banyak partai. Banyak kepentingan. Mau bikin produk UU aja berantemnya gak selesai-selesai. Tapi pas gajian, nagih duluan.

Para anggota DPR yang mayoritas dari partai itu, punya konsep yang mirip-mirip Julius Caesar, “Vini Vidi Vici, Kami datang, kami lihat, kami taklukkan”. Tapi mereka modifikasi dengan kalimat, “Kami datang, kami absen, kami ngorok di ruangan dan kami pulang…”

Jokowi sendiri sudah mulai menyatakan, Kalau rakyat yang minta, bisa saja ada hukuman mati untuk koruptor. Tapi ya itu, siap gak DPR nya bikin UU?

Dan wacana ini kembali bergulir dengan harapan tinggi, meski gak pernah terjadi. Ya mirip-mirip Timnas Sepakbola Indonesia yang selalu menjanjikan juara, tapi selalu pulang dengan tangan hampa. Kalah sudah biasa, kalau menang itu baru luar biasa…

Sulit sekali negeri ini menghukum mati para koruptor di sini. Bahkan Fadli Zon, petinggi partai Gerindra, pernah tanpa malu-malu menyebut kalau korupsi itu oli pembangunan. Kalau gak ada korupsi, negara gak jalan.

Nah lho… Gimana mau bikin UU?

Mungkin hanya di Indonesia koruptor diperlakukan seperti raja. Dikasih baju kebesaran warna oranye, terus dadah-dadah di depan kamera dengan senyum lebar di wajah.

Nanti di depan pengadilan yang laki pake kopiah dan yang wanita pake kerudung mendadak syariah. Lalu di penjara, mereka bisa bayar untuk dapat ruangan mewah bahkan bisa jalan-jalan dan nginap di hotel mewah.

Dan kalau sudah tua, dikasih grasi karena sakit mulu dan membebani keuangan negara.

Jumlah rupiah merawat koruptor di negeri ini jauh lebih besar dari jumlah rupiah yang dikorupsinya. Sedangkan di China, peluru saja harus dibayar oleh keluarganya yang sudah dimiskinkan semiskin-miskinnya…

Masih jauh panggang dari api bicara hukuman mati untuk para koruptor. Jangankan melawan China, melawan negara kecil seperti Vietnam aja kita kalah.

Sedih, kan?

Markibong…

Komentar